TUJUAN
PENDIDIKAN "GENERAL"
"CARI
RIDHA ALLAH SWT"
QS. AL
BAYYINAH AYAT 8
Mohammad
Syarifudin
NIM.
2117263
Kelas A
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
IAIN PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Seiring berjalannya waktu pengertian dan pemahaman
orang tentang Ridho itu sangat beraneka ragam, ada juga yang bahkan tidak tahu
makna dari ridho itu sendiri apa, dan ada pula yang tau makna ridho yang
sebenarnya tapi tidak mengamalkannya dalam kehidupan.
Ridho Allah adalah dambaan setiap muslim yang
menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas diperebutkan oleh manusia.
Tanpa ridho Allah,hidup kita akan hampa,kering,tidak dapat merasakan nikmat
atas segala apa yang telah ada di genggaman kita,bermacam masalah silih
berganti menyertai hidup kita. Harta berlimpah,makanan berlebih namun ketika
tidak ada ridhoNya,semua menjadi hambar. Tidak tahu kemana tujuan hidup,merasa
bosan dengan keadaan, seolah hari berlalu begitu saja,begitu cepat namun tanpa
disertai dengan perubahan kebaikan hari demi hari.
Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan
mencoba mengkaji ayat-ayat tentang mecari ridho Allah dalam surat Al-Bayyinah
ayat 8. Tentunya dengan mengkaji ayat-ayat tersebut diharapkan kita semakin
bertambah pengetahuan serta menambah iman dan ketaatan kita terhadap kekuasaan
Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Hakikat Ridha ?
2. Bagaimana Dalil Cari
Ridha Allah swt ?
3. Bagaimana Akhir Perjuangan
Manusia Dunia Akhirat ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hakikat ridha
2. Untuk
mengetahui dalil tentang mencari ridha Allah swt
3. Untuk mengetahui akhir perjuangan
manusia dunia akhirat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat
Ridha
Ridho itu artinya rela, mencari Ridho Allah artinya
mencari apa yang membuat Allah rela pada kita. Kata ridha berasal dari
bahasa Arab yang makna harfiahnya mengandung pengertian senang, suka, rela,
menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh , sedang lawan
katanya adalah benci atau tidak senang. Kata ridha ini lazim dihubungkan dengan
eksistensi Tuhan dan manusia, seperti Allah ridha kepada orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh, sedangkan dengan manusia seperti seorang ibu ridha
anaknya merantau untuk menuntut ilmu , ridha erat kaitannya dengan sikap dan
pemahaman manusia atas karunia dan nikmat Allah.
Ridha secara bahasa menerima dengan suka hati, secara
istilah diartikan sikap menerima atas pemberian dan anugerah yang diberikan
oleh Allah dengan di iringi sikap menerima ketentuan syariat Islam secara ikhlas dan
penuh ketaatan, serta menjauhi dari perbuatan buruk(maksiyat), baik lahir
ataupun bathin.[1]
B. Dalil
Mencari Ridha Allah SWT (Q.S AL Bayyinah 98:8)
جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ
عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾
8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga
'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang
demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
a. Tafsir
Jalalain
جَزَاؤُهُمْ
عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ (Balasan mereka disisi Tuhan mereka ialah Surga’and) sebagai
tempat tinggal mereka تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Ridha terhadap
mereka) karena ketaatan mereka kepada-Nya وَرَضُوا عَنْهُ (dan
mereka pun Ridha kepada-Nya)yakni merasa puas akan pahala- ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (Yang demikian itu adalah-balasan-
bagi orang yang takut kepada Tuhannya) maksudnya takut kepada siksaan-Nya, yang
karena itu lalu ia berhenti dari mendurhakai-Nya.[2]
b. Tafsir Al-Maraghi
جَزَاؤُهُمْ
عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ۖ
Mereka akan Allah beri pahala berupa surga yang akan
menjadi tempat mereka untuk selamanya. Di dalam surga itu terdapat berbagai
kenikmatan dan kelezatan yang jauh lebih sempurna dibanding kenikmatan dan
kelezatan dunia.
Kita wajib beriman akan adanya surga, dan kita tidak
diperbolehkan memikirkan hakekat surga, letak surga, dan bagaimana cara kita
bersenang-senang di dalam surga. Sebab, yang mengetahui hakikat surga hanyalah
Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Surga termasuk sesuatu yang
ghaib, hanya Allah sendirilah yang mengetahui.
Kemudian, Allah menjelaskan sebab-sebab mereka
menerima pahala. Karenanya, Allah berfirman dalam ayat berikut.
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ
Mereka mendapat ridha dari Allah karena mereka
telah berpegang pada batasan-batasan syariat-Nya. Sebagai hasil dariperbuatan
itu, mereka menjadi terpuji, dan akhirnya mendapat keridhaan Allah, baik di
dunia maupun di akhirat.
ذَٰلِكَ
لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Pahala yang baik itu hanya diperuntukkan bagi orang
yang hatinya penuh dengan taat dan rasa takut kepada Allah SWT.
Ayat ini mengandung ancaman kepada orang-orang yang
takut kepada selain Allah, dan peringatan keras kepada orang-orang
yang menyekutukan Allah di dalam amal perbuatannya. Ayat ini juga merupakan
perintah atau anjuranuntuk ber-dzikir dan takut kepada Allah disetiap
mengerjakan perbuatan yang baik. Sehingga, perbuatan-perbuatanyang dilakukan
itu benar-benar bersih dan ikhlas karena Allah.
Di dalam ayat ini juga terkandung isyarat yang
pengertiannya adalah, bahwa yang mengerjakan sebagian ibadah, seperti shalat
dan puasa yang hanya melakukan berbagai gerakan saja- tanpa adanya perasaan
takut kepada Allah, maka perbuatan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebab
orang meraih pahala yang telah Allah sediakan kepada hamba-hambaNya yang saleh
dan beriman. Sebagai sebabnya ialah, karena perasaan takut kepada Allah itu
sama sekali tidak ada di dalam hati mereka, dan hatinya tidak menjadi bersih.[3]
c. Tafsir
Al-Azhar
“ Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah
syurga-syurga tempat menetap.”itulah
pemberhentian dan penempatan terakhir, tempat istirahat menerima hasil ganjaran
dari kepayahan berjuang pada hidup yang pertama di dunia; “yang
mengalir dibawahnya sungai-sungai,” sebagai lambang kiasan dari
kesuburan dan kesejukan, tepung tawar untuk ketentraman (muthmainnah),
kesuburan yang tiada pernah kering; “ kekal mereka padanya
selama-lamanya,” nikmat yang tiada pernah kering rahmat yang tiada
pernah terhenti, tidak akan keluar lagi dari dalam nikmat itu ialah; “Allah
bridha kepada mereka,”Allah senang, Allah menerima mereka dengan tangan
terbuka dan penuh rahman, sebab tatkala di dunia mereka taat dan setia; “Dan
mereka pun ridha kepadaNya,”ridha yang seimbang balas membalas, kontak
mengontak, bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Karena Iman dan
keyakinan jualah yang mendorong mereka memikul beban perintah Allah seketika
mereka hidup dahulu, tidak ada yang dirasa berat dan tidak pernah merasa
bosan. “Yang demikian itulah untuk orang yang takut kepada Tuhannya.”(ujung
ayat 8).
Dengan ujung ayat ini diperkuatlah kembali tujuan
hidup seorang muslim. Tuhan meridhai mereka, dan mereka pun meridhai Tuhan.
Tetapi betapapun akrab hubungannya dengan Tuhan, namun rasa takutnya kepada
Tuhan tetap ada. Oleh sebab itu maka rasa sayang dan rasa cinta kepada Tuhan,
ridha meridhai dan kasih mengasihi tidaklah sampai menghilangkan wibawa,
kekuasaan, bahkan keangkuhan Tuhan di dalam sifat keagungan dan ketinggianNya.
Sebab itulah maka si muslim mengerjakan suruh dan menghentikan tegah. Dia
sangat mengharapkan dimasukkan kedalam syurga, namun disamping itu dia pun
takut akan diazab Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.[4]
d. Tafsir Ibnu
Katsir
Allah SWT berfirman, ‘’balasan mereka di sisi tuhan
mereka,’’ yaitu pada hari kiamat nanti, ‘’ialah surga And yang mengalir
dibawahnya sungai – sungai;mereka kekal didalamnya selama-lamanya, ‘’yaitu
tidak pernah terhenti, terputus, dan kosong dari kenikmatan. ‘’Allah ridha
terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. ‘’Dan maqam ridha-Nya kepada
mereka lebih tinggi daripada semua kenikmatan besar yang telah
diberikan kepada mereka. ‘’Dan mereka pun ridha kepada-Nya,
‘’terhadap apa yang telah dia berikan kepada mereka, berupa karunia yang maha
luas. Firman Allah Ta’ala, ‘yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang
takut kepada tuhannya,’’ yaitu balasan ini hanyalah akan diterima oleh orang
yang takut dan takwa kepada Allah, serta mengabadi kepada- nya
seolah-olah dia melihat-Nya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah
r.a. bahwa Rasullulah saw. Bersabda yang artinya:
‘’maukah aku beritahukan kepadamu tentang makhluk yang
paling baik?” mereka menjawab, “Tentu saja, ya Rasulullah” Rasiuiiah
kemudian berkata, “adalah seorang yang memegang talikekang kudanya untuk di
pacu di jalan Allah; setiap kali terdengar suara teriakan mungsuh, dia segera
duduk di atasnya. Maukah aku beri tabukan lagi siapakah makhluk yang
bersabdah,”seseorang yang berada di tengah-tengah kambing gembala nya, namun
dia mengerjakan salat dan menunaikan zakat. Dan maukah aku beritahukan kepada
kalian makhluk yang paling buruk?” mereka menjawab, “tentu saja , ya
Rasulullah” kata rasulullah saw., ‘yaitu, seseorang yang diminta untuk
kepentingan agama allah, namun dia tidak mau memberikannya.”[5]
C. Akhir Perjuangan Manusia Dunia dan
Akhirat
1. Mempunyai rasa
takut yang tinggi kepada Allah, takut karena apa yang kita lakukan tidak
mendapat ridha dari Allah.
2. Harus menerima
apapun yang terjadi pada kita dengan lapang dada (ikhlas).
3. Tidak boleh mencela
pemberian Allah.
4. Harus mensyukuri
apapun yang kita miliki. Karena jika kita bersyukur, berarti Allah meridhoi
kita, dan akan menambah nikmah kepada kita.
5. Bersikap rendah
hati, tidak boleh sombong, karena pada hakikatnya semua yang kita miliki milik
Allah.
6. Selalu
berhati-hati dalam melakukan sesuatu, (melaksanakan perintah Allah). Jika kita
melakukan hal yang dilarang Allah, kita tidak akan mendapatkan ridha Allah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam Q.S Al-Bayyinah:8 Allah menjelaskan tentang
balasan orang-orang yang ridha kepada Allah. Jika orang sudah ridha
kepada Allah, dan melakukan sesuatunya hanya karna ingin mendapatkan ridha
Allah. Maka Allah akan meridhoi kita, dan akan memberikan balasan berlipat di
akhirat nanti. Seperti surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Hanyalah
untuk orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, dan mempunyai rasa takut
kepada Allah. Kita tidak boleh mengharapkan sesuatu kepada selain Allah. Hanya
Allahlah yang wajib kita takuti, dan melaksanakan segala perintahnya, serta
menjauhi apa yang dilarangnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamka, 1982, Tafsir Al-Azhar Juz XXX, Jakarta,
Pustaka Panjimas.
NasibAr-Rifai’I Muhammad, 2000 Kemudahandari
Allah RingkasanTafsirIbnuKatsirjilid 4. Jakarta: GemaInsani.
Al-Maraghi Ahmad Musthofa, 1993. Tafsir
Al-Maraghi 30. Semarang: PT. Karya
Toha Putra.
Al-mahadi, imam jalaluddindan A-Suyuti Imam jalaludin,
2010.TerjemahanTafsir
Jalalainberikutasbabunnuzuljilid 2.Bandung: percetakansinarbaruAlgensindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar