OBYEK PENDIDIKAN INDIRECT
“ORANG AWAM OBYEK PENDIDIKAN”
Rizqi Amaliah
NIM. (2117214)
Kelas B
JURUSAN PWNDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi warga negara.
Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan ketrampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan. Oleh karena itu setiap warga
negara berhak unutk mendapatkan pendidikan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
hakikat orang awam itu?
2. Bagaimana
dalil orang awam sebagai objek pendidikan
3. Apa yang
dimaksud bersama sama membangun negeri?
C.
Tujuan
1. Unutk
mengetahui hakikat orang awam
2. Unutk
mengetahui dalil dari orang awam sebagai objek pendidikan
3. Unutk
mengetahui maksud dari bersama orang membangun negeri
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat
Orang Awam
Manusia adalah keywords yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin
memahami pendidikan. Bahwa manusia memiliki dorongan-dorongan dari dalam
dirinnya unutk mengarahkan dirinnya mencapai tujuan yang positif. Mereka
menganggap manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Hal ini
membuat manusia itu terus berubah dan berkembang unutk menjadi pribadi yang
lebih baik dan lebih sempurna, manusia dapat pula menjadi anggota kelompok
masyarakat dengan tingkah laku yang baik. Mereka juga mengatakan selain adannya
dorongan-dorongan tersebut, manusia dalam hidupnya juga digerakkan oleh rasa
tanggung jawab sosial dan keinginan mendapatkan sesuatu. Dalam hal ini manusia
dianggap sebagai makhluk individu dan juga sebagai makhluk sosial.
Manusia, didalam Al-quran juga disebut dengan al-nas. Konsep al-nas ini
cenderung mengacu pada status manusia dalam kaitannya dengan lingkungan
masyarakat disekitarnya. Berdasarkan fitrahnya manusia memang makhluk sosial.
Dalam hidupnya manusia membutuhkan pasangan, dan memang diciptakan
berpasang-pasangan seperti dijelaskan dalam surah an-nisa.
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah selaku
pencipta karena adalh hak Allah untuk disembha dan tidak disekutukan. Bentuk
pengabdian manusia sebagai hamba Allah tidak terbatas hanya pada ucapan dan
perbuatan saja, melainkan juga harus dengan keikhlasan hati.
Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah akan menjadi manusia yang taat,
patuh dan mampu melakoni perannya sebagai hamba yang hanya mengharapkan ridha
Allah.[1]
B. Dalil orang
awam sebagi objek pendidikan
Q.S An-Nisa,
4:17
أِنَّمَا
التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَالَةِ ثُمَّ
يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوْبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكاَنَ
اللّهُ
عَلِيْماً حَكِيْمَا[2]
“sesungghnya
taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang uang menegerjakan
kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera,
maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana”[3]
1. Tafsir
al-azhar
Terlanjur berbuat jahat karena kebodohan. Artinnya ada juga orang yang tahu
bahwa itu adalah perbuatan jahat, tetapi karena sangat keras dorongan hawa
nafsu tidaklah tertahan lagi. Misalnya karena sangat marah, allu memukuli
orang, atau karena sangat memuncak syahwat. Setelah diberi nasihat orang,
tetapi nasihat itu tidak mempan terhadapnya. Karena hidup belum banyak
pengalaman, masih saumpama bodoh. Demi setelah terlanjur berbuat salah,
timbullah sesal yang mendalam. Sehingga kesalahan itusendiri sudah menambah
pengetahuannya, menghilangkan kebodohannya. Timbul tekanan batin yang amat
sangat, lalu dia menyesal dan lekas lekas diperbaikinnya, lekas-lekas tobat.
Taubat artinnya kembali. Setelah
tertempuh jalan yang sangat sesat, tidak tentu ujung. Bertambha lama bertambah
terasa gelap, lalu timbul sesal dan segera kembali. Maka dicukupkanlah syarat
taubat yang tiga perkara. Pertama menyesal atas perbuatan yang telah terlanjur.
Kedua segera mencabut kesalahan yang ada sekarang. Ketiga mengakui dan bertekad
tidak akan berbuat lagi. Dan pengakuan salah satu itu bukan kepada manusia,
nukan kepada pendeta dan kyai tetapi rahasia antara hati sendiri dengan Allah.
Dapat dilihat orang hidupnya yang telah berubah kepada yang lebih baik.
Kata ahli-ahli tasawuf, jiwa orang
yang benar-benar bertaubat karena suatu kesalahan, kadang-kadang jauh lebih
maju dalam mendekati Tuhan daripada jiwa orang yang merasa dirinnya tidak
bersalah, sehingga pernah juga mereka misalkan, bahwa kadang-kadang orang yang
tidak terbangun tengah malam, sehingga tidak sempat mengerjakan shalat tahajjud
dan setelah pagi hari merasa menyesal lantaran luput tahajjud, mungkin lebih
baik dari yang sempat bangun dan semapt tahajjud, lalu pagi-paginya dia
berbangga dengan amalnya.[4]
2. Tafsir ibnu
katsir
Allah ta’ala berfirman, sesungguhnya
Allha hanya akan menerima tobat orang-orang yang melakukan kejahatan karena
kebodohan. Kemudian dia bertobat, walaupun setelah melihat dengan jelas
malaikat yang akan mencabut rohnya, asal dia belum sekarat. Mujahid dan uhlama
lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kebodohan ialah setiap orang yang
durhaka lantaran salah atau sengaja sebelum dia menghentikan dosannya itu. Abbu
Shalih meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “diantara kebodohannya ialah
dia melakukan kejahatan itu.” “kemudian mereka bertobat sebeentar” kemudian
Ibnu Abbas mengagtakan, “ yang dimkasud sebentar ialah jarak antara keadaan
dirinya sampai dia melihat mlaaikat maut. Ad-Dhahak berkata, “masa sebelum
terjadinnya kematian disebut dekat.” Al-Hasan berkata “dekat ialah sebelum
seseorang sekarat.” Sedangkan Ikrimah berkata, “masa dunia seluruhnya disebut
dekat”. Jika terjadi sekarat dan nafas turun naik-naik pada tenggorokan, maka
pada saat itu tiada lagi penerimaan tobat, dan lenyaplah sudah kesempatannya.
Oleh karena itu, Allah berfirman, tiada tobat bagi orang-orang yang melakukan
berbagai keburukan hingga ketika kematiandatang kepada salah seorang diantara
mereka, dia berkata, “Kini, aku benar-benar bertobat.” Allah pun menetap kan
kepada penghuni bumi mengenai tidak akan diterimannya tobat mereka jika mereka
telah melihat matahari terbit dari barat,.[5]
3. Tafsir
Al-Quran dan Tafsirnya
Allah menjelaskan bahwa taubat dari
seseorang itu dapat diterima apabila seseorang melakukan perbuatan maksiat
yakni durhaka kepada Allah SWT baik dengan sengaja atau tidak atau dilakukannya
karena kurang pengetahuannya, atau karena kurang kesabarannya atau karena
kurang benar-benar tidak mengetahui bahwa perbuatan itu terlarang. Kemmudian
datanglah kesadarannya, lalu ia menyesal atas perbuatannya dan ia segera
bertaubat meminta ampun atas segala kesalahannya dan berjanji dengan sepenuh
hatinnya tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut. Orang-orang yang
demikianlah yang dapat diterima Allah taubatnya karena Allah Maha Mengetahui akan
kelemahan hamba-Nya dan Mengetahui pula keadaan hambanNya yang dalam keadaan
lemah, tidak terlepas dari berbuat salah dengan sengaja atau tidak.
Tingkat orang yang melakukan taubat
yang telah diperingatkan ini diperinci oleh para ahli sufi sebagai berikut:
1. ada orang
yang memiliki jiwa yang pada dasarnya sempurna dan selalu dalam kebaikan. Orang
yang demikian apabila suatu waktu tanpa kesengajaan berbuat kesalahan walau
kecil sekalipun ia akan merasakannya sebagai suatu hal yang sangat besar.
2. Adakalnnya
seseorang memiliki jiwa yang memang pada dasarnya jelek, sehingga segala tindak
tanduknya dikemudikan oleh nafsu dan syahwatnya saja. Sifat yang sudah demikian
mendalam pada dirinnya dan telah mendarah daging. Setelah sekian lama ia
bergelimang dosa dengan memperturutkan kehendak hawa nafsunnya akhirnya
datanglah hidayah dan taufik Allah kepadannya sehingga ia sadar dan berjuang
untuk memperbaiki tindakannya yang salah dan ia kembali pada tuntuna yang
diberikan Allah.
3. Ada pula
orang yang memililki jiwa dimana untuk mengerjakan dosa besar ia dapat
mengawasi diri, sehingga ia tak pernah mengerjakannya, kan tetapi mengenai dosa
kecil serung terjadi pada dirinnya, perjuangan yang sengit, kadang-kadang
mennaglah nafsu dan syahwatnya dan kalahlah petunjuk bhakan kadang-kadang
terjadi sebaliknya. Nafsu yang demikian disebut nafsu musawwilah.
4. Ada pula
orang yang memiliki nafsu lawwamah. Orang ini sama sekali tidak dapat
menghindarkan diri dari perbuatan salah, baik besar maupun kecil. Apabila ia
mengerjakan sosa maka datang kesadarannya dan ia bertaubat mintaampun. Tetapi
suatu saat daatng lagi dorongan nafsu syahwatnya untuk berbuat dosa dan ia
kerjakan pula dan kemudian bertaubat lagi sesudah dtang kesadarnnya. Dengan
begitulah seterusnya, taubat yang demikian itu adalah taubat yang terendah
derajatnya, nmaun begitu kepada orang seperti ini tetap dianjurkan supaya
selalu mengharap ampunan dari Allah SWT.[6]
C. Bersama sama
membangun Negeri
1. Sikap pemuda
terhadap persoalan bangsa
Potensi yang dimiliki oleh generasi muda diharapakan mampu meningkatkan
peran dan mmeberikan kontribusi dalam mengatasi persoalan bangsa. Persolan
bangsa, bahkan menuju pada makin memudarnya atau tereliminasinnya jiwa dan
semangat bangsa. Berbagai gejla sosial dengan mudah dilihat, mulai dari
rapuhnya sendi-sendikehidupan masyarakat, rendahnya sensitivitas sosial,
memudarnya etika, lemahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan, kedudukan dan
jabatan bukan lagi sebagai amanah penderitaan rakyat, tak ada lagi jaminan rasa
aman, mahlnya mengakkan keadilan dan masih banyak lagi problem sosial yang kita
harusn selesaikan.
Oleh karena itu sikap bersama-sama membnagun negeri yaitu:
a. Komitmen
untuk meningkatkan kemmandirian dan martabat bangsa. Kemandirian dan martabat
bangsa Indonesia dimata dunia adalah terpompannya harga diri bangsa. Seluruh
aktivitas pembanguna sejauh mungkin dijalankan berdasar kemampuan sendiri,
misalnya dengan menegakkan semangat berdikari.
b. Harmonisasi
kehidupan sosial dan meningktkan ekspektasi masyarakat sehingga berkembnag
mutual social trust yang berawal dari komitmen seluruh komponen bangsa.
Pelaksanaan hukum, sebagai benteng formal untuk mengatasi korupsi, tidak boleh
dipaksa tunduk pada kemauan pribadi pucuk pimpinan negara.
c. Penyelenggaraan
negara dan segenap elemen bangsa harus terjalin dlam satu kesatuan jiwa katan
kuncinnya adalah segera terwujudnya sistem kepemimpinan nasional yang kuat dan
berwibawa dimata rakyat yang memiliki integritas tinggi (terpercaya, jujur dan
adil), adannyakejelasan visi (kedepan) pemimpin yang jelas dan implementatif,
pemimpin yang mampu memberi inspirasi dan mengarahkan semangat rakyat secara
kolektif, memilikin ssemnag ijtihad, komunikatif terhadap rakyat, mampu
membnagkitkan semangat solidaritas. Dan unutk pemuda, mereka harus mampu
memperjuangkan sistem nilai-nilai yang memperesentasikan aspirasi, sensitivitas
dan integritas para generasi muda terhadap gejala ketidakadilan yang terjadi
dimasyarakat.[7]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Maka tidak sepatutnya
seluruh kaum muslimin pergi berperang (jihad), namun harus ada juga yang harus
belajar mengajar. Sebab proses tarbiyah sangat penting bagi kukuhnya Islam.
manusia seluruhnya merupakan objek pendidikan (tarbiyah dan dakwah), namun
adannya prioritas unutk kedua hal tersebut, yaitu dimulai dari diri sendiri,
kemudian keluarga, kerabat, orang islam, dan kahirnya sesama manusia (non
muslim).
DAFTAR
PUSTAKA
Khasinah. Siti. 2013. Hakikat Manusia Menurut
Pandangan Islam dan Barat,
Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA
VOLL. XIII, NO. 2, 296-317.
Shihab. M Quraish. 2006. Tafsir Al-Misbah.
Jakarta: Lentera Hati.
Mustofa. Syaikh Ahmad. 2008. Tafsir fi zhilalil
quran. Jakarta Timur: Almahira.
[1] Siti Khasinah, “Hakikat Manusia
Menurut Pandangan Islam dan Barat”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA VOLL. XIII, NO. 2,
296-317, 2013, hlm. 299
[7] https://pustakapendidikanblog.wordpress.com/2016/12/14/makalah-peran-pemuda-pemudi-dalam-pembangunan-bangsa-indonesia/ diakses
tanggal 5 November 2018 pukul 08:28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar