Diagonal Select - Hello Kitty 2

Sabtu, 20 Oktober 2018

Karakteristik Orang Berilmu (Perilaku Orang Berilmu "QS Az-Zumar,39: 9")


KARAKTERISTIK ORANG BERILMU
(PERILAKU ORANG BERILMU)
QS. Az-Zumar 39:9
Disusun guna memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi I
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, MSI


Disusun Oleh :
            Farah Falasifah (2117044)
Kelompok : 2

Kelas D

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018






BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Ilmu pengetahuan adalah sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan merupakan sesuatu yang paling bermanfaat dari pada selainnya. Allah SWT, tidak mau menyamakan orang yang berilmu dan orang tidak berilmu, disebabkan oleh manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dari manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berilmu.
       Dalam masalah kali ini, saya akan membahas surat az-zumar ayat 9 yang didalamnya terdapat anjuran untuk berilmu, untuk menjadi orang yang taat, dan anjuran untuk menjadi orang yang berjiwa ulul albab. Dan yang paling penting dalam masalah hal ini adalah
“ tidak sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui”.
       Uraian diatashanyalah uraian yang singkat betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, baik untuk kehidupan dirinya pribadi, maupun dalam hubungan dirinya dengan benda-benda disekitarnya. Baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Ada banyak hadits, irman Allah dan pendapat para ulama tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
B.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini guna memenuhi mata kuliah Tafsir Tarbawi dan juga menambah pengetahuan penulis tentang perilaku orang berilmu, dan terdapat anjuran untuk berilmu, untuk menjadi orang yang taat dan anjuran untuk menjadi orang yang berjiwa ulul albab.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengetahuan Manusia
Ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat di lihat oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan, dan keyakinan) melalui akal atau posesberfikir (logika). Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah diproses dan diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan kedalam masalah/proses tertentu.
Jadi, ilmu pengetahuan adalah suatu sistem berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu.[1]
B.  Dalil Perilaku Orang Berilmu
Artinya:
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah diwaktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar, 39:9)


C.  Tafsir QS. Az-Zumar, 39:9
1.      Tafsir Al-Maraghi
Apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu dari pada orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah diwaktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berharap ketika beribadah. Tidak diragukan, bahwa jawabannya tidak perlu diterangkan. Jadi kesimpulannya itu, apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kedua-duanya tentu tidak sama.
Kemudian, Allah swt, menegaskan tentang tidak ada kesamaan di antara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang pertama mencapai derajat kebaikan tertinggi, sedang yang lain jatuh kedalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian Allah swt menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh setiap orang yang mempunyai akal. Karena, orang-orang yang tidak tahu, seperti tela disebutkan dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat memahami suatu nasihat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Jadi kesimpulannya itu, seseungguhnya yang mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu hanyalah orang yang mempunyai akal pikiran sehat, yang dia pergunakan untuk berpikir.[2]
2.      Tafsir Al-Azhar
   “Ataukah orang-orang yang bertekun di tengah malam, dalam keadaan sujud dan berdiri, karena takut akan hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?’ (pangkal ayat 9). Dalam susunan ini adalah jumlah kata yang tidak tertulis atau terucap, tetapi jelas di dalam makna ayat. Yaitu di antara dua macam kehidupan. Kehidupan pertama ialah yang gelisah langsung berdoa menyeru Tuhan jika malapetaka datang menimpa dan lupa kepada Allah bila bahaya telah terhindar. Ada satu kehidupan lagi, yaitu kehidupan Mu’min yang selalu tidak lepas ingatannya dari Tuhan, sehingga baik ketika berduka atau ketika bersuka, baik ketika angin taufanmengahncurkan segala bangunan sehingga banyak orang kehilangan akal atau seketika angin demikian telah mereda, langit cerah dan angin sepoi jadi gantinya, namun orang itu tetap tenang tidak kehilangan arah. Dia serentak dari tidurnya tengah malam, dia bertekun mengingat Tuhan lalu bersujud memohon ampunan dan ridhailahi, bahkan ada yang terus qiyamul-lail, berdiri tegak mengerjakan sembahyang. Yang mendorongnya untuk bertekun, berqunut ingat akan Tuhan, sampai bersujud dan sembahyang lain tidak ialah karena takut kalau di akhirat kelak amalannya mendapat nilai yang rendah di sisi Tuhan, malahan dia mengaharapkan Rahmat Ilahi, kasih sayang Tuhan yang tidak berkeputusan dan tidak berbatas.
Nabi disuruh oleh Tuhan menanyakan pertanyaan untuk menguatkan hujjah kebenaran; “Katakanlah! “Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?” pokok dari semua pengetahuan ialah mengenal Allah sama artinya dengan bodoh. Sebab dia tidak tahu akan ke mana diarahkannya ilmu pengetahuan yang telah didapatnya itu. “Yang akan ingat hanyalah semata-mata orang-orang yang mempunyai akal budi.” (ujung ayat 9).
          Sampai ke langit pun pengetahuan, Cuma kecerdasan otak. Belumlah dia mencukupi kalau tidak ada tuntunan jiwa. Iman adalah tuntunan jiwa yang akan jadi pelita bagi pengetahuan.
         Albab kita artikan akal budi. Dia adalah kata banyak dari lubb, yang berarti isi, atau intisari, atau teras. Dia adalah gabungan di antara kecerdasan akal dari kehalusan budi. Dia meninggikan derajat manusia.[3]
D.      Orang Berilmu dan Orang Tak Berilmu
Allah SWT membedakan antara orang yang berilmu dan orang yang jahil. Keduanya tidak sama. Terlepas dari substansi ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah antara orang yang berilmu dan orang yang bodoh jelas tidak sama. Seperti halnya antara orang buta dan orang melihat kegelapan dan cahaya, orang yang hidup dan mati, manusia dan hewan, serta antara penghuni surga dan penghuni neraka.[4]
E.  Aplikasi dalam kehidupan
1.      Menuntut ilmu.
2.      Belajar terus menerus dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan.
3.      Semakin banyak ilmu yang kita dapat, janganlah sombong tetapi layaknya padi semakin berisi semakin merunduk.
4.      Berfikir kritis dalam mengahadapi segala persoalan.
5.      Semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
       Orang yang berilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam ini, dan orang yang berilmu itu sangat berbeda sekali dengan orang yang tak berilmu atau bodoh. Dan Islam sangat memberikan apresiasi yang sangat besar dan memberikan derajat yang tinggi terhadap orang yang berilmu.
       ‘Alim (orang yang mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkannya serta istiqomah padanya. Sedangkan jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenarannya akan tetapi ia tidak mau untuk mengamalkannya atau mereka tidak ketahuikebenran dan kebathilan juga tidak mau untuk mengetahuinya dan orang yang bisa membedakan keduanya adalah ulul albab.

 



DAFTAR PUSTAKA
Qardhawi,Yusuf i. 1998. Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.                  Jakarta: Gema Press, 1998.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1992. Tafsir Al-Maraghi XXIII. Semarang: CV Tohaputra.
Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XXIV. Jakarta: Pustaka Panjimas.

























[1] Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Gema Press, 1998), hlm.88-91
[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi XXIII, (Semarang: CV Tohaputra, 1992), hlm. 259-261
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm. 18
[4] Yusuf Qardhawi, Op.Cit., hlm. 93

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Metode Pendidikan “Spesial” (Metode Dialogis) Qs. As-Shafaat Ayat 37: 102

METODE PENDIDIKAN SPESIAL "METODE DIALOGIS" QS. As-Shafaat ayat 37: 102 Uswatun Khasanah NIM. (2117107) Kelas A ...