Objek Pendidikan Langsung (direct)
“Keluarga Sebagai Tumpuan Harapan”
QS. At-Tahrim: 6
Ayu Kinasih Safitri
NIM. (2117222)
Kelas : C
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alquran diyakini oleh umat Islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak
benar, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
nanti. Petunjuk Alquran tersebut berkaitan dengan berbagai konsep yang amat
dibutuhkan oleh umat manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia dan di
akhirat.
Al-Qur’an berbicara tentang berbagai hal seperti akidah, Ibadah, Muamalah dan
juga tentang pendidikan. Namun Alquran bukanlah kitab suci yang siap pakai,
dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan Alquran tersebut tidak langsung
dapat dihubungkan dengan berbagai masalah. Ajaran ajaran Alquran tampil dalam
sifatnya yang global, ringkas dan general. Untuk dapat memahami ajaran
Alquran tentang berbagai masalah tersebut mau tidak mau seorang harus melewati
jalur tafsir sebagaimana telah dilakukan oleh para ulama.
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subjek, objek dan
sarana-sarana lain yang sekita sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah
pendidikan. Allah telah memerintahkan kepada Rasul yang mulia di dalam
ayat-ayat yang jelas agar dia memberikan peringatan kepada keluarga dan sanak
kerabat dulu. Kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorangpun yang
berprasangka jelek kepada nabi keluarga dan sanak kerabatnya. Jika dia memulai
dengan memberikan peringatan kepada keluarga dan sanak kerabatnya, maka hal itu
akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh
agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikutnya yang beriman, bersikap baik
kepada mereka, dan ikut menanggung kesusahan yang mereka mau menerima nasehat.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa hakikat
keluarga?
2.
Apa dalil
keluarga sebagai tampuan harapan?
3.
Bagaimana
keluarga sebagai Madrasatul Ula?
C. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah
yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu
dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang
merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah
pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan
melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah,
penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai
sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
BAB II
PEMBAHAN
A. Hakikat Keluarga
Keluarga
merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat
di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Dapat
disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
2. Anggota keluarga biasanya
hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain
3. Anggota keluarga
berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami,
istri, anak, kakak dan adik.
4. Mempunyai tujuan
: menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik,
psikologis, dan sosial anggota.[1]
Keluarga
dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan Islam menaruh
perhatian besar terhadap kehidupan keluarga degan meletakkan kaidah-kaidah yang
arif guna memelihara kehidupan keluarga dari ketidak harmonisan dan kehancuran.
Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama untuk
membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan
dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di
muka bumi.[2]
Tugas
utama keluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani, rohani dan sosial semua
anggotanya, mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, membimbing
perkembangan pribadi, serta mendidik agar mereka hidup bahagia. Dua komponen
yang pertama yakni ayah dan ibu dapat dikatakan sebagai komponen yang sangat
menentukan kehidupan anak, karena mereka merupakan pengasuh dan pendidik yang
pertama dan utama bagi anak dalam lingkungan keluarga baik karena alasan
biologis maupun psikologis.
Bagi keluarga anak merupakan anugrah dari Allah SWT
yang mempunyai dua potensi yaitu bisa menjadi baik dan bisa pula menjadi buruk.
Baik buruknya anak sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang diberikan
oleh kedua orang tuanya.
Nipan Abdul Halim mengemukakan beberapa tanggung jawab
yang harus dipenuhi oleh orang tua terhadap anaknya antara lain merawat dengan
penuh kasih sayang , memberikan nafkah yang baik dan halal, serta mendidik
dengan baik dan benar. Ketiga kewajiban dan tanggung jawab tersebut hendaklah
dilakukan secara konsekuen dan harus dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak
terpisahkan, serta dilaksanakan secara bersamaan dan berkesinambungan, mulai
sejak anak berada dalam kandungan ibu sampai benar-benar dewasa.[3]
B. Dalil Keluarga sebagai
Tumpuan Harapan
Dalam
Islam orangtua bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan sesuai dengan
fitrahnya, yaitu keimanan kepada Allah Swt. Fitrah ini merupakan kerangka
dasar operasional dari proses penciptaan manusia. Anak merupakan
amanah dari Allah Swt yang diberikan kepada setiap orangtua, anak juga buah
hati, anak juga cahaya mata, tumpuan harapan serta kebanggaan keluarga. Anak
adalah generasi mendatang yang mewarnai masa kini dan
diharapkan dapat membawa kemajuan dimasa mendatang.
Dalil
Keluarga sebagai tumpuan harapan terdapat dalam Q.S. At Tahrim
ayat 6:
ﻳﺎﺃﻴﻬﺎ
ﺍﻠﺬﻳﻥ ﺍﻤﻧﻮﺍ قوا ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻮ ﺃﻫﻠﻳﻜﻢ ﻧﺎﺮﺍ ﻮ ﻗﻮﺪﻫﺎ ﺍﻠﻧﺎﺲ ﻮ ﺍﻠﺤﺠﺎﺮﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ
ﻤﻼﺌﻜﺔ ﻏﻼﻅ ﺸﺪﺍﺪ ﻻ ﻴﻌﺼﻮﻥ ﺍﷲ ﻣﺎ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﻮ ﻴﻔﻌﻠﻮﻥ ﻤﺎ ﻴﺆﻣﺮﻮﻥ ﴿٦﴾
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu (dari) api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia (yang kafir) dan batu (yang disembah), yang diatasnya ada
malaikat-malaikat yang kasar lagi keras yang mereka tidak mendurhakai Allah
(terhadap) apa yang telah Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.(QS. At-Tahrim: 6).[4]
Mufrodat QS. At-Tahrim: 6
يايها :Wahai
الذين :
orang-orang yang
امنوا :
meraka beriman
قوا
: peliharalah
انفسكم : diri
kalian
واهليكم : dan
keluarga kalian
نارا :
api/neraka
وقودها : bahan
bakarnya
الناس :
manusia
والحجارة :
dan batu-batu
عليها :
atasnya
ملئكة :
malaikat
غلاظ
: yang kasar
شداد
: yang keras
لا :
tidak
يعصون :
mereka mendurhakai
الله :
Allah
ما :
apa yang
امرهم :
Dia perintahkan
ويفعلون :
dan mereka mengerjakan
ما
: apa yang
يؤمرون :
mereka diperintahkan
Secara
kebahasaan, kata qu anfusakum terdiri dari dua suku kata,
yaitu kata qu yang bentuk amr lil jama` (kata
perintah bentuk plural) dari waqa` yang berarti jagalah oleh
kalian, dan kata anfusakum yang berarti diri kalian.Dengan
demikian, kata qu anfusakum dalam konteks ayat ini bermakna
perintah untuk senantiasa menjaga diri dan keluarga dari sengatan api neraka.
Secara kebahasaan, kata gilaz syidad terdiri dari dua suku
kata, yaitu kata gilaz yang merupakan bentuk plural dari
(banyak) dari kata galiz yang berarti keras, dan kata syidad yang
merupakan bentuk plural dari kata syadid, yang berarti kasar. Dengan demikian,
kata gilaz syidad dalam konteks ayat ini merupakan
pendeskripsian sifat para malaikat penjaga neraka yang sangat keras dan kasar
dalam menyiksa penghuni neraka.[5]
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang
beriman agar menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari
manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Mereka
juga diperintahkan untuk mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh
kepada perintah Allah untuk menyalamatkan mereka dari api neraka. Keluarga
merupakan amanat yang harus dipelihara kesejahteraannya baik jasmani maupun
rohani. Diantara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan
shalat dan bersabar sebagai mana firman Allah : “dan perintahkanlah
keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.”
(Taha/20:132). “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad)
yang terdekat” (asy-Syu`ara/26:214).
Diriwayatkan
bahwa ketika ayat ke-6 ini turun, “Umar berkata, “wahai Rasulullah, kami sudah
menjaga diri kami dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah saw.
menjawab, “larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakan dan
perintahkan mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Begitulah
caranya menyelamatkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat
yang kasar dank eras yang pemimpinnya berjumlah Sembilan belas malaikat. Mereka
diberi kewenangan mengadakan penyiksaan di dalam neraka. Mereka adalah para
malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”[6]
C. Keluarga : Madrasatul Ula
Seto
Mulyadi menyatakan bahwa pendidikan yang sejati itu ada dalam keluarga karena
pendidikan dalam keluarga pada dasarnya mengarah pada aspek individual.
Singkatnya, keluarga memiliki peran penting pendidikan dalam proses internalisasi
nilai-nilai agama dan moral pada manusia, khususnya pada anak usia awal. Namun,
pendidikan moral seperti itu tidak boleh sesaat, tetapi dilakukan terus menurus
hingga ia besar. Karena jika hanya mengandalkan disekolah, tidak mungkin, sebab
ekolah hanya sebuah institusi yang bergerak pada proses pengajaran dalam aspek
iptek, tetapi bagaimana etika dan estetikanya, hal itu bisa dilakukan melalui
pendidikan dalam keluarga.
Jadi,
pendidikan dalam keluarga jauh lebih penting perannya karena pendidikan keluaga
mengarah pada individual anak secara mendalam. Dari keluarga, orang tua bisa
mengetahui bakat, daya tangkap, perilaku, dan kemampuan anak. Pendidikan dalam
keluarga itu istilahnya kurikulum untuk anak, tetapi jika di sekolah, anak
untuk kurikulum. Institusi keluarga tentu tidak bebas dari berbagai dampak
perubahan sosial dan tantangan yang ada di luarnya. Dalam kondisi seperti ini,
keluarga dituntut harus kuat dan kompak. Tujuannya adalah menciptakan anak yang
mandiri dan bisa bekerja sama. Untuk itu, dalam keluarga harus dibangun konsep
kerjasama. Bukan konsep kekuasaan.[7]
Keluarga
memiliki dampak yang besar dalam pembentukan perilaku individu serta
pembentukan vitalitas dan ketenangan dalam benak anak-anak karena melalui
keluarga anak-anak mendapatkan bahasa, nilai-nilai , serta kecenderungan
mereka, keluarga bertanggung jawab mendidik anak-anak dengan benar dalam
kriteria yang benar, jauh dari penyimpangan. Untuk itu dalam keluarga memiliki
sejumlah tugas dan tanggung jawab. Tugas dan kewajiban keluarga adalah
bertanggung jawab menyelamatkan faktor-faktor cinta kasih serta kedamaian dalam
rumah, menghilangkan kekerasan, keluarga harus mengawasi proses-proses
pendidikan, orang tua harus menerapkan langkah-langkah sebagai tugas mereka.
Fungsi
lembaga pendidikan keluarga, yaitu keluarga merupakan pengalaman pertama bagi
anak-anak, pendidikan lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional
anak untuk keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa sehingga
tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera, keluarga yang damai dan
sejahtera, keluarga berperan dalam meletakkan dasar pendidikan agama dan
social.
Selain
itu keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama, dalam membentuk jati
diri generasi penerus bangsa. Anak-anak yang dilahirkan dalam bingkai keluarga
adalah asset utama penerus pembangunan nasional, yang oleh karenanya harus
dicetak untuk memiliki karakter yang kokoh dan memiliki jati diri bangsanya.
Perwarisan nilai-nilai budaya sangat tepat dilakukan di lembaga keluarga,
karena pendidikan dalam keluarga merupakan modal dasar perkembangan kepribadian
anak pada masa dewasanya.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Keluarga
merupakan unit lembaga sosial terkecil di masyarakat yang terbentuk melalui
perkawinan yang sah biasanya terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang hidup di
suatu tempat. Pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah keluarga,
karena keluarga merupakan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam keluarga
anak pertama-tama akan mendapatkan bimbingan, perkembangan, pertumbuhan mental
maupun fisik dalam kehidupannya. Selain itu keluarga bagi anak merupakan suatu tempat
yang paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai kehidupan yang
dibutuhkan oleh anak yang tengah mencari makna kehidupan. Di dalam keluarga,
Orang tua harus memberikan suasana yang aman dan tentram yang meliputi rasa
cinta dan simpati yang sebenarnya pada anak. Kebutuhan akan kasih sayang harus
dipenuhi dan berkembang dengan baik.
Orang tua
harus memberikan dasar-dasar moral bagi anak yang biasanya tercermin dalam
sikap dan perilaku orang tua sebagai keadaan yang dapat dicontoh anak. Biasanya
tingkah laku, cara berbuat dan berbicara akan ditiru oleh anak, teladan ini
melahirkan gejala identifikasi positif, yakni menyamakan diri dengan orang yang
ditiru dan hal ini penting sekali dalam rangka pembentukan kepribadian.
B. Saran saran
Menyadari
bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih
fokus dan details dalam menjelaskan akalah di atas dengan sumber-sumber yang
lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI.
2010. Al-Qur`an dan Tafsirnya. Jakarta :
Departemen Agama RI.
http://bit.ly/2F1N62u diakses pada tanggal 30 Oktober
2018 pukul 17:28
http://blog.re.or.id/keluarga-dalam-pandangan-islam.htm diakses pada tanggal 29 Oktober
2018 pukul 16:20
Ihsan,
Fuad. 2001. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Rifai, Moh. 1993. Terjemah/Tafsir
Al Qur`anul Karim. Semarang :
Wicaksana.
Steve, Biddulph. 2006. Mendidik Anak
Dengan Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan
Karakter. Yogayakarta:
Pustaka Belajar.
[5] Departemen
Agama RI, Al-Qur`an dan Tafsirnya, (Jakarta :
Departemen Agama RI, 2010), hlm. 203-204
Tidak ada komentar:
Posting Komentar