MAKALAH
ALI
IMRAN AYAT 18 : KESAKSIAN ALLAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.S.I

Disusun oleh:
MAHARANI
RAHMAWATI ( 2117008 )
Kelas
: C
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Ilmu
merupakan pengetahuan, sedangkan pengetahuan merupakan informasi yang
didapatkan dari segala sesuatu yang diketahui manusia. Itulah bedanya dengan
ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan pengetahuan yang berupa informasi yang
dialami sehingga menguasai pengetahuan tersebut yang menjadi suatu ilmu.
Di
kalangan masyarakat dari dulu sampai sekarang ini, dari siswa sampai mahasiswa hampir
tiap harinya pergi ke sekolah, ke kampus atau ketempat lainnya untuk menuntut
ilmu,dan untuk menambah pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan lebih penting
dibandingkan apapun.
Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang
menerangi setiap orang. Dengan ilmu pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi
terang. Sebaliknya tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap
gulita. Oleh krena itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu
pengetahuan yang memadai.
Perkembangan
ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang
pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengatahuan yang lebih khusus lagi
seperti spesialis-spesialis misalnya seperti sains.
Sains
sendiri merupakan ilmu pengetahuan manusia yang membahas tentang alam, yang
sudah di teliti oleh para ahli sains dengan menggunakan langkah-langkah observasi,
perumusan masalah, menyusun hipotesis, menguji hipotesis melalui eksperimen,
penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep.
Surat Ali-Imran ayat 18 menjelaskan
tentang kesaksian Allah SWT yang artinya:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah) melainkan Dia (yang berhak disembah). Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan sangat tinggi dibanding dengan yang lainnya, Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang
menerangi setiap orang. Dengan ilmu pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi
terang. Sebaliknya tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap
gulita. Oleh karena
itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan yang
memadai
B.
Rumusuan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang akan
dikaji dalam makalah ini adalah:
1.
Apa teori ilmu pengetahuan dan sains?
2.
Apa dalil orang berilmu dalam kesaksian Allah SWT?
3.
Bagaimana kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui
tentang teori ilmu pengetahuan dan sains.
2. Untuk mengetahui
dalil orang berilmu dalam kesaksian Allah SWT.
3. Untuk mengetahui
kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori ilmu
pengetahuan dan sains
Ø Ilmu Pengetahuan
Kata ilmu
secara bahasa berarti kejelasan. Oleh karena itu, segala bentuk yang berasal
dari akar kata tersebut selalu merujuk pada kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuk dan
derivasinya terulang sebanyak 854 kali di dalam al-Qur’an. Kata tersebut
biasanya digunakan untuk menunjukkan proses pencapaian pengetahuan dan objek
pengetahuan sekaligus. Dalam pandangan al-Qur’an ilmu adalah suatu keistimewaan
yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi
kekhalifahannya.[1]
Dalam kamus
bahasa Indonesia ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang
yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan
untuk menerangkan gejala tertentu dibidang pengetahuan.[2]
Menurut
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728 H) mengatakan, “Ilmu adalah apa
yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa
oleh Rasulullah. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah namun
dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan
ilmu perdangan.[3]
Ilmu adalah
bagian dari pengetahuan, sehingga setiap ilmu sudah barang tentu adalah
pengetahuan, dan sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Pengetahuan
yang bukan ilmu itu antara lain yaitu seni dan humaniora, tetapi ada juga seni
yang sekaligus juga ilmu, seperti ilmu administrasi dan lainnya.[4]
Sedangkan
pengertian pengetahuan (knowledge) adalah salah satu perlengkapan dasar manusia
di dalam menempuh kehidupan ini. Ternyata kepribadian manusia itu sangat dipengaruhi
oleh kualitas dan kuantitas pengetahuan yang diperolehnya.[5]
Pengertian
ilmu pengetahuan sendiri adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam
semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai
usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu.[6]
Ilmu
pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup,
baik di dunia maupun akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah SWT mengajarkan
kepada Adam dan semua keturunannya agar menuntut ilmu pengetahuan. Dengan ilmu
pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik
tugas khilafah maupun tugas ubudiah. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh,
menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.[7]
Berbicara tentang
ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan al-Qur’an, ada persepsi bahwa
al-Qur’an itu adalah kitab ilmu pengetahuan. Persepsi ini muncul atas dasar
isyarat-isyarat al-Qur’an yang berkaitannya dengan ilmu pengetahuan. Dari
isyarat tersebut sebagian para ahli berupaya membuktikannya dan ternyata
mendapatkan hasil yang sesuai dengan isyaratnya, sehingga memperkuat persepsi
tersebut.
Dalam hal
ini maka hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan tidaklah hanya sekedar
diukur dengan banyaknya ditemukan ilmu pengetahuan yang berasal dari
penyimpulan ayat, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah terhadap
isyarat ayat. Akan tetapi pembahasan tersebut hendaknya diletakkan pada
proporsi yang lebuh tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an.[8]
Dalam
pandangan al-Qur’an manusia mempunyai potensi untuk meraih ilmu pengetahuan
serta mengembangkannya. Oleh karena itu banyak ayat yang memerintahkan manusia
untuk menempuh berbagai cara untuk terwujudnya haal tersebut.
Al-Qur’an
mengisyaratkan bahwa ilmu terdiri dari dua macam, pertama adalah ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia yang dinamai
dengan ‘ilmu laduni. Sedangkan yang kedua adalah ilmu yang diperoleh manusia
karena ushanya, ilmu ini dinamai ‘ilmu
kasbi.
Terhadap
yang kedua ini al-Qur’an lebih banyak isyaratnya dari pada yang pertama.
Pembagian ini berangkat dari pandangan al-Qur’an bahwa ada hal-hal yang “ada”
tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia itu sendiri, karena dalam
alam wujud ini terdapat “wujud” yang tidak dapat dijangkau oleh indera.[9]
Ø
Sains
Sains
adalah produk manusia seperti halnya musik, film, lukisan, patung, bangunan,
dan banyak lagi lainnya. Begitu mendengar alunan suara musik, seseorang dapat
langsung mengenali apakah ia tipe musik keroncong, dangdut, pop, jaz, rock,
klasik, atau yang lainnya. Demikian pula jika melihat film, lukisan, patung,
atau bangunan, orang juga dapat segera mengidentifikasi tipe apa objek yang
dilihatnya. Bahkan orang dapat mengenali lebih jauh, misalkan musik pop yang
didengarnya kategori menghibur, indah dan mendidik atau murahan, sekedar bunyi,
cengeng dan seronok.[10]
Menurut
kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-Garis Besar Program Pendidikan (GBPP)
dinyatakan:
Sains
merupakan hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan serta gagasan dan
konsep-konsep yang terorganisasi tentang alam yang ada disekitar, dimana hal
ini dapat diperoleh dari pengalaman melalui dan serangkaian proses kegiatan
ilmiah anatara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.[11]
Sains, menurut Baiquni
adalah himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai
konsensus para pakar, melalui penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil
analisis yang kritis terhadap data pengukuran yang diperoleh dari observasi
pada gejala-gajala alam.[12]
Secara
umum sains dipahami sebagai ilmu yang lahir dan berkembang lewat
langkah-langkah observasi, perumusan masalah, menyusun hipotesis, menguji
hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan
konsep. Dapat pula dikatakan bahwa hakikat sains adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari gejala-gejala melalui proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang
dibangun atas dasr sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah
yang tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep prinsip dan teori
yang berlaku secara universal.
Tujuan
pemberian mata pelajaran sains menurut Sumaji dan pengembangan adalah agar
siswa mampu memahami dan mengusai konsep sains serta keterkaitan dengan
kehidupan nyata. Siswa juga mampu menggunakan strategi pembelajaran ilmiah
untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, sehingga lebih menyadari dan
mencintai kebesaran serta kekuasaan Penciptanya.[13]
B. Dalil Orang
Berilmu dalam Kesaksian Allah SWT
لْحَكِيمُا لْعَزِيزُا هُوَ لاَّإِ لَهَ إِ لاَ بِالْقِسْطِ قَآئِمَاً لْعِلْمِا لُواْوَأُوْ الْمَلاَئِكَةُوَ هُوَ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنَّهُ اللّهُ شَهِدَ
“Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) melainkan Dia (yang berhak disembah). Yang menegakkan keadilan. Para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak
ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.”
(Ali-Imran: 18).
Tafsir
ayat pada surat Ali-Imran: 18 ini adalah persaksian paling mulia yang bersumber
dari Raja Yang Maha agung, dan dari malaikat serta orang-orang yang berilmu,
atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksikan yaitu pengesaan Allah dan
penegakkanNya akan keadilan. Itu semua mengandung persaksian atas seluruh
syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena syariat dan ajaran itu dasar
dan pondasinya adalah tauhidallah dan
pengesaanNya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaanNya dalam sifat-sifat keagungan,
kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan dan kemuliaan, juga dengan sifat
kedermawanan, kebajikan, kasih saying, perbuatan baik, keindahan, dan dengan
kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari
makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya atau mereka
sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syar’I dan muamalah
serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu adalah
keadilan yang tidak adakezhaliman padanya, tidak ada kesewenangan-wenangan
dalam keadaan apa pun, sebaliknya semua itu berada pada puncak dari hikmah dan
kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih maupun buruk, semua itu
adalah keadilan.[14]
C.
Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Kehidupan
Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai cahaya yang
menerangi setiap orang. Dengan ilmu pengetahuan, jalan hidup ini akan menjadi
terang. Sebaliknya tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap
gulita. Oleh krena itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu
pengetahuan yang memadai.[15]
Sehubungan dengan kedudukan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan manusia, Al-Ghazali mengemukakan ucapan Umar bin Al-Khaththab,
“Wafatnya 1000 abid (ahli ibadah) yang beribadah malam dan berpuasa siang,
lebih ringan dari pada meninggalnya satu orang berilmu yang tahu halal dan
haram.” Tahu halal dan haram yang dimaksudkan di sini bukanlah sekedar tahu tanpa amal, melainkan
mengamalkannya, dengan cara mencari yang halal dan menjauhi yang haram. Sebab
pada hakikatnya, orang yang tahu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya.
Al-Ghazali menulis bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa
Nabi Sulaiman bin Nabi Dawud telah disurh memilih antara ilmu, harta, dan kerajaan. Ia memilih ilmu.
Lalu, ia dianugerahi harta dan kerajaan bersama dengan ilmu. Dengan ilmu,
seseorang dapat memiliki harta yang banyak dan dapat pula melaksanakan
tugas-tugas pemerintahan sehingga mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin.
Jadi, ilmulah sebenarnya yang paling penting.
Sehubungan dengan perbandingan ilmu dengan harta, Ali
bin Abi Thalib berkata, “Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu dapat menjagamu,
sedangkan harta, engkaulah yang menjaganya. Ilmu berkuasa, sedangkan harta
dikuasai. Harta itu berkurang apabila di belanjakan, sedangkan ilmu itu
bertambah apabila disiarkan. Orang berilmu lebih utama dari pada orang yang
hanya berpuasa, shalat, dan berjihad. Apabila seorang berilmu meninggal,
terdapatlah suatu lowongan dalam Islam yang hanya dapat diisi oleh
penggantinya.”
Ungkapan Ali di atas menunjukkan keutamaan dan
kedudukan ilmu dalam kehidupan manusia yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Baik ayat, hadis, maupun fenomena
alam telah menjelaskan hal itu. Oleh sebab itu, seharusnya umat Islam berusaha
keras untuk mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, baik untuk kepentingan
pribadi maupun sosial, baik untuk dunia maupun akhirat.[16]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Seperti yang diuraikan diatas
berdasarkan surat Ali Imran ayat 18 menjelaskan tentang kesaksian Allah SWT.
Yang didalamnya mencakup tentang ilmu pengetahuan, kata ilmu
dengan berbagai bentuk dan derivasinya terulang sebanyak 854 kali di dalam
al-Qur’an. Dalam pandangan al-Qur’an ilmu adalah suatu keistimewaan yang
menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi
kekhalifahannya.
Setiap umat manusia diwajibkan untuk
menuntut ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia, jalan hidup ini akan menjadi terang. Sebaliknya
tanpa ilmu, orang akan merasa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Oleh krena
itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan yang
memadai.
Kedudukan ilmu pengetahuan lebih tinggi
dibandingkan apapun. Sehingga banyak orang-orang yang berbondong-bondong untuk
mecari ilmu pengetahuan, dengan ilmu dapat mengangkat derajat manusia. Di dalam
ayat-ayat al-Qur’an pula banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang sudah
dipercayai kebenaran dan kesuciannya. Sehingga Allah SWT menyuruh agar umat
manusia mempelajari ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Munir, Ahmad. 2008. Tafsir
Tarbawi mengungkap pesan al-Qur’an tentang pendidikan.
Yogyakarta : TERAS Perum POLRI Gowok
Devitra,
Ivan Eldes.
Ilmu dan Hakekat Ilmu
Pengetahuan dalam Nilai Agama, hlm.159-160
bin Abdul Qadir Jawas, Yazid. 2016.Menuntut
Ilmu Jalan Menuju Surga
Panduan Menuntut Ilmu.
Bogor : Pustaka At-Taqwa
Shafiie,
Inu Kencana.2000.
Al-Qur’an dan Ilmu Administrasi.
Jakarta : PT
Rineka Citra
Abdullah,
Abdurrahman Saleh.
2005. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an.
Jakarta : PT Rineka Citra
Umar,
Bukhari.
2014. Hadis Tarbawi Pendidikan
dalam Perspektif Hadis.
Jakarta : Amzah
Purwanto,
Agus. 2008. Ayat-Ayat Semesta Sisi-sisi
Al-Qur’an yang Terlupakan. Bandung : PT. Mizan Pustaka
Jamal Fakhri, Sains dan
Teknologi dalam Al-Qur’an dan Implikasikanya dalam Pembelajaran, Ta’dib vol.XV
No.01.Edisi, Juni 2010
Muslich,
Mansur. 2007. KTSP(kurikulum Tingkat satuan pendidikan) pemahaman & pengembangan. Jakarta : bumi aksara
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’ad, Syaikh.
2016. Tafsir Al-Qur’an (1) Surat: Al-Fatihah-Ali
Imran. Jakarta : Darul Haq
Umar,
Bukhari. 2014. Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif
Hadis. Jakarta : Amzah
[1] Ahmad Munir, Tafsir
Tarbawi mengungkap pesan al-Qur’an tentang pendidikan (Yogyakarta : TERAS
Perum POLRI Gowok 2008) hlm. 80
[3] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga Panduan Menuntut Ilmu (Bogor : Pustaka At-Taqwa, 2016) hlm. 21
[5] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta : PT Rineka
Citra, 2005) hlm. 89-90
[6]
Ivan Eldes Dafrita, Ilmu dan
Hakekat Ilmu Pengetahuan dalam Nilai Agama, hlm.160
[7]
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif
Hadis (Jakarta : Amzah, 2014) hlm.5
[8]
Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi Mengungkap Pesan al-Qur’an
tentang pendidikan (Yogyakarta : TERAS Perum POLRI Gowok 2008) hlm. 67-68
[9]
Ibid., hlm. 83
[10]
Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta
Sisi-sisi Al-Qur’an yang Terlupakan (Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2008) hlm.187-188
[12]
Jamal Fakhri, Sains dan Teknologi
dalam Al-Qur’an dan Implikasikanya dalam Pembelajaran, Ta’dib vol.XV
No.01.Edisi, Juni 2010
[13]
Mansur muslich, KTSP(kurikulum Tingkat satuan pendidikan) pemahaman & pengembangan (Jakarta : Bumi aksara,2007).hal
:109
[14]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir
as-Sa’ad, Tafsir Al-Qur’an (1) Surat:
Al-Fatihah-Ali Imran (Jakarta : Darul Haq, 2016) hlm. 417-418
[15]
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif
Hadis (Jakarta : Amzah, 2014) hlm.21
[16]
Ibid.,hlm.23-24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar