SEBYEK PENDIDIKAN MAJAZI
(Nabi Sebagai Pendidik)
QS. An-Nahl, 16: 43-44
Chusni Dwi Yulianti
NIM (2117169)
Kelas C
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISALAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu unsur pendidikan
adalah pendidik atau guru. Pendidik dalam prespektif islam ialah orang yang bertanggungjawab
terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai
kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya sesuai
dengan nilai-nilai ajaran islam.
Guru adalah pendidik yang
memberikan pelajaran kepada murid. Menurut Zakiyah Drajat, guru adalah
“pendidik professional, karena secara emplisit ia telah merelakan dirinya
menerima dan memikul sebagai tanggung jawab pendidikan yang dipindahkan para
orang tua. Kata guru sebanarnya bukan saja mengandung arti pengajardi sekolah.
Adapun guru menurut pengertian kedua lebih menekankan pada kedudukan guru
sebagai pengajar sekaligus pendidik.Guru bukan saja yang memberikan pengajaran
di sekolah, dia juga merupakan pendidik yang menjadi pembimbing dan panutan.
Pendidik pada masa kliasik (1-3 H/7-9 M) bukan merupakan profesi untuk
menghasilkan uang atau sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupannya, melainkan
sebagai panggilan agama, mengembangkan seruannya dan menggantikan peran
Rasulullah Saw dalam memperbaiki umat. Pendidik dalam era modern mempresepsikan dirinya sebagai seorang petugas
semata yang mendapatkan gaji, baik dari Negara maupun dari organisasi swasta
dan mempunyai tanggung jawab tertentu yang harus dilaksanakan.[1]
Secara umum, pendidik adalah
orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Sementara itu secara khusu,
pendidik dalam prespektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung
jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan
seluruh potensinya, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai
dengannilai-nilai ajaran islam.[2]
B. Rumusan Masalah
1.
Apa hakikat nabi?
2.
Bagaimana dalil nabi sebagai pendidik?
3.
Bagaiman Nabi Muhammad SAW mengajarkan syariat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hahikat Nabi
Secara etimologis, kata nabi
berasal dari bahasa Arab, naba’ warta
(al khabar, news), berita,
informasi, lapran. Dalam bentuk trasitif (anba’
‘an) ia berarti memberi informasi, meramal, menceritakan masa depan, dan istanba’a (meminta untuk diceritakan.
Kata nabi ini bentuk jamaknya nabiyyun dan anbiya’. Sedangkan nabuwwah adalah bentuk masdar (kara
kerja) dari naba’ bermakna kenabian ,
ramalan, kenabian, sifat (hal) nabi yang berkenaan dengan nabi.
Dalam bahasa inggris, nabi bias
disebut dengan prophet berarti
seseorang yang mengajarkan agama, dan mengklaim, mendapat inspirasi ataupun
petunjuk dari Tuhan, dan dalam bahasa Yunani prophetes yang berarti orang
yang beerbicara atas orang lain. Dalam hal ini, beratri “orang yang mengomunikasikan
wahyu Tuhan”. Menurut Mawlana Muhammad ‘Ali, kata nabi berasal dari kata naba’a (jamaknya anbiya’) yang artinya adalah “memberitahuakan sesuatu yang besar
faedanya,” menyebabkan orang-orang mengetahui sesuatu.
Secara istilah, kata nabi memiliki
banyak definisi. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu dari Allah SWT
melalui perantara malaikat atau ilham maupun mimpi yang besar. Mereka juga mubasysyir
( pembawa berita baik, yaitu mengenai ridha Allah dan kebahagiaan hidup di
dunia serta di akhirat bagi orang-orang yang mengikutinya) dan mundzir
(pemberi peringatan, yaitu pembelasan bagi mereka serta kesengsaraan terhadap
orang-orang yang ingkar) (QS. Al-Baqarah [2]:213).
Secara umum, nabi dan rasul
adalah manusia yang dipilih Allah untuk menerima dan menyampaikan wahyu Allah.
Secara tradisional, penulis-penulis Muslim mengenai Al-qur’an membuat perbedaan
antara nabi dan rasul. Nabi adalah utusan Allah yang tidak membawa hokum
(syari’at) dan mungkin pula kitab Allah kepada manusia; sedangkan rasul dalam
pengertian bahasa berarti utusan, dan menurut istilah ialah utusan Allah yang
membawa hokum dan kitab Allah sebagai pedoman manusia. Atau menurut pendapat
yang mashur, nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah SWT tanpa
kewajiban menyampaikan kepada orang lain, sedangkan rasul adalah orang yang
mendapatkan wahyu dari Allah yang mempunyai kewajiban menyampaikan kepada
manusia.
Allah menurunkan wahyu untuk
disebarluaskan, bukan untuk disimpan untuk diri sendiri. Sabda Nabi SAW:
“ Telah diperlihatkan
kepadaku umat-umat di mana kulihat
seorang nabi yang disertai banyak pengikut, nabi yang diikuti oleh satu dua
orang serta nabi yang tidak ada pengikutnya”. Hadis tersebut juga
menunjukkan bahwa para nabi itu diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-Nya.
Selanjutnya dia mengemukakan definii yang cukup bagus bahwa rasul adalah orang
yang mendapat wahyu dari Allah berupa syari’at yang baru; sedangkan nabi adalah
seorang yang diutus untuk meneguhkan dan menyampaikan syari’at sebelumnya.
Sedangkan dalam QS. At-Taubah [9]:94,
Yang artinya “ Mereka mengemukakan uzur nya
kepadamu, jika Telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah
:” Janganlah kamu mengemukakan (alasan) ‘uzur; kami tidak percaya lagi
kepadamu, (karena) Allah serta rasulnya akan telah memberitahukan kepada kami
informasi yang sebenarnya. Allah serta rasulnya akan melihat pekerjaanmua,
Kemudian kamu dikembalikan kepada yang Maha Mengetahui lagi ghaib serta yang
nyata, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang Telah dikerjakan.”
Berdasarkan ayat tersebut, maka nabi mempunyai tugas menyampaikan apa saja yang
diwahyukan kepadanya. Oleh karena itu, setiap nabi wajib menyampaikan apa yang
diwahyukan kepadanya berupa syari’at. Jika Tabligh (penyampaian) merupakan buah
dari kenabian, maka tidak ada dalam hokum Allah orang yang diberi wahyu tapi
tidak diperintahkan untuk menyampaikannya.
Nabi mempunyai kriteria. Pertama,
menerima wahyu yang selanjutnya terhimpun dalam satu kitab. Kedua,
membawa syariat atau hokum untuk pedoman hidup, karena itu teladan nabi dan
rasul itu merupakan sumber hokum. Ketiga, memprediksi berbagai hal di
masa yang akan datang, hal tersebut dapat dilihat Pada Nabi Nuh , Ibrahim, Luth
yang telah memperingatkan umatnya, sekalipun telah didustakan.
Salah satu pendapat Al-Musayyar yang menjelaskan syarat-syarat seorang nabi
atau rasul yakni : (1) manusia, (2) laki-laki, (3) merdeka (bukan budak), (4)
terhindar dari aib (cacat) maksum dari perbuatan dosadan salah, (5) Allah
mewahyukan syari’at kepadanya. Adapun ciri
utama nabi ialah mendapat wahyu dari Allah, baik melalui malaikat Jibril, atau
lainnya. Ciri lain nabi ialah mendapatkan mukjizat sebagai perbuatan luar biasa
yang muncul pada seorang nabi (yang telah mendapatkan wahyu.)
Sedangkan menurut Murtadha Muthahhari memiiki
beberapa karakteristik diantaranya:
1.
Wahyu (yaitu nabi merupakan seseorang yang telah
diberi wahyu oleh Allah)
2.
Mu’jizat.
3.
Ishamah.
4.
Kecerdasan.
5.
Kepemimpinan.
6.
Ketulusan niat.
7.
Konstuktivitas.
8.
Konflik dan perjuangan.
Adapun tugas pokok seorang
nabi sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an adalah memberikan kabar gembira (at-tabsyir)
sekaligus memberikan peringatan (al-inzar).
1.
Mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah
SWT.
2.
Menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT.
3.
Membimbing manusia dan menunjukkan ke jalan yang
lurus.
4.
Memberkan teladan bagi umanya.
5.
Menerangkan adanya kebangkitan dari kubur.
B. Dalil Nabi Sebagai Pendidik (QS.
An-Nahl: 43-44)
Artinya:
(43)Dan kami tiidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang
kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.(44)Keterangan-keterangan (mukjizat)
dan kitab-kitab, dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan
pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.
Tafsir Ibn Kasir
Maksudnya, bertanyalah kamu kepada ahli kitab yang terdahulu, apakah rasul
yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika rasulrasul yang diutus kepada mereka adalah malaikat, maka kalian
boleh mengingkarinya. Jika ternyata par a rasul itu adalah manusia, maka
janganlah kalian mengingkari bila Nabi Muhammad Saw. adalah seorang rasul.
Maksudnya, agar mereka merenungkannya buat diri mereka sendiri, lalu mereka
akan mendapat petunjuk dan akhirnya mereka peroleh keberuntungan di dunia dan
akhirat (berkat Al-Qur'an).[4]
Menurut Jalaludin, maksud ayat
ini adalah kami telah mengutus sebelum kamu seorang lelaki yang diberi wahyu
kepadanya. Bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, yakni
ulama yang ahli tentang kitab Taurat dan Injil jika kamu tidak mengetahui hal itu. Para rasul iti membawa
keterangan-keterangan atau dalil-daliyang jelas. (al-bayyinat), dan kitab-kitab suci (al-Zabur), agar kamu menerangkan kepada umat manusia yang
diturunkan kepada mereka yang di dibedakan dalamnya antara halal dan haram.
Menurut riwayat al-Dahak dari
Ibn Abas, ketika Allah mengutus Muhammad Saw, orang-orang Arab mengingkarinya.
Merekan mengatakan bahwa Allah Maha Agung dari menjadikannya utusan-Nya seorang
manusia. Lalu Allah memyuruh mereka untuk menanyakan kepada ahl al-Kitab
(orang-orang Yahudi dan Nasrani),apakah para utusan Allah itu seorang manusia
atau malaikat? Jika mereka malaikat, silahkan ingkari Muhammad Saw. Jika mereka
manusia, jangan kalian mengingkari Muhammad Saw.
Sememtara menurut Ahmad Mushthafa al-Maragi, maksud ayat diatas adalah Kami
telah mengutus para lelaki sebagai rasul-rasul dengan membawa dalil-dalil dan
hujjah-hujjah yang membuktikan kebenaran kenabian mereka, serta kitab-kitab
yang berisi sebagai pembebanan (taklif)
dan syariat. Kami juga menurunkan kepadamu al-Qur’an sebagai peringatan bagi
manusia, agar kamu dapat memberi tahu mereka tentang syariat dan keadaan
umat-umat yang telah dihancurkan sebagai azab bagi mereka yang membangkang,
agar kamu menjelaskan hulum-hukum yang terasa sulit bagi mereka, serta
menguraikan apa yang diturunkan secara garis besar, sesuai tingkat kesiapan dan
pemahaman mereka terhadap rahasia syariat.
Kalau ayat dia atas dikaitkan
dengan pendidikan, ayat ini memberikan gambaran bahwa Nabi Muhammad Saw dan
para ulama berperan sebagai subyek (guru). Mereka memberikan bimbingan atau
penjelasan kepada umat atau mereka yang memerlukan tuntunan atau penjelasan.
Sebagai guru, mereka menyampaikan apa saja yang mereka ketahui. Mereka adalah
orang-orang yang dapat menunaikan amanah yang diberikan Allah.[5]
Rasul merupakan sosok yang
sangat bijak dalam menjalani kehidupan sosialnya, beliau senantiasa menghargai
orang-rang disekitarnya. Rasullulah senantiasa bekerja sama dengan masyarakat
disekitarnya., selama mendapatkan yang baik, maka dia mau bekekerja sama dan ikut
serta di dalammya. Keberadaan Nabi
Muhammad Saw. Sebagai seorang pendidik sekaligus materi pendidikannya yang
merupakan tugas kerasulan beliau sudah dirancang dan dipersiapkan oleh Allah
SWT.seperti dalam firmannya dalam Qs. Ali Imran ayat 164.
Yang artinya: “
Sesungguhnya Allah telah memberi kanunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan
nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Berdasarkan ayat di atas,
jelas bahwa Rasullulah adalah seorang pendidik. Banyak para ahli pendidikan
yang mengatakan bahwa Rasullulah adalah pendidik professional, karena
keberhasilan beliau dalam menyampaikan risalah islam, mengajak kepada
ketauhidan, memperbaiki ibadah dan ahklak manusia pada waktu itu.[6]
C. Nabi Muhammad SAW Mengajarkan Syariat
Metode pengejaran yang
diterapkan Rasullulah adalah (1) metode ceramah, (2) dialog, (3) diskusi atau
tanya jawab, (4) metode diskusi, (5) metode demonstrasi, (6) metode eksperimen,
metode sosio-drama, dan bermain peran. Selanjutnya metode pendidikan ahklak
disampaikan Nabi dengan cara membacakan ayat-ayat al-Qur’an yang berisi
kisah-kisah umat dahulu kala, supaya diambil pelajaran dan I’tibar dari kisah
itu.
Dalam buku Tarbiyat Islamiyat yang ditulis oleh Najib Khalid Al-Anwar,
mengatakan bahwa metode pendidikan islam yang dilakaukan Nabi Muhammad Saw pada
periode Makkah dan Madinah, adalah (1) melalui teguran langsung, (2) melalui
sindira, (3) pemutusan dari jama’ah, (4) melalui pemukulan, (5) melelui
perbandingan kisah-kisah orang terdahulu, (6) menggunakan kata isyarat, (7)
keteladanan.[7]
Rasullulah Saw adalah orang
yang paling banyak mendapatkan hidayah
dari Allah SWT sehingga beliau menjadi
orang yang paling berakhlak mulia. Sebagai contoh dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Ibn ‘Abbas bahwa diantara akhlak
mulia Rasullulah Saw adalah kedermawanan, dan akhlak mulia beliau ini
bertambah kualitasnya pada bulan
Ramadhan ketika Jibril dating setiap malam bulan Ramadhan untuk mengajarkan
kembali al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw.[8]
Rasullulah menjadikan dirinya
sebagai model dan teladan terbaik bagi umatnya. Beliau adalah pelaksana pertama
semua perintah Allah dan meninggalkan semua laranagan-Nya. Oleh karena itu,
para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran islam yaitu dengan meniru dan mneladani perilaku Rasullulah Saw.
Dalam mengajar, beliau
memiliki sifat mulia sehingga maksud ajarannya dapat dismpaikan dan diamalkan
oleh murid-muridnya. Aadapun beberapa sifat mulia yang patut diamalkan oleh
para pendidik dalam meneladani Rasullulah Saw antara lain:
1. Ikhlas dan jujur
2. Adil
3. Ahklak mulia dan tawadhu
4. Berani
5. Sabar dan menahan amarah
6. Menjaga lisan
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Nabi adalah seseorang yang menerima
wahyu dari Allah SWT melalui perantara malaikat atau ilham maupun mimpi yang
besar. Nabi juga memiliki ciri dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Dalil
tentang nabi sebagai pendidik terdapat pada QS. An-Nahl ayat 43-44. Menurut
Ahmad Mushthafa al-Maragi, maksud ayat diatas adalah Kami telah mengutus para
lelaki sebagai rasul-rasul dengan membawa dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang
membuktikan kebenaran kenabian mereka, serta kitab-kitab yang berisi sebagai
pembebanan (taklif) dan syariat. Kami
juga menurunkan kepadamu al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia, agar kamu
dapat memberi tahu mereka tentang syariat dan keadaan umat-umat yang telah
dihancurkan sebagai azab bagi mereka yang membangkang, agar kamu menjelaskan
hulum-hukum yang terasa sulit bagi mereka, serta menguraikan apa yang
diturunkan secara garis besar, sesuai tingkat kesiapan dan pemahaman mereka
terhadap rahasia syariat. Nabi mengajarkan syariat dengan metode ceramah
terutama kepada keluarga terdekat dan para sahabatnya, kemudian kepada kerabat
yang jauh. Selain itu beliau juga menjadi model dan teladan bagi umatnya
DAFTAR PUSTAKA
Ali Maulida. 2013. Konsep dan Desain Pendidikan Ahklak dalam islamisasi
Pribadi dan Masyarakat, Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2
Bukhari Umar. 2014. Hadis Trbawi,
Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Eni Zulaiha.2016. Fenomena Nabi dan Kenabian
dalam Prespektif Al-Qur’an, Jurnal Stidi Al-Qur’an dan Tafsir 1,2.
Mahyudin Barni. 2011. Pendidikan
Dalam Persfektif Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Prisma
Nafizah Anas, Rasullulah Sebagai Pendidik
Profesional.
Zaenal Efendi.2014. Profil Rasullulah sebagai Pendidik Ideal dan
Kontribusinya terhadap perngembangan Pendidikan Islam di Indonesia, Fitrah.
Vol. 8. No.
[1]Mahyudin Barni, Pendidikan Dalam Persfektif Al-Qur’an,
(Yogyakarta:Pustaka Prisma,2011). Hlm, 47-55
[2] Bukhari Umar, Hadis Trbawi, (Jakarta:Sinar Grafika
Offset,2014), hlm., 68
[3]Eni Zulaiha, Fenomena Nabi dan
Kenabian dalam Prespektif Al-Qur’an, Jurnal Stidi Al-Qur’an dan Tafsir 1,2
(Desember 2016), hlm., 150-160
[7]Zaenal Efendi, Profil
Rasullulah sebagai Pendidik Ideal dan Kontribusinya terhadap perngembangan
Pendidikan Islam di Indonesia, Fitrah. Vol. 8. No. 2. Juli –desember 2014,
hlm 211-212
[8]Ali Maulida, Konsep dan
Desain Pendidikan Ahklak dalam islamisasi Pribadi dan Masyarakat,Edukasi
Islami Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2, Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar