MAKALAH
TUJUAN PENDIDIKAN "GENERAL"
QS. Al-Baqarah, 2:201 (Memakmurkan
Kehidupan)
Disusun guna memenuhi tugas matakuliah
Tafsir Tarbawi
Dosen
Pengampu: Muhammad Hufron, MSI
Disusun
Oleh :
Nama : Nurul Afifah
NIM : 2117105
Kelas : Tafsir Tarbawi B
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN
PENDIDIKN AGAMA ISLAM
IAIN
PEKALONGAN
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Al
Quran merupakan kitab suci umat Islam. Kitab suci Al Quran diharapkan mampu
memberikan jawaban atas segala problem kehidupan manusia. Al Quran sebagai
pegangan hidup yang akan menunjukkan manusia ke jalan yang benar serta
menguntungkan baik di dunia maupun di akhirat.
Islam
dalam usaha memecahkan problematika kehidupan manusia,
justru bertitik tolak pada ajarannya
tentang manusia dan kehidupan ini
(aqidah). Islam tidak hanya mengurus
maslah moral dan ibadah saja melainkan suatu sistema yang padu di mana hukum
dan tata aturannya terkait satu sama lain. Hal ini mendorong manusia agar dapat
hidup sejahtera, bahagia didunia dan ahirat.
- Rumusan Masalah
- Apa pengertian dari kemakmuran dan kehidupan dunia?
- Bagaimana dalil memakmurkan kehidupan dunia?
- Bagaimana cara makmur untuk mencapai pintu damai sejahtera?
- Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui hakikat kemakmuran dan kehidupan dunia.
- Untuk memahami dalil tentang memakmurkan kehidupan dunia.
- Untuk mengetahui cara makmur mencapai pintu damai sejahtera.
BAB
II
PEMBAHASAN
- Kemakmuran dan Kehidupan Dunia
1.
Kemakmuran
Kemakmuran merupakan
suatu keadaan yang berkembang, berkemajuan, memiliki keberuntungan baik
dan/atau memiliki status sosial yang sukses.[1]Kemakmuran
seringkali mencakup kekayaan, tetapi juga meliputi faktor-faktor lain yang
mungkin saja terpisah dari kekayaan pada berbagai tingkat, misalnya kebahagiaan
dan kesehatan.
Menurut Ibnu Taimiyah, kemakmuran dalam
persepsi Islam bertujuan untuk mencapai moral kehidupan yang baik. Beliau juga
menambahkan bahwa akan banyak sekali kewajiban agama yang tidak dapat
dijalankan jika kemakmuran belum dicapai. Dan masyarakat yang tidak mencapai
kemakmuran secara otomatis sulit menjalankan agamanya secara kaffaah (totalitas)
termasuk dalam hal ibadahnya kepada Allah SWT. Sehingga oleh sebab itulah Islam
sangat menganjurkan agar umat manusia mau mencapai kehidupan dunia yang lebih
baik(hasanat fid duniya) karena hal itu berkorelasi dengan upaya mencapai
hasanat fil akhirat.
Sebab-sebab tidak tegaknya kemakmuran:
1)
Persatuan
dan Persaudaraan sesama manusia belum dapat ditegakkan, sehingga manusia hidup
saling curiga, saling berburuk sangka dan berpecah belah. Perpecahan akan
merusak setiap upaya mencapai kemakmuran dan oleh sebab itu Islam sangat
menolak perpecahan. Dan yang sangat jarang didengar oleh orang di Barat bahwa
Islam amat sangat mencintai perdamaian dan menganjurkan toleransi.
2)
Orientasi
manusia cenderung berlebihan kepada meraih kekayaan, sedangkan kekayaan itu
cenderung kepada menuntut hak sehingga belum terjadi keseimbangan dengan upaya
kemakmuran yang mendahulukan kewajiban.
3)
Sifat
egoisme individu lebih dominan ketimbang jiwa sosial di masyarakat, sehingga
orang hanya berpikir tentang dirinya sendiri dan enggan memikirkan nasib
sesamanya.
4)
Ketika
kekuasaan dijalankan tanpa mengenal arah dan tujuan, sehingga para pemimpin
berebut mencari kepuasan nafsu sementara rakyat dijadikan alat untuk mencapai
kepuasan para tuan-tuan tanah, raja-raja dan para pemilik modal.
2. Kehidupan Dunia
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia kata hidup memiliki arti bertempat tinggal, masih
ada, bergerak, dan bekerja. Sebagai contoh : “hidup di desa lebih tenang dari
pada hidup di kota”,“neneknya masih hidup,tapi kakeknya sudah meninggal”, “ulat
itu masih hidup”, penduduk di sekitar pelabuhan itu hidup dari berniaga; . Kata
hidup juga berarti masih berjalan, bernyawa, dan berlangsung ; “walaupun
ekonomi melemah akan tetapi perusahaan itu masih hidup”, “setiap yang hidup
pasti akan mati, kecuali Tuhan”, “yayasan tersebut hidup dari sumbangan
masyarakat”.[2]
Dalam
bahasa arab hidup berasal dari kata “hayya-yahya-hayatan”, yaitu hidup,
tinggal, kehidupan, ia merupakan lawan kata dari “maata-yamuutu-mautan” yang
artinya mati dan kematian.[3]
Sedangkan dalam bahasa inggris hidup berasal dari kata live yaitu tinggal,
langsung dan bergerak.[4]
Berdasarkan
dari beberapa makna tersebut maka dapat dikatakan bahwa hidup adalah
bergerak, berjalan, bernyawa, berdiam diri, tinggal, berlangsung dan bekerja.
Pada
hakikatnya kehidupan di dunia, yaitu:
1) Kehidupan dunia hanyalah permainan dan
senda gurau, perhiasan dan bermegah megah serta berlomba banyak tentang harta
dan anak-anak.
2) Perumpamaan kehidupan dunia seperti
tanam tanaman yang tumbuh subur menghijau kemudian menjadi kuning , layu dan
hancur. Dari tiada kembali menjadi tiada.
3) Kehidupan yang abadi adalah kehidupan
akhirat, disana ada ampunan dan keridhaan Allah dan ada pula azab yang pedih
bagi para pembangkang yang tidak percaya pada Allah.
4) Kehidupan dunia ini
adalah kehidupan yang penuh kepalsuan dan tipuan , hati hati dan
waspadalah menghadapinya.
5) Allah menganjurkan pada orang yang
beriman agar berlomba lomba meraih ampunan Allah dan syurga di akhirat yang
luasnya seluas langit dan bumi.
6) Syurga itu disediakan bagi orang yang
beriman pada Allah dan RasulNya.[5]
- Dalil Memakmurkan dalam Kehidupan
QS. Al-Baqarah (2:201)
Artinya:
"Dan di antara
mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Tafsir
Ayat
1. Tafsir Al-Maroghi
1) Dan
di antara mereka ada yang berdoa, "Hai Tuhan kami, berilah kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat!"
Ada sebagian kaum
Muslimin yang berdoa, "Hai Tuhan kami, berilah kami kehidupan yang baik
dan bahagia di dunia juga kehidupan yang baik dan diridhai di akhirat!"
Minta kehidupan yang
baik di dunia tentu dengan melakukan sebab-sebabnya yang sepanjang pengalaman
memang memberikan manfaat pada usaha, penghidupan yang teratur, pergaulan yang
baik dan berbudi pekerti sesuai dengan ajaran Agama dan adat istiadat yang
baik.
Dan minta kehidupan
yang baik di akhir adalah dengan iman yang bersih, amal shaleh dan berakhlak
luhur.
2) Dan
peliharalah kami dari siksa neraka.
Peliharalah kami dari
godaan hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan dosa yang menyebabkan ke neraka. Dan
hal-hal ini bisa diwujudkan dengan meninggalkan perbuatan maksiat, menjauhi
budi yang rendah dan kesenangan-kesenangan yang haram sekaligus melaksanakan
segala kewajiban yang ditentukan oleh Allah.
Dalam ayat ini
mengandung isyarat, berlebih-lebihan dalam Agama itu tercela dan menyalahi
fitrah. Allah telah melarang ahli Kitab berbuat demikian dan mencela mereka.
Dan Nabi saw, juga melarang demikian.[6]
Ayat ini mengandung
pengertian bahwa berlebih-lebihan dalam masalah agama dan terlalu keras/kaku
adalah satu hal tercela serta keluar dari fitrah manusiawi. Allah telah
melarang para ahli kitab melakukan hal ini dan secara tegas Ia mencela mereka,
sebagaimana Nabi saw. pun melarang perbuatan ini. Imam Bukhari meriwayatkan
sebuah hadis yang beliau terima dari sahabat Anas Ibnu Malik ra., bahwa
Rasulullah saw. memanggil seseorang yang keadaanya persis seperti anak ayam
yang dicabuti bulunya. Kemudian beliau bertanya kepadanya:
"Apakah
kamu berdoa sesuatu kepada Allah?" Si lelaki menjawab: 'Ya, saya sedang
berdoa: Ya Allah, saya tidak ingin menyiksa diriku di akhirat, maka dari itu
percepatlah siksaanku di dunia saja'. Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya:
'Subhanallah (Maha Suci Allah)! Jika dengan demikian maka anda tidak akan kuat
menahannya dan tidak akan bisa. Mengapa anda tidak mengatakan: 'Ya Allah,
anugerahilah kami dalam dunia ini kebaikan dan di akhirat kebaikan kebaikan
serta peliharalah kami daro siksa neraka', kemudian Rasulullah berdoa untuknya,
sehingga sembuhlah ia berkat doa Nabi dan pertolongan dari Allah."
ااُÙˆْÙ„َعِÙƒَ Ù„َÙ‡ُÙ…ْ Ù†َصِÙŠْبٌ Ù…ِÙ…َّا ÙƒَسَبُÙˆْا
Mereka adalah
orang-orang yang mehendaki kebahagiaan di dua tempat, yakni kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Allah menganugerahi mereka apa yang mereka minta melalui
usaha mereka. Sebab mereka meminta kebahagiaan duniawi dan meniti sebab
musababnya sebagaimana mereka menghendaki kebahagiaan akhirat, mereka
sungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkannya. Oleh karena itulah, mereka
memperoleh dari hasil usahanya ini kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ayat lain yang
mempunyai arti senada dengan ayat ini adalah firman Allah berikut ini:
(QS. Asy-Syura, 42:20)

Artinya:
"Barang
siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di
akhirat."
ÙˆَاللّÙ‡ُ سَرِÙŠْعُ الØِسَاب
Allah menepati pahala
setiap orang berusaha setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Sebab, memang
demikianlah Sunnatullah pada makhluk-Nya. Yaitu pemberian upah atau pahala
sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan tanpa memperlambat waktu pemberian.
Kelak, di akhirat semua orang akan melihat perhitungan masing-masing, dan hal
ini dapat Allah selesaikan dalam waktu yang singkat saja. Ada yang meriwayatkan
bahwa Allah swt. menghitung semua amal perbuatan manusia seluruhnya, hanya
dalam tempo setengah hari kita di dunia. Dan ada yang meriwayatkan pula bahwa
hal itu diselesaikan oleh Allah swt. hanya dalam sekejap mata.[7]
2. Tafsir Al-Azhar
Menurut
penafsiran Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, adalah beberapa
golongan dari Arab Badui itu, sekitaka mengerjakan wukuf, telah berdoa kepada
Allah: "Ya Allah, turunkan kiranya hujan di tanah ini, jadilah tahun ini
tanah subur, jadikanlah tahun ini beroleh anak yang bagus, dan tidak seorang
juapun yang mengingat berdoa untuk keselamatan di hari akhirat.
Menurut
riwayat yang diriwayatkan oleh At Thabrani dari Abdullah bin Zubair,
orang-orang yang di zaman Jahiliyah itu, bila mereka berhenti di Muzdalifah,
merekapun berdoa. Ada yang berkata: "Ya Allah, berilah aku rizki
unta!" Ada yang berdoa: "Ya Allah, berilah aku rizki
kambing-kambing". Tegasnya tidak ada yang berdoa: "Ya Allah, berilah
akan keselamatan di akhirat".
Menurut
riwayat Ibnu Jarir dari Anas bin Malik, di zaman Jahiliyah itu mereka thawaf
dalam keadaan telanjang, sambil berdoa: "Ya Allah, berilah kami air hujan
lebat untuk minum. Ya Allah, berilah kami kemenangan menghadapi musuh-musuh
kami, dan kembalikanlah kami dalam keadaan baik ke pada keluarga kami".
Begitulah
kebiasaan orang di zaman Jahiliyah, yang diterangkan dalam ayat ini. Segala
sesuatu yang berkenaan dengan dunia mereka mohonkan kepada Allah. Tanda yang
mereka pentingkan ialah benda dan tidak sedikit juga mengingat memohon
keselamatan untuk akhirat. Begitulah keadaan orang Jahiliyah, yang meskipun
karena naik haji juga, karena haji itu memang sunnah sejak Nabi Ibrahim, namun
yang mereka pentingkan hanyalah dunia. Lantaran yang mereka mohonkan itu
semata-mata dunia, maka itulah yang akan mereka dapat. Adapun di akhirat mereka
tidak akan mendapat kebahagiaan apa-apa.
Di
sini kita mendapat pengetahuan bahwa orang Jahiliyah pun naik haji, tetapi hanya
semata-mata karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu. Hati mereka lebih
terpaut kepada dunia.
"Dan setengah
mereka (pula) berkata: "Ya Tuhan
kami, berilah kami di dunia ini suatu kebaikan dan di akhiratpun suatu kebaikan
(pula) dan peliharalah kami dari pada siksaan neraka".[8]
- Makmur Pintu Damai Sejahtera
Dalam pandang Islam, tepatnya dalam kajian al-Quran
sebenarnya
banyak sekali kata ayat al-Quran yang
mengandung arti sejahtera seperti Sa’ada (bahagia), faza (gembira),
falaha (sentosa), roghodan (suka/senang) disini kata yang benar-benar mewakili
arti sejahtera adalah al-falah dan roghodhan. Al-falah dapat diartikan
sebagai mendapat keuntungan, kebahagian dan kejayaan bukan sahaja di dunia
tetapi kejayaan yang dicapai di akhirat.
Hidup sejahtera dapat diperoleh dengan membentuk mental
menjadi mental yang hanya bergantung kepada Sang Khalik (bertaqwa kepada Allah
Swt.), dan juga berbicara dengan jujur dan benar, serta Allah Swt. Juga
menganjurkan untuk menyiapkan generasi penerus yang kuat, baik kuat dalam hal
ketaqwaannya kepada Allah Swt. Maupun
kuat dalam hal
ekonomi. Oleh karena itu siapa saja yang mau melakukan amal kebaikan dan
beriman kepada Allah Swt. Maka Allah telah berjanji akan memberikan balasan
berupa kehidupan yang baik di dunia dan pahala di akhirat yang lebih baik dari
apa yang telah dikerjakannya. Kehidupan yang baik dapat diartikan sebagai
kehidupan yang aman, nyaman, damai, tenteram, rizki yang lapang, dan terbebas
dari berbagai macam beban dan kesulitan yang dihadapinya.
Al-Quran telah menjelaskan
cara-cara untuk mencapai al-falah atau (menuju pintu damai dan sejahtera).
Caranya adalah dengan mengaplikasikan unsur-unsur murni dalam kehidupan kita,
yaitu: a) Keimanan yang tinggi, b) Amal soleh, c) Taqwa, d) Al-amr bi al-ma`ruf
wa alnahy `an al-munkar, e) Akhlak yang terpuji, f)Nilai-nilai luhur yang
tercermin dalam setiap perlakuan manusia.[9]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sebagai
umat muslim kita dapat mencapai hidup makmur, damai, dan sejahtera. Hal
tersebut dapat kita peroleh dengan membentuk mental menjadi mental yang hanya
bergantung kepada Sang Khalik (bertaqwa kepada Allah Swt.), dan juga berbicara
dengan jujur dan benar, serta Allah Swt. Juga menganjurkan untuk menyiapkan
generasi penerus yang kuat, baik kuat dalam hal ketaqwaannya kepada Allah Swt. Guna mendapatkan kebaikan hidup di dunia
dan akhirat yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1974. Tafsir
Al-Maraghi Juz 2. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Hamkam. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz 2. Jakarta:
Panji Masyarakat.
Pusat,
Tim Penyusun. 1987. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka.
Munawwir, Ahmad Warson. 1984. Kamus Indonesia-Arab. Surabaya :
Pustaka Progresif..
Echols, John M., dan Shadily Hassan. 2012.
Kamus Inggris Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, Cet XXX.
Hilmi, Asep. 2018. Jurnal Konsep
Hidup Damai Dan Sejahtera Dalam Prespektif Al Quran. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
RI, Kementerian Agama. 2010. Al-Qur’an
dan Terjemahan.
[1] Definition
of Prosperity". Random House, Inc. 09 & Webster's Revised Unabridged
Dictionary. February 2009. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
[3] K.H
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Indonesia-Arab, Surabaya : Pustaka
Progresif, Cet 1, 1984, hal. 167.
[4] John
M. Echols, Hassan Shadily, Kamus
Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, Cet XXX, 2012, hal. 270.
[6] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 2, Semarang: PT.
Karya Toha Putra, 1993, hlm. 35.
[9] Asep Hilmi, Jurnal Konsep Hidup Damai Dan Sejahtera Dalam
Prespektif Al Quran, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018, hlm.
17-21.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar