Tujuan
Pendidikan Diversifikasi
"Merubah
Keadaan (Nasib)"
Ahmad Hairudin
NIM. 2117153
Kelas: A
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hidup adalah sebuah proses aktifitas manusia yang berjalam
menurut waktu (disebut usia) diwarnai dengan berbagai kegiatan yang
bersangkutan,sehingga akan memberikan corak atau warna mengenaikualitas
seseorang memanfaatkan waktu tersebut.
Islam sebagai agama, diturunkan Allah SWT bukan hanya untuk mengisi atau
menuntun manusia dalam perjalan waktu hidupnya sebagai alat peribadatan ritual
saja sebagaimana persepsi kebanyakan manusia,namun juga merupakan alat
bagaimana aktivitas manusia dapat dijadikan sebagai bentuk beribadatan yang
mempunyai nilai dalam pandangan Allah SWT.
Allah swt juga
memerintahkan kepada semua manusia untuk merubah keadaan mereka yang lebih baik
dan Allah juga akan merubah keadaan mereka dari yang buruk ke yang baik
begitupun sebaliknya dari yang baik ke yang tidak baik dan dari yang baik akan
menjadi lebih baik dan yang buruk akan menjadi lebih buruk keadaannya(sesuai
kehendak-Nya) dengan cara berusaha.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud
dengan pengertian nasib?
2. Apa dalil yang
menjelaskan berusaha merubah keadaan supaya lebih baik?
3. Bagaimana yang dimaksud
usaha itu wajib, hasil itu pasti ?
C. Tujuan Penulisan
Makalah
1. Untuk mengetahui
pengertian dari nasib.
2. Untuk dapat mengetahui
dalil merubah keadaan yang lebih baik
3. Untuk dapat mengetahui
usaha yang wajib dan usaha yang pasti.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Nasib
Dalam kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) definisi takdir adalah ketetapan, ketentuan dan nasib.
Sedangkan nasib menurut KBBI adalah sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan atas
diri seseorang, takdir.
Jadi, secara bahasa
Indonesia sendiri makna takdir dan nasib itu similar alias sama.
Untungnya kedua kata di atas adalah sama² kata serapan dari Bahasa Arab. Dalam
bahasa Arab kata taqdir adalah bentuk infinitif dari kata qoddaro yuqoddiru
yang artinya menentukan, menetapkan, menghukumi, sesuai dengan ketetapan dan
ketentuan. Jika dikatakan taqdîru amalin artinya waznuhu hasaba qîmatihi
(menimbang amalan tersebut sesuai dengan bobotnya)
Sedangkan kata nasib
dalam bahasa Arab, berasal dari kata nashîb (نصيب) yang artinya
adalah bagian dari sesuatu/bagian sesuatu yang telah ditentukan baginya.
Kedua kata di atas, taqdir dan nashib terdapat dalam Al-Qur‟ân.
Mereka itulah yang
memperoleh nashib (bagian) dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha
cepat perhitungan-Nya.[1]
B. Dalil
Merubah Nasib
Nash QS. Ar-Ra‟d / 13
ayat 11
لَهُ مُعَقَّبَا تٌ مِنْ
بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِ الله أِنَّ
اللهَ لَا يُغَيّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا
بِأَ نْفُسِهِمْ وَ اِذَا أَرَادَاللهَ بِقَوْمٍ سُوْ ءًا فَلَا
مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْ نِهِ مِنْ وَالٍ
Artinya: “ Baginya
(manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya
bergiliran,dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap suatu kaum,maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak
ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Qs. Ar-Ra‟d/ 13 :
11)
i) Tafsir Al-Mishbah
Siapapun,baik yang
bersembunyi dimalam hari atau berjalan terangterangan di siang
hari,masing-masing ada baginya pengikut-pengikut,yakni malaikat-malaikat atau
makhluk yang selalu mengikutinya secara bergiliran,di hadapannya dan juga di
belakangnya,mereka,yakni para malaikat itu menjaganya atas perintah Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum dari positif ke negatif
atau sebaliknya dari negatif ke positif sehingga mereka mengubah apa yang ada
pada diri mereka,yakni sikap mental dan pikiran mereka sendiri. Dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,tetapi ingat bahwa Dia tidak
menghendakinya kecuali jika manusia mengubah sikapnya terlebih dahulu. Jika
Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,maka ketika itu berlakulah
ketentuan-Nya yang berdasar sunnatullah atau hukumhukum kemasyarakatan yang
ditetapkan-Nya bila itu terjadi,maka tidak ada yang dapat menolaknya dan
pastilah sunnatullah menimpanya;dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
yang jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Dia.
ii) Tafsir Al-Maraghi
Manusia dikelilingi
Empat malaikat . manusia mempunyai para malaikat yang bergiliran mengawasinya
di waktu malam dan siang hari, menjaganya dari bahaya ,dan mengawasi
kedaannya,sebagaimana para malaikat yang lain bergantian mengawasi
perbuatannya. Ada para malaikat di waktu malam dan ada para malaikat diwaktu
siang. Dua masing-masing berada disamping kanan dan kiri untuk mencatat
perbuatannya. Dan dua lain menjaga dan memeliharanya satu dari belakang
dan satu lagi dari depan. Jadi ,dia diapit oleh 4 malaikat diwaktu
siang dan 4 malaikat diwatu malam secara bergantian , 2 malaikat penjaga dan 2
malaikat pencatat amal.
Perkara pencatatan
tidak Mustahil bagi akal. Para malaikat itu menjaga manusia dengan
perintah,izin,dan
pemeliharaan Allah Ta‟ala).
Ibnu Abbas mengatakan ,mereka adalah para malaikat yang mengawasi di waktu
malam, mencatat perbuatan manusia, dan menjaganya dari depan dan belakangnya.
Penjagaan ini atas perintah dan izin Allah , karena tidak ada seorangpun
diantara para malaikat dan makhluk lain yang dapat melindungi seseorang dari
ketetapan Allah atasnya kecuali dengan perintah dan izin-Nya. Maka
jika datang takdir Allah, para malaikat itu meninggalkannya. Ali mengatakan
tidak ada seorang hambapun kecuali Dia disertai oleh para malaikat yang
menjaganya dari tertimpa dinding,jatuh kesumur,dimakan binatang buas,tenggelam
atau terbakar. Tetapi, jika takdir datang,mereka akan meninggalkannya.
Kezaliman : Pertanda
Rusaknya Kemakmuran ”sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada
suatu kaum”,berupa nikmat serta kesehatan,lalu mencabutnya dari
mereka,”sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”,seperti
kezaliman sebagian mereka terhadap sebagian yang lain,dan kejahatan yang
menggerogoti tatanan masyarakat serta menghancurkan umat,seperti bibit penyakit
menghancurkan individu
“Apabila Allah
menghendaki keburukan bagi suatu kaum” seperti penyakit kemiskinan dan musibah
lain yang di sebabkan oleh olah mereka sendiri, maka tidak ada seorangpun yang
dapat melindungi mereka dari padanya, tidak pola menolak apa yang telah
ditakdirkan Allah kepada mereka.
Mereka tidak mempunyai –selain Allah ta‟ala-seorang yang dapat menolong
mereka, sehingga mendatangkan manfaat dan menolak kemudaratandari mereka tuhan
– tuhan yang mereka jadikan tidak dapat melakukan sedikitpun dari semua itu,
tidak pula dapat menolak bahaya dari dirinya sendiri, lebih-lebih
menolaknya dari yang lain. [2]iii) Tafsir
Ibnu Katsir
“Bagi mnusia ada
malaikat –malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya” . yakni seorang hamba memiliki sejumlah malaikat yang datang
bergantian. Malaikat itu menjaganya malam dan siang serta memeliharanya dari
aneka keburukan dan kejadian. Malaikat lainpun datang bergantian untuk menjaga
amal hamba baik yang baik maupun yang buruk.
“ Mereka menjaganya
atas perintah Allah.” Mereka menjaganya atas perintah Allah dengan seizin Allah
.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mreka merubah
yang ada pada diri mereka sendiri.“ ibnu Abbas Hatim meriwayatkan dari ibrahim,
dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah satu seorang nabi Bani
Israil : katakanlah
kepada kaummu ,” Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah penhuni suatu
rumah ang berada dalam ketaatan kepada Allah,kemudian mereka beralih kepada
kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan dari mereka apa yang
mereka cintai kepada apa yang mereka benci.” Kemudian ibrahim berkata:
pembenaran atas pernyataan itu terdapat pada kitab Allah
,”sesungguhnya Allah tidah mengubah keadaan suatukaum sehingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
C. Aplikasi dalam
kehidupan sehari- hari
Dari Qs. Ar-Ra‟d ayat
11 ini dapat kita praktikan dalam kehidupan seharihari yakni ketika akan
melakukan sesuatu selalu diawali dengan niat dibarengi dengan do‟a dan dengan
usaha yang sungguh-sungguh untuk menggapai sesuatu atau cita-cita yang kita
inginkan, berdoa dengan sungguh-sungguh agar usaha yang kita lakukan itu
berjalan dengan baik dan lancar, berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu amal
karena Allah telah memerintahkan kepada malaikat untuk mengawasi dan menjaga
kita di waktu siang hari dan malam hari dimanapun kita berada.
D. Aspek Tarbawi
1. Perteballah keimanan
kita kepada Allah SWT; kepada malaikat-malaikat-Nya; kepada kitab-kitab-Nya;
kepada Rasul-rasul-Nya; kepada Hari Akhir serta kepada qadha dan qadar
(Takdir).
2. Allah telah
memerintahkan malaikat untuk mengawasi, menjaga serta mencatat amal perbuatan
kita,maka berhati-hatilah dalam segala hal.
3. Janganlah khawatir atau
takut kepada sesama makhluk cipatan-Nya karena Allah telah mengirimkan malaikat
malam dan siang untuk menjaga kita,maka takutlah hanya kepada Allah
SWT semata.
4. Hendaklah kita selalu
berdoa dibarengi dengan niat serta berusaha agar apa yang kita inginkan itu
tercapai
5. Hendaknya kita harus
berusaha mencapai kehidupan yang lebih bahagia dan lebih maju, tetapi kitapun
mesti insaf bahwa tenaga kita sebagai insan amat terbatas.
6. Hendaknya kita harus
berusaha sendiri merubah nasib kepada yang lebih baik,mempertinggi mutu diri
dan mutu amal ,melepaskan diri dari perbudakan dari yang selain Allah.[3]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari makalah ini yang
membahas tentang “Merubah Keadaan (Nasib)” dengan sub
judul “ada usaha nyata untuk merubah nasib” yang termuat dalam Al-
Qur‟an surat Ar-ra‟d/13
ayat 11 dapat disimpulkan bahwa setiap makhluk ciptaan Allah
itu diawasi dan dijaga oleh dua malaikat yaitu malaikat yang berada disamping
kanan dan kiri ( malaikat pencatat amal) serta dua malaikat lain
menjaga dan memeliharanya (didepan dan dibelakangnya). Jadi semua makhluk
ciptaan Allah itu diapit oleh empat malaikat di waktu siang hari dan empat
malaikat di waktu malam hari secara bergantian.yakni dua
malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat amal dengan seizin Allah SWT.
Kemudian Allah juga memerintahkan kepada makhluk ciptaan-Nya supaya berusaha
untuk merubah nasibnya baik dari yang buruk ke yang jahat begitupun sebaliknya
dari yang baik ke yang buruk atas kehendak-Nya. Dan jika Allah menghendaki
keburukan maka tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya.
Kita sebagai seorang
muslim sudah sepatutnya harus mempercayai kepada takdir yang telah ditetapkan
Allah SWT kepada kita ,maka kita tidak boleh menyerah
saja kepada takdir. Kita mesti tahu bahwa Allah tidak akan merubah nasib
kita,kalau kita sendiri tidak berusaha merubahnya. Oleh sebab itu, maka didalam
segala kegiatan hidup,kita tidak pernah melepaskan ingatan kita kepada
Tuhan,sehingga apapun yang bertemu ,namun jiwa kita telah bersedia
menghadapinya dan tidak ada pelindung kita selain daripada Allah SWT .
DAFTAR PUSTAKA
Amirus Sodi, Konsep
Kesejahteraan dalam Islam, Jurnal Ekonomi Syariah,
EQUILIBRIUM, Vol.
3, No. 2, Desember 2015
https://alwasathiyah.com/2017/06/12/qa-perbedaan-antara-takdir-dan-nasib/
diakses pada hari rabu, 3 okktober 2018, pukul 22:29
Syekh Muhamad Musthafa. 2004. Terjemah Tafsir Al-Maraghi,
(Yogyakarta : Sumber Ilmu.