KEWAJIBAN BELAJAR SPESIFIK
"MENUNTUT ILMU PROFESIONAL"
(Q.S Al-Ankabuut, 29: 19)
Novia
Listianie
NIP. (2117160)
Kelas : E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana dijelaskan dalam
ayat bahwa Allah menciptakan manusia dengan mudah. Dengan harapan agar manusia
beribadah kepadaNya dan menyuruhnya untuk selalu menuntut ilmu.
Allah memerintahkan kepada kita untuk
selalu beribadah dan mempelajari ilmu-ilmu Allah. Mulai dari kita lahir didunia
sampai nanti kita bangkit diakhirat, semua amal dan perbuatan kita
dipertanggung jawabkan.
Oleh karena itu dalam hal
ini kita dituntut untuk mengembara dengan tujuan menuntut ilmu Allah yang
nantinya akan kita jadikan sebagai pedoman dalam hidup agar semasa hidup kita
selalu berada dalam jalan Allah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian ilmu dan
profesional?
2.
Apa dalil dan penafsiran
mengembara menuntut ilmu agar profesional?
3.
Apa keistimewaan ilmu dan
profesional?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu
dan profesional.
2. Untuk mengetahui dalil dan
penafsiran mengembara menuntut ilmu agar profesional.
3. Untuk mengetahui keistimewaan
ilmu dan profesional.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu dan Profesional
1. Pengertian Ilmu
Ilmu
menurut etimologi berasal dari kata Alima artinya mengetahui.
Sedangkan menurut istilah ialah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu
yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan dan
menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam kehidupan manusia.
Hukum Menuntut Ilmu
Karena ilmu menjadi sarana
bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan dunia maupun akhirat maka
mencarinya hukumnya WAJIB.
Mencari ilmu berarti melaksanakan perintah agama yang memerlukan
perjuangan, ketabahan, keuletan, kerja keras, dan kesabaran, karena itu Nabi
pernah menyampaikan bahwa orang yang keluar untuk menuntut ilmu adalah dijalan
Allah sampai menemui ajalnya.[1]
2. Pengertian Profesional
Merupakan seseorang yang memperoleh penghasilan
dengan melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang memerlukan keterampilan
atau keahlian khusus serta semangat pengabdian.
Sikap professional
diperlukan dalam menjalankan profesi karena profesi yang kita lakukan merupakan
tanggung jawab yang diberikan kepada diri kita untuk dijalankan dengan penuh
tanggung jawab untuk memperoleh penghasilan dan kepercayaan dari orang lain.
Ciri-ciri
professional itu tidak statis, artinya guru harus meningkatkan kompetensi
dengan tujuan mengikuti perkembangan zaman.
Contoh Profesional:
Peranan
profesional guru dalam program pendidikan di sekolah yang di wujudkan untuk
mencapai perkembangan peserta didik secara optimal. Untuk mencapainya seorang
guru memberikan layanan kepada siswa sebagai layanan profesional guru yaitu
berupa layanan instruksional, layangan bimbingan atau bantuan akademik, dan
layanan administrasi.
Guru profesional seharusnya
memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti,
dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga harus
memiliki pengetahuan yang luas, bijak,
dan dapat bersosialisasi dengan baik. Profesi guru dan dosen merupakan bidang
pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional. Mereka harus
memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, memiliki kualifikasi
pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya,
memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya, mematuhi
kode etik profesi, memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas,
memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya,
memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan,
memperoleh perlindungan hokum dalam
melaksanakan tugas profesionalnya, dan memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum.[2]
B.
Dalil dan Penafsiran Mengembara
Menuntut Ilmu Agar Profesional
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ
يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Dan
apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari
permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah.(QS. 29:19).
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat-ayat ini masih
mengenai Nabi Ibrahim a.s yang mengajak kaumnya agar memperhatikan bagaimana
Allah menciptakan diri mereka sendiri dari tiada sampai menjadi manusia-manusia
yang sempurna lengkap dengan panca inderanya, apakah Tuhan yang telah
mencipatakan mereka dari sesuatu yang tiada tadi, tidak mudah bagi-Nya untuk
menghidupkan mereka kembali setelah mati? Di samping diri mereka sendiri yang
hendaknya diperhatikan, mereka dianjurkan agar bepergian di muka bumi Allah
melihat-lihat penciptaan Allah yang berupa makhluk-makhluk beraneka ragam dari
yang bernyawa sampai yang tidak bernyawa, yang diatas bumi maupun di angkasa,
tidaklah semuanya itu menandakan kekuasaan Allah yang maha luas.[3]
Tafsir Al-Azhar
“Dan
apakah tidak mereka perhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan”. (pangkal
ayat 19) Allah tidak lah akan dapat dilihat dengan mata. Untuk meyakinkan
adanya Allah, hendaknya perhatikan alam yang diciptakan oleh Allah. Dalam ayat
yang tengah kita renungi ini terdapatlah panggilan kepada manusia yang selama
ini kurang memeperhatikan, bahkan tidak teguh kepercayaannya tentang adanya
Yang Maha Kuasa. Atau kalaupun ada kepercayaannya bahwa Tuhan itu ada, tidak
diperhatikannya bagaimana caranya sebagai kita sebagai Insan menghubungi
Al-Khaliq itu. Untuk mencari Allah perhatikanlah alam. Kian diperhatikan, akan
kian teranglah dalam hatimu bantahan kepada pendirianmu yang kaku dan kejang,
yang selama ini mengatakan Tuhan itu tidak ada. Di awal ayat ini kita
dianjurkan memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan. Banyak terdapat
permulaan penciptaan Ilahi yang sangat ajaib, yang mustahil begitu teratur dan
mengagumkan kalau dia terjadi sendirinya.
“Sesungguhnya pada yang demikian atas Allah
adalah mudah.” (ujung ayat 19). Dan setelah mati kelak, menurut waktu yang ditentukan
Allah akan bangkitkan kembali, yang bernama hari qiyamat, semuanya itu adalah
urusan yang mudah saja bagi Allah. Maka tidaklah mustahil jika manusia kelak
dibangkitkan kembali dalam keadaan yang lain, dihari yang bernama qiyamat,
karena belum termakan di akal atau penyelidikan kita. Karena barang yang kita
lihat setiap hari sendiri pun, yang berulang-ulang kejadian tidak jugalah dapat
kita manusia memecahkan rahasianya, namun bagi Allah dia itu adalah perkara
mudah saja.[4]
Tafsir Al-Qurthubi
Allah juga
menciptakan manusia kemudian mematikannya setelah memberikan anak dan keturunan
kepadanya dan dari anak tersebut kemudian lahirlah anak yang lain. Demikian
juga dengan binatang yang ada dipermukaan bumi ini, kita dapat saksikan
bagaimana Allah SWT menciptakan segala macam jenis binatang, mereka dapat hidup
dan berkembang biak hingga akhirnya mati dan dilanjutkan oleh keturunan
berikutnya. Hal ini berlangsung terus menerus sampai Hari Kiamat. Semua ini
menunjukkan bahwa betapa Allah SWT Maha Kuasa atas segalanya.
ان ذالك علي الله يسير“Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah,” maksudnya, tidak ada yang mustahil bagi-Nya, karena jika Allah
menghendaki sesuatu, maka Dia hanya cukup berkata, “Jadilah, maka hal itu
terjadi”.[5]
C. Keistimewaan Ilmu dan Profesional
Ilmu dan profesional memiliki
kesinambungan, keduanya saling berkaitan dan memiliki keistimewaan:
a. Orang yang berilmu itu laksana
pelita di dunia dan akhirat
b. Ulama atau para ilmu merupakan
pewaris nabi dan dimudahkan untuknya jalan menuju surga Allah.
c. Mengajarkan ilmu kepada orang
lain akan mendapat pahalanya 70 Nabi.
d. Orang yang berilmu memiliki
kelebihan 700 derajat diatas derajat orang-orang yang beriman.
e. Tidurnya orang alim itu lebih
baik dari pada ibadahnya orang yang bodoh.
f.
Orang yang menuntut ilmu sama
seperti orang yang berada di jalan Allah
g. Mengajarkan satu bab Al-Qur’an
itu lebih baik dari sholat 100 rokaat.
h. Orang yang berilmu lebih besar
keutamaannya daripada seribu pejuang yang mati syahid.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hal yang baik adalah ketika kita berusaha berfikir, salah
satunya adalah berfikir tentang bagaimana Allah menciptakan kita dan Allah akan
mengambil kita dan membangunkan kita lagi dalam suasana yang berbeda.
Berfikir bagaimana kita akan melampaui hidup didunia.
Untuk itu cara yang tepat adalah dengan menuntut ilmu. Karena dengan hal tersebutlah hidup kita akan
indah jika kita tahu ilmu dan hukum-hukum yang telah diciptakan oleh Allah
untuk kita pelajari. Menuntut ilmu juga dengan menerapkan sikap professional diperlukan dalam
menjalankan profesi karena profesi yang kita lakukan merupakan tanggung jawab
yang diberikan kepada diri kita untuk dijalankan dengan penuh tanggung jawab
untuk memperoleh penghasilan dan kepercayaan dari orang lain.
Namun, jika ilmu hanya dipelajari saja tanpa
diamalkan, maka lambat laut ilmu itu akan luntur dengan sendirinya. Oleh sebab
itu, mari menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu agar kita senantiasa tafakkur dan
istiqomah dengan apa yang kita peroleh dari ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir
Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam).
Bahreisy, Salim. Said Bahreisy. 1990. Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsir. (Surabaya:
Bima Ilmu).
Hamka.
1978. Tafsir Al-Azhar. (Surabaya: Bina Ilmu Offset).
Juwariyah.
2010. Hadits Tarbawi. ( Yogyakarta : Teras).
[2] http://www.wawanlistyawan.com/2014/10/makalah-profesi-profesional-dan.html, diakses tgl 26 September 2018, pukul 14.30.
[3] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya: Bima Ilmu, 1990), hlm 200-201
[6] https://www.catatanmoeslimah.com/2015/09/keutamaan-dan-keistimewaan-ilmu-dala.html,
diakses tgl 27 September 2018, pukul 07.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar