TUJUAN PENDIDIKAN “DIVERSIFIKASI”
Q.S Ali Imran, 3:138-139
Makalah
Disusun untuk
memenuhi tugasMata kuliah :Tafsir
Tarbawi
Dosen
Pengampu:
Muhammad Hufron, M.S.I
Disusun oleh:
1.
Hanah Robiatul Adawiyah 2117133
Kelas C
JURUSAN PENDIDIDKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah dasar dan tujuan pendidikan merupakan suatu masalah yang
sangan fundamental dalam pelaksanaan pendidikan.sebab dasar pendidikan itu akan
menentukan corak da nisi pendidikan, sedangkan tujuan pendidikan akan
menentukan kea rah mana peserta didik itu dibawa. Terlebih pada tujuan
pendidikan islam dimana seorang pendidik bisa menjadi teladan dari apa yang
diajarkan.
Pada dasarnya pendidikan islam berdasarkan atau bersumber dari
quran dan hadis yang mana al-Quran itu dijelaskan dalam surat ali-imran ayat
138-139, bahwa alquran itu sebagai al-bayan atau penjelas, hidayah atau
petunjuk, dan mu’jizat.
Pendidikan merupaan usaha manusia untuk meningkatkan ilmu
pengetahuan yang didapat baik dari lembaga formal maupun informal. Tujuan
pendidikan yang akan menentukan keberhasilan dalam proses pembentukan pribadi
manusia yang berkualitas.
B.
Rumusan Masalah
1.
Jelaskan hakikat al-quran?
2.
Bagaimana fungsi al-quran?
3.
Jelaskan tentang generasi qurani?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui hakikat al-Quran.
2.
Untuk mengetahui apa saja fungsi dari al-quran yang berkaitan
dengan pendidiakan.
3.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan generasi qurani.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Al-Quran
Kata al-Quran
menurut bahasa mempunyai arti yang bermacam-macam, salah satunya adalah bacaan
atau sesuatu yang harus dibaca.Adapun menurut istilah para ulama memiliki
pendapat masing-masing. Al-quran adalah kalam Allah yang bersifat mu’jizat yang
diturunkan kepada nabi Muhammad saw., melalui perantara jibril dengan lafal dan
maknanya dari Allah swt., yang mana membacanya merupakan ibadah, al-quran
dimulai surah al-fatihah dan diakhiri an-nas.[1]
Para ulama dalam bidang ilmu al-Quran telah mendefinisikan al-quran
menurut pemahaman mereka masing-masing, baik secara etimologi maupun
terminology. Beberapa ulama berpendapat sebagai berikut:
1.
Menurut al-Lihyany (w. 215 H) dan segolongan ulama lain
Kata
Quran berasal dari kata kerja (fi’il), قرأ artinya membaca, dengan bentuk kata
atau tasrif (قرأ-يقرأ-قرءانأ).
Dari tasrif tersebut, kata قرءانأ
artinya bacaan yang bermakna isim maf'ul(( مقروء artinya
yang dibaca. Karena al-Quran itu dibaca maka dinamailah al-Quran. Kata tersebut
selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan kepada nabi muhammad
saw., sebagaimana yang terdapat dalam
surah al-qiyamah ayat 17-18 yang artinya, “sesungguhnya kami yang akan
mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya, apabila kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”[2]
2. Menurut Quraish Shihab, al-Quran secara
harfiah berarti bacaan yang sempurna. Ia merupakan suatu nama pilihan Allah swt
yang tepat. Karena tiada satupun bacaanpun sejak manusia mengenal tulisan 5
ribu tahun yang laluyang dapat menandingi Quran.
Al-Quran juga mempunyai arti mengumpulkan da menghimpun dari kata qira’ah
yakni menghimpun huruf demi huruf, kata demi kata, dalam suatu ucapan yang
tersusun rapih. Allah
berfirman:
Artinya
: “sesungguhnya kamilah yang menurunkan al-Quran dan pasti kami pula yang
akan memeliharanya.” (al-hijr/15:9)[3]
B.
Dalil Fungsi Al-Quran
Al-Quran al-kariim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan
sifat, ia merupakan kitab suci umat islam yang memilik banyak manfaat bagi
manusia. Al-quran diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia melalui
malaikat jibril kepada nabi Muhammad saw., dan beliau sebagai penyampai,
pengamal, serta penafsir pertama dalam al-Quran. Adapun fungsi al-Quran
berdasaran quran surah ali-imran ayat 138-139 sebagai berikut:
138هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
139 وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ
كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: “ Al-Quran ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk
dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa (138) Dan janganlah kamu merasa
lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang
paling tinggi (derajatnya) jika kamu benar-benar beriman (139).”
1. Al-Quran
sebagai penjelas
Al-Quran
ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang
yang bertaqwa (138).
Quran merupakan penerang atau penelas bagi seluruh manusia yang menjelaskan
tentang kejadian yang lalu sehingga apa apa yang tidak diketahui manusia bisa
diketahui lewat al-quran. Maksud dari ayat tersebut juga sebagai perintah agar
manusia mempelajari sunattullah. Pernyataan Allah, “Al-Quran ini adalah
penjelasan bagi manusia “ bmengandung makna bahwa Allah tidak langsung
menjatuhkan sanksi sebelum manusia itu mengetahui sanksi tersebut.
2. Al-Quran
Sebagai Hidayah
“Dan
janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati.Padahal kamu
adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu benar-benar beriman
(139).” Allah tidak
akan memberikan sanksi sebelum orang itu mengetahui sanksinya dank arena
terlebih dahulu Allah akan memberikan petunjuk jalan dan peringatan.
Sebagai Hidayah. Al-Quran diturunkan Allah kepada nabi saw., bukan
sekedar untuk dibaca tetapi untuk dipahami kemudian untuk diamalkan dan
dijadikan sumber hidayat dan pedoman bagi manusia untuk mencapai kebahagian
dunia dan akhirat. Untuk itu kita dianjurkan untuk menjaga dan memeliharanya.
Hal ini sesuai firman Allah dalam surah al-fatir ayat 29 yang artinya: “sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca al-Quran dan mendirikan sholat dan sebagian
rezeqi yang kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang
terangan. Merekalah yang mengharapkan (keuntungan) perniagaan yang tidak akan
merugi.”
3. Menjadi bukti
kebenaran Nabi Muhammad saw., bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam
tantangan yang sifatnya bertahap.
a.
Menantang siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam
al-quran secara keseluruhan
b.
Menantang mereka untuk menyusun sepuluh surat semacam al-quran
c.
Menantang meraka untuk menyusun satu surat saja semacam al-Quran
d.
Menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang
sama dengan satu surah dari al-Quran
4. Menjadi
petunjuk bagi seluruh umat manusia. Petunjuk yang dimaksud yakni petunjuk agama
atau syariat.
5. Sebagai
mu’jizat nabi Muhammad saw., untuk membuktikan kenabian dan kerasulannya dan
al-Quran adalah ciptaan Allah bukan ciptaan nabi. Hal ini didukung adanya
firman Allah dalam surah al-isra ayat 88 yang artinya: “katakanlah
sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk menciptakan yang serupa
dengan quran niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya sekalipun sebagian
mereka membantu sebagian yang lain.”
Dari sini dpat diphami bahwa quran merupakan sumber yang harus
dijadikan dasar hukum tau pedoman hidup umat manusia.[4]
Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi sebagai berikut:
1.
Sebagai penjelas dalam firmannya Q.S Ali Imran: Al-Quran ini
adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang
bertaqwa (138).
Mempelajari
sejarah umat terdahulu dan melihat berkasnya dengan melawat mengembara dengan
sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk, dan pengajaran. Ilmu kita akan
bertambah tentang perjuangan hidup manusia dalam dunia ini. Dalam ayat ini kita
berjumpa dengan anjuran mengetahui beberapa ilmu penting.Pertama, sejarah;
kedua ilmu bekas peninggalan sejarah; ketiga ilmu siasat perang; keempat ilmu
mengendalikan Negara. Di dalam sejarah kita akan menemui banyak hal-hal
penting. Misalnya perjuangan nabi musa menentang kedzaliman firaun ataupun nabi
Ibrahim AS menghadapi kaumnya dan raja namrud.Dalam hal ini kita dianjurkan
mempersiapkan diri dan berhati-hati dalam melangkah.
“Dan
janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati.Padahal kamu
adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu benar-benar beriman
(139).” Sesungguhnya
Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat karena hal tersebut
akan mengakibatkan seorang kehilangan semangatnya. Sebaliknya Allah tidak
melarang hubungan seseorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan
atau teman yang dapat memulihkan kekuatan serta dapat mengisi hatinya dengan
kegembiraan. Untuk itu kalian adalah orang-orang yang lebih utama memiliki
keteguhan tekad lantaran pengetahuan kalian tentang balasan yang baik dan
berpegang pada kebenaran.[5]
C.
Generasi Qurani
Generasi dalam KBBI berarti turunan, angkatan atau sekelompok orang
yang hidup pada tempat dan waktu yang sama. Sedangkan kata “qurani” diambil
dari kitab al-Quran, yakni kumpulan wahyu Allah kepada nabi saw., melalui
jibril, yang disusun dalam mushaf, di riwayatkan secara mutawatir dari generasi
ke generasi berikutnya, dan berpahala bagi yang membacanya.[6]
Jadi generasi qurani adalah generasi yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman
hidup mereka, meyakini kebenaran al-Quran, membacanya dan memahaminya dengan
benar dan baik, serta mengamalkannya
dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tujuan artinya sesuatu yang dituju.Kata al-Quran menurut bahasa
mempunyai arti yang bermacam-macam, salah satunya adalah bacaan atau sesuatu
yang harus dibaca. Al-Quran al-kariim memperkenalkan dirinya dengan berbagai
ciri dan sifat, ia merupakan kitab suci umat islam yang memilik banyak manfaat
bagi manusia. Al-quran diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia melalui
malaikat jibril kepada nabi Muhammad saw., dan beliau sebagai penyampai,
pengamal, serta penafsir pertama dalam al-Quran. Generasi dalam KBBI berarti
turunan, angkatan atau sekelompok orang yang hidup pada tempat dan waktu yang
sama. Sedangkan kata “qurani” diambil dari kitab al-Quran, yakni kumpulan wahyu
Allah kepada nabi saw., melalui jibril, yang disusun dalam mushaf, di
riwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi berikutnya, dan berpahala
bagi yang membacanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qattan,
Manna Khalil.2015. Studi Ilmu-Ilmu Quran.Bogor: Pustaka Litera Antar
Nusa.
Mustafa,
Al-Maraghi, Ahmad. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: PT Karya Toha
Putra.
Rosidin, Mukarom Faisal dkk. 2014.Al-Quran Hadist. Jakarta: Kementerian Agama.
Shihab, M.
Quraish dkk. 2008. Sejarah dan Ulum Al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus
Siddieqy, Habsi Ash. 1996. Tafsir Al Bayan. Bandung: PT
Al-Maarif.
[2]Mukarom Faisal Rosidin dkk, Al-Quran Hadist, (Jakarta: Kementerian
Agama, 2014), hlm. 5.
[3]
Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Quran, (Bogor: Pustaka Litera
Antar Nusa, 2015), p. 15.
[4]
Habsi Ash Siddieqy, Tafsir Al Bayan, (Bandung: PT Al-Maarif, 1996), hlm.
764.
[5]
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: PT Karya Toha
Putra, 1993)
[6] KBBI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar