KARAKTERISTIK
ORANG BERILMU
(PERILAKU
ORANG BERILMU)
QS.
Az-Zumar 39:9
Disusun
guna memenuhi tugas kelompok
Mata
Kuliah : Tafsir Tarbawi I
Dosen
Pengampu : Muhammad Hufron, MSI
Disusun
Oleh :
Farah
Falasifah (2117044)
Kelompok : 2
Kelas D
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan adalah
sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan
merupakan sesuatu yang paling bermanfaat dari pada selainnya. Allah SWT, tidak
mau menyamakan orang yang berilmu dan orang tidak berilmu, disebabkan oleh
manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dari manfaat dan keutamaan yang akan
didapat oleh orang yang berilmu.
Dalam masalah kali ini, saya
akan membahas surat az-zumar ayat 9 yang didalamnya terdapat anjuran untuk
berilmu, untuk menjadi orang yang taat, dan anjuran untuk menjadi orang yang
berjiwa ulul albab. Dan yang paling penting dalam masalah hal ini adalah
“ tidak sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak
mengetahui”.
Uraian diatashanyalah uraian
yang singkat betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, baik untuk
kehidupan dirinya pribadi, maupun dalam hubungan dirinya dengan benda-benda
disekitarnya. Baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Ada banyak hadits,
irman Allah dan pendapat para ulama tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
B. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini guna memenuhi mata kuliah Tafsir Tarbawi dan juga
menambah pengetahuan penulis tentang perilaku orang berilmu, dan terdapat
anjuran untuk berilmu, untuk menjadi orang yang taat dan anjuran untuk menjadi
orang yang berjiwa ulul albab.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengetahuan
Manusia
Ilmu adalah
pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat di lihat oleh potensi
manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan, dan keyakinan) melalui akal atau
posesberfikir (logika). Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah
diproses dan diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan
pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan kedalam masalah/proses
tertentu.
Jadi, ilmu
pengetahuan adalah suatu sistem berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil
pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan
metode-metode tertentu.[1]
B. Dalil Perilaku
Orang Berilmu
Artinya:
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadah diwaktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada
(adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar,
39:9)
C. Tafsir QS. Az-Zumar,
39:9
1.
Tafsir Al-Maraghi
Apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu dari pada
orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas
ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh
dari riya, sehingga ibadah diwaktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang
itu dalam keadaan takut dan berharap ketika beribadah. Tidak diragukan, bahwa
jawabannya tidak perlu diterangkan. Jadi kesimpulannya itu, apakah orang yang
taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kedua-duanya tentu tidak sama.
Kemudian, Allah swt, menegaskan tentang tidak ada kesamaan di antara
keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal
berdasarkan ilmu. Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan untuk
menunjukkan bahwa orang-orang yang pertama mencapai derajat kebaikan tertinggi,
sedang yang lain jatuh kedalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit
dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian Allah
swt menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh setiap orang
yang mempunyai akal. Karena, orang-orang yang tidak tahu, seperti tela
disebutkan dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat memahami suatu
nasihat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Jadi kesimpulannya itu,
seseungguhnya yang mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang
tidak tahu hanyalah orang yang mempunyai akal pikiran sehat, yang dia
pergunakan untuk berpikir.[2]
2.
Tafsir Al-Azhar
“Ataukah
orang-orang yang bertekun di tengah malam, dalam keadaan sujud dan berdiri,
karena takut akan hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?’ (pangkal ayat
9). Dalam susunan ini adalah jumlah kata yang tidak tertulis atau terucap,
tetapi jelas di dalam makna ayat. Yaitu di antara dua macam kehidupan.
Kehidupan pertama ialah yang gelisah langsung berdoa menyeru Tuhan jika
malapetaka datang menimpa dan lupa kepada Allah bila bahaya telah terhindar.
Ada satu kehidupan lagi, yaitu kehidupan Mu’min yang selalu tidak lepas
ingatannya dari Tuhan, sehingga baik ketika berduka atau ketika bersuka, baik
ketika angin taufanmengahncurkan segala bangunan sehingga banyak orang
kehilangan akal atau seketika angin demikian telah mereda, langit cerah dan
angin sepoi jadi gantinya, namun orang itu tetap tenang tidak kehilangan arah.
Dia serentak dari tidurnya tengah malam, dia bertekun mengingat Tuhan lalu
bersujud memohon ampunan dan ridhailahi, bahkan ada yang terus qiyamul-lail,
berdiri tegak mengerjakan sembahyang. Yang mendorongnya untuk bertekun,
berqunut ingat akan Tuhan, sampai bersujud dan sembahyang lain tidak ialah
karena takut kalau di akhirat kelak amalannya mendapat nilai yang rendah di
sisi Tuhan, malahan dia mengaharapkan Rahmat Ilahi, kasih sayang Tuhan yang
tidak berkeputusan dan tidak berbatas.
Nabi disuruh
oleh Tuhan menanyakan pertanyaan untuk menguatkan hujjah kebenaran;
“Katakanlah! “Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan dengan
orang-orang yang tidak berpengetahuan?” pokok dari semua pengetahuan ialah
mengenal Allah sama artinya dengan bodoh. Sebab dia tidak tahu akan ke mana
diarahkannya ilmu pengetahuan yang telah didapatnya itu. “Yang akan ingat
hanyalah semata-mata orang-orang yang mempunyai akal budi.” (ujung ayat 9).
Sampai ke langit pun pengetahuan, Cuma
kecerdasan otak. Belumlah dia mencukupi kalau tidak ada tuntunan jiwa. Iman
adalah tuntunan jiwa yang akan jadi pelita bagi pengetahuan.
Albab kita artikan akal budi. Dia
adalah kata banyak dari lubb, yang berarti isi, atau intisari, atau teras. Dia
adalah gabungan di antara kecerdasan akal dari kehalusan budi. Dia meninggikan
derajat manusia.[3]
D.
Orang
Berilmu dan Orang Tak Berilmu
Allah SWT membedakan antara orang yang berilmu dan orang yang jahil.
Keduanya tidak sama. Terlepas dari substansi ilmu pengetahuan, yang terpenting
adalah antara orang yang berilmu dan orang yang bodoh jelas tidak sama. Seperti
halnya antara orang buta dan orang melihat kegelapan dan cahaya, orang yang
hidup dan mati, manusia dan hewan, serta antara penghuni surga dan penghuni
neraka.[4]
E. Aplikasi dalam
kehidupan
1.
Menuntut ilmu.
2.
Belajar terus menerus dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan.
3.
Semakin banyak ilmu yang kita dapat, janganlah sombong tetapi layaknya
padi semakin berisi semakin merunduk.
4.
Berfikir kritis dalam mengahadapi segala persoalan.
5.
Semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
BAB
III
PENUTUP
Orang yang berilmu memiliki
kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam ini, dan orang yang berilmu itu
sangat berbeda sekali dengan orang yang tak berilmu atau bodoh. Dan Islam
sangat memberikan apresiasi yang sangat besar dan memberikan derajat yang
tinggi terhadap orang yang berilmu.
‘Alim (orang yang
mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkannya serta istiqomah
padanya. Sedangkan jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenarannya akan
tetapi ia tidak mau untuk mengamalkannya atau mereka tidak ketahuikebenran dan
kebathilan juga tidak mau untuk mengetahuinya dan orang yang bisa membedakan
keduanya adalah ulul albab.
DAFTAR
PUSTAKA
Qardhawi,Yusuf i. 1998. Al-Qur’an
Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Gema Press, 1998.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1992. Tafsir
Al-Maraghi XXIII. Semarang: CV Tohaputra.
Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XXIV.
Jakarta: Pustaka Panjimas.
[1]
Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan,
(Jakarta: Gema Press, 1998), hlm.88-91
[2]
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi XXIII, (Semarang: CV
Tohaputra, 1992), hlm. 259-261
[3]
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm.
18
[4]
Yusuf Qardhawi, Op.Cit., hlm. 93
Tidak ada komentar:
Posting Komentar