Karakteristik Orang Berilmu (Kelebihan tentang Orang Berilmu)
Surat Al-Ankabut ayat 43
Diah Kurnia Sari
(2117110)
Kelas : E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN
ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PEKALONGAN
2018
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bila dilihat dari proses penciptaannya, manusia merupakan makhluk yang
paling tinggi derajatnya. Meskipun manusia diciptakan dari tanah oleh Allah
SWT, karena manusia dibekali dengan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh
makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Sehingga pada setiap manusi pasti akan
memiliki keistimewaan tersendrinya.
Keberhasilan dan pencapaian manusia terletak pada keseriusan, konsisten,
dan kesinambungan dalam mencari ilmu. Dalam hal ini manusia pasti akan
mempunyai kecerdasan multiple
intellingences yang berbeda-beda. Di dalam ajaran Islam mencari ilmu sangatlah
dianjurkan bagi siapapun, tidak hanya memandang laki-laki atau perempuan, tidak
juga memandang usia yang muda atau usia yang tua.
B. Rumusan masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Ilmu itu?
2.
Bagaimana bunyi dalil kelebihan tentang orang berilmu?
3.
Apa saja penafsiran dari surat Al-Ankabut ayat 43?
4.
Apa yang dimaksud kecerdasan manusia?
5.
Apa saja multiple intelligence dalam setiap diri manusia,?
C. Tujuan masalah
1. Agar manusia tidak salah mengartikan apa itu ilmu?
2. Supaya manusia paham akan kelebihan orang berilmu dan giat untuk menuntut
ilmu
3. Memberi tahu akan banyaknya penafsiran tentang Qs. Al-Ankabut:43
4. Agar lebih mengetahui apa itu kecerdasan manusia
5. Untuk mengetahui bahwa kecerdasan dalam diri manusia itu ada bagiannya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu
Ilmu merupakan istilah
yang berasal dari bahasa arab yaitu ‘alima yang berarti mengetahui.
Sedangkan ilmu dalam perspektif
al-qur’an adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk
lain guna untuk menjalankan fungsi kekhalifahannya. Yang mana di dalam
al-qur’an terulang 854 kali. Dalam pandangan al-qur’an manusia memiliki potensi
untuk meraih ilmu serta mengembangkannya. Oleh sebab itu banyak ayat yang
memerintahkan manusia untuk menempuh berbagai cara untuk terwujudnya hal
tersebut. Al-qur’an mengisaratkan bahwa ilmu terdiri dari dua macam di
antaranya:
Pertama, Ilmu laduni adalah
ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia. Seperti dalam firman Allah QS. Al-Kahfi ayat 65
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ
عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا
عِلْمًا
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba-hamba kami, yang telah kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi kami”.
Kedua,ilmu kasbi adalah ilmu
yang diperoleh manusia karena usahanya. Seperti dalam firman Allah QS.
Al-Haqqah ayat 38-39
فَلا
أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ (٣٨) وَمَا لا تُبْصِرُونَ٣٩
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak
kamu lihat”.
Maksud dari terjemahan ayat di atas, bahwa objek ilmu meliputi hal-hal yang
bersifat material dan juga non material, fenomenal dan non fenomenal dan bahkan
ada wujud yang tidak dapat di jangkau oleh manusia.
Sumber yang di tinjau
oleh Al-qur’an untuk memperoleh ilmu pengetahuan ada empat yaitu:
1. Al-Qur’an dan al-Sunnah,
dalam kedua ini merupakan sumber pertama bagi ilmu pengetahuan. Dalam hal ini
al-qur’an sering mengingatkan manusia agar memikirkan ayat-ayat Allah dan
mengambil hikmah dan mengamalkannya.
2. Alam semesta, merupakan
sumber ilmu yang kedua. Dalam hal ini al-qur’an menyeru manusia untuk
memikirkan keajaiban ciptaan Allah SWT serta hubungan manusia dengan alam
sekitarnya.
3. Dari manusia (nafs),
sebagaimana dalam firman Allah QS.al-Thariq ayat 5
فَلْيَنْظُرِ
الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan”.
B. Dalil kelebihan orang
berilmu
Antara kelebihan yang dijelaskan di dalam hadith Nabi
SAW bagi orang-orang yang menuntut ilmu ini, kami ingin datangkan sebuah hadith
yang panjang di dalam Sahih Muslim yang menceritakan di dalam sebagian matannya
akan kelebihan orang yang menuntut ilmu.
Dari pada Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW besabda:
مَنْ سَلَكَ
طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ
كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ
السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ
اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut
ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan untuk ke surga. Tidaklah satu
kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah, membaca
kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya bersama mereka rahmat dan dinaungi
oleh malaikat serta Allah SWT akan menyebut pada malaikat yang berada di
sisi-Nya”.[Riwayat Muslim (4867)][2]
C. Nash dan Artinya
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ
نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini, kami buat untuk manusia, dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (QS. Al-Ankabut ayat 43)
Tafsir surat Al-Ankabut ayat 43
a.
Tafsir Al-maraghiy
Allah menjelaskan beberapa
faidah dibuatnya perumpamaan-perumpamaan bagi manusia untuk mendekatkan
pemahaman mereka kepada apa yang sulit untuk mereka pahami, dan untuk
memperjelas apa yang perkaranya terasa sulit oleh mereka, hikmahnya sulit
digali, intisarinya sulit dipahami dan pengaruhnya sulit diketahui serta
diikuti, karena faidahnya yang terlalu banyak kecuali oleh orang-orang yang
berilmunya mendalam dan yang berpikir tentang akibat segala perkara.
sebagaimana Jabir meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Orang
yang berilmu adalah orang yang bisa memahami Allah SWT kemudian taat
menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dimurkainya”.[3]
b. Tafsir al-lubab
Perumpamaan (matsal)
dalam al-Qur’an mengandung makna-makna yang dalam. Ia bukan bertujuan menghiasi
kalimat, bukan juga terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing sesuai
kemampuan ilmiahnya dapat menimba dari perumpamaan itu pemahaman yang boleh
jadi berbeda, bahkan lebih pada dari orang lain.[4]
c. Tafsir al-Mishbah
Thabathaba’i memahami
dalam arti ayat ini adalah perumpamaan yang benar dan tepat. Dalam firman Allah
SWT yang berbicara tentang amtsal al-Qur’an sebagai: “Tiada ada yang
memahaminya kecuali orang-orang alim” mengisyaratkan bahwa
perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an mempunyai makna-makna yang dalam, bukan
terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing orang, sesuai kemampuan
ilmiahnya, dapat menimba dari matsal itu pemahaman yang boleh jadi
berbeda, bahkan lebih dalam dari orang lain. Ini juga berarti bahwa perumpamaan
yang dipaparkan disini bukan sekadar perumpamaan yang bertujuan sebagai hiasan
kata-kata, tetapi ia mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas.[5]
D. Kecerdasan Manusia
Dr. Howrd Gardner,
Co-Director of Project Zero dan profesor Pendidikan di Harvard University.
Selama bertahun-tahun telah melakukan penelitian tentang berkembangan kapasitas
kognitif manusia. Dia telah mendobrak tradisi umum teori kecerdasan yang
menganut dua asumsi dasar yaitu: bahwa kognisi manusia itu bersifat satuan dan
bahwa setiap individu dapat dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan
yang dapat diukur dan tunggal. Dalam studinya kapasitas manusia, Gardner
mengembangkan kriteria untuk mengukur apakah bakat itu bebar-benar kecerdasan.
Setiap kecerdasan mestinya memiliki ciri perkembangan, dapat diamati dalam
populasi tertentu, misalnya pada anak yang sangat pandai (jenius) atau “pelajar
yang idiot” memberikan beberapa bukti lokalisasi di otak dan mendukung sistem
simbol atau sistem notasi.
Ketika kebanyakan orang
memiliki spektrum kecerdasan yang penuh, setiap individu menunjukan perbedaan
ciri-ciri kognitif. Maka, kita memiliki tujuh jenis kecerdasan yang
berbeda-beda dan menggunakannya dengan cara-cara yang sangat personal.
Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas
daripada kecerdasan manusia sebelumnya, serta menghasilkan definisi tentang
konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan. Gardner tidak
memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan skor tes standar semata, namun
Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
a) Kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia.
b) Kemampuan untuk
menghasilkan persoal-soalan baru untuk diselesaikan.
c) Kemampuan untuk
menciptakan sesuatau atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan
dalam budaya seseorang.
E. Multiple Intelligence
Dalam multiple Intelligence ini ada tujuh kecerdasan di antaranya yaitu:
a. Kecerdasan linguistik
adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa
untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Para pengarang, penyair,
jurnalis, pembicara, dan penyair berita memiliki tingkat kecerdasan linguistik
yang tinggi.
b. Kecerdasan
logika-matematika adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan
mempertimbangkan proposi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi
matematis.
c. Kecerdasan spasial
adalah kemampuan dalam membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara
dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat.
d. Kecerdasan
kinestetik-tubuh adalah kemampuan dalam memungkinkan seseorsng untuk
menggerakan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Kecerdasan
ini dapat dilihat pada diri atlet penari, ahli bedah, dan seniman yang
mempunyai keterampilan teknik. Pada masyarakat Barat ketrampilan-ketrampilan
fisik tidak dihargai sebesar ketrampilan kognitif seseorang.
e. Kecerdasan musik adalah
kecerdasan yang dapat dilihat pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada
pola titik nada, melodi, ritme dan nada. Orang-orang yang memiliki kecerdasan
ini antara lain: komposer,konduktor, musisi dan lain-lain.
f. Kecerdasan
interpersonal merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang
lain secara efektif. Sebagaimana budaya Barat mulai mengenalkan hubungan atara
akal dan tubuh maka hal ini perlu disadari kembali pentingnya nilai dari
keahlian dalam perilaku interpersonal.
g. Kecerdasan
intrapersonal merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang
diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan
mengarahkan kehidupan seseorang.[6]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan makalah di atas mengenai tafsir Al-Qur’an surat Al-Ankabut
ayat 43 menjelaskan bahwa Ilmu merupakan istilah yang berasal dari bahasa arab yaitu
‘alima yang berarti mengetahui. Sedangkan
ilmu dalam perspektif Al-qur’an adalah suatu keistimewaan yang
menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna untuk menjalankan fungsi
kekhalifahannya. Dalam Al-Qur’an surat Alkanbut ini juga ada keterangan dari
buku-buku tafsir seperti Tafsir Al-maraghiy, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir
al-lubab, Tafsir al-Mishbah. Saat manusia menuntut ilmu manusia memiliki
berbagai kecerdasan multiple intelligence yang berbeda-beda diantaranya
kecerdasan linguistik,
logika-matematika, spasial, kinestetik-tubuh, musik, interpersonal,
intrapersonal.
DAFTAR PUSTAKA
Munir Ahmad. 2008. Tafsir
Tarbawi mengungkap pesan Al-Qur’an tentang pendidikan.Yogyakarta: TERAS
perum POLRI Gowok.
http://ulamasedunia.org/2016/10/01/kelebihan-menuntut-ilmu/
Al-Maraghiy, Ahmad
Musthafa. 1989. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV Tohaputra.
Shihab, M.
Quraish.2012. makna tujuan dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an.Tangerang:lentera
hati.
Shihab, M. Quraish.
2002. Tafsir Al-Misbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta:
Lentera Hati.
Linda Camplle, Bruce
Camplle, Dee Dickinson. 2002. Multiple Intelligences metode terbaru
melesatkan kecerdasan.Depok: Inisiasi Press.
[1] Ahmad Munir, Tafsir
Tarbawi mengungkap pesan Al-Qur’an tentang pendidikan(Yogyakarta: TERAS
perum POLRI Gowok, 2008), Hlm 79-94
[3] Ahmad Musthafa
Al-Maraghiy,Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV Tohaputra,1989), hlm 237-238
[4] M. Quraish Shihab, makna
tujuan dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an, (Tangerang:lentera
hati,2012), Hlm 112-113
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Misbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati,
2002), hlm 502
[6] Linda Campbell. dkk,
Multiple intelligences metode terbaru melesatkan kecerdasan, (Depok: Inisiasi
Press,2002), Hlm 1-3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar