SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI
"ALLAH MENGAJAR NABI ADAM"
QS,AL-BAQARAH AYAT:31
Abu Chamid al Ghoyali
NIM. (2117127)
Kelas:A
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI PEKALONGAN
BAB 1
PENDAHULUN
A. Latar Belakang Masalah
Allah swt.
telah mengajarkan kepada manusia dengan beragam karakter yang unik disitulah
titik tanda awal pendidikan. Dalam sejarah, pendidikan telah di lakukan oleh
manusia pertama di muka bumi, yaitu sejak Nabi Adam as. Bahkan didalam
Al-qur’an dinyatakan bahwa proses pendidikan ini muncul karena adanya motivasi
pada diri Adam serta kehendak Allah swt. Sebagai pendidik langsung Adam dengan
mengajarkan beberapa nama. Pada kesempatan ini pemakalah berusaha mengungkapkan
bahwa manusia didunia ini memang benar membutuhkan pendidikan. Karena tanpa
pendidikan hidup manusia akan tidak teratur bahkan bisa merusak sistem
kehidupan didunia. Hal ini terbukti dengan pendidikan Nabi Adam as. Yang
diterima langsung dari Allah swt.
B. Rumusan Masalah
1. jelaskan terbentuknya nabi adam?
2. Tuliskan Q.S Al-Baqarah : 31 beserta artinya?
3. Jelaskan Q.S Al-Baqarah : 31 yang terdapat
di berbagai Tafsir?
4. Sebutkan Aplikasi dalam Kehidupan dan Aspek
Tarbawinya?
C. Tujuan Penulisan
1. untuk
mengetahui terbentuknya nabi adam a.s
2. untuk
mengetahui Q.S Al-Baqarah ayat 31 dan artinya.
3. untuk
mengetahi tafsir dalam Al-Qur’an surat Al- baqarah ayat 31.
4.untuk
mengetahui aplikasi dalam kehidupan aspek tarbawi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Terciptanya Nabi Adam A.S.
Sesudah
langit dan bumi, malaikat dan jin atau iblis diciptakan. Maka Allah hendak
menciptakan makhluk yang akan diperintah untuk mengelola bumi. Hal itu
diutarakan kepada para malaikat. “Aku akan menciptakan manusia untuk menjadi
pengaturdibumi.”
Para malaikat mengira lalai dalam menjalankan tugasnya maka mereka berkata, “Mengapa Tuhan menciptakan manusia ? Bukankah mereka hanya akan berbuat kerusakan di atas bumi. Mereka akan saling bermusuhan dan berbunuhan. Sedangkan kami para malaikat senantiasa patuh dan mengagungkan nama-Mu ?”
Untuk melenyapkan kekhawatiran para malaikat itu, Allah kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Para malaikat bungkam mendengar penegasan Allah itu. Bukankah Allah maha mengetahui segala sesuatu? Demikianlah Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh ke dalamnya. Adam pun kemudian hidup. Bisa berdiri tegak.
Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud atau menghormat kepada Adam. Para Malaikat pun bersujud sebagai pernyataan hormat dan ucapan selamat atas terciptanya Adam. Hanya Iblis yang tidak mau bersujud. Ia membangkang perintah Allah.
“Apakah yang membuat engkau tidak mau bersujud kepada Adam?”
“Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan saya dari api sedang Adam hanya dari segumpal tanah.” kata Iblis menyombongkan diri. Yang berpendapat api lebih baik daripada tanah adalah Iblis sendiri. Padahal hanya Tuhanlah yang Maha Tahu siapa yang lebihmulia.
Allah murka mendengar jawaban Iblis, “Hai Iblis keluarlah engkau dari sorga. Sungguh tidak patut kau tinggal di sini lagi dan terkutuklah engkau selama-lamanya!”
Iblis berkata, “Wahai Tuhan! Engkau kutuk dan Engkau usir aku dari sorga karena Adam. Saya rela. Tapi kabulkanlah permohonan saya untuk hidup lama hingga hari kiamatnanti.”
Permohonan Iblis dikabulkan. Ia akan dibiarkan hidup sampai hari kiamat tiba. Iblis kemudian bersumpah, “Ya, Tuhan karena Engkau telah menghukum saya sebagai yang tersesat, maka saya akan menghalang-halangi Adam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus. Saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang dari kiri dan dari kanan!”
Itulah sumpah Iblis. Ia bertekad akan menyesatkan Adam dan keturunannya agar mereka menjauhi perintah Tuhan berbuat kekacauan di muka bumi, sating bermusuhan dan berbunuhan satu sama lain.
Para malaikat mengira lalai dalam menjalankan tugasnya maka mereka berkata, “Mengapa Tuhan menciptakan manusia ? Bukankah mereka hanya akan berbuat kerusakan di atas bumi. Mereka akan saling bermusuhan dan berbunuhan. Sedangkan kami para malaikat senantiasa patuh dan mengagungkan nama-Mu ?”
Untuk melenyapkan kekhawatiran para malaikat itu, Allah kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Para malaikat bungkam mendengar penegasan Allah itu. Bukankah Allah maha mengetahui segala sesuatu? Demikianlah Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh ke dalamnya. Adam pun kemudian hidup. Bisa berdiri tegak.
Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud atau menghormat kepada Adam. Para Malaikat pun bersujud sebagai pernyataan hormat dan ucapan selamat atas terciptanya Adam. Hanya Iblis yang tidak mau bersujud. Ia membangkang perintah Allah.
“Apakah yang membuat engkau tidak mau bersujud kepada Adam?”
“Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan saya dari api sedang Adam hanya dari segumpal tanah.” kata Iblis menyombongkan diri. Yang berpendapat api lebih baik daripada tanah adalah Iblis sendiri. Padahal hanya Tuhanlah yang Maha Tahu siapa yang lebihmulia.
Allah murka mendengar jawaban Iblis, “Hai Iblis keluarlah engkau dari sorga. Sungguh tidak patut kau tinggal di sini lagi dan terkutuklah engkau selama-lamanya!”
Iblis berkata, “Wahai Tuhan! Engkau kutuk dan Engkau usir aku dari sorga karena Adam. Saya rela. Tapi kabulkanlah permohonan saya untuk hidup lama hingga hari kiamatnanti.”
Permohonan Iblis dikabulkan. Ia akan dibiarkan hidup sampai hari kiamat tiba. Iblis kemudian bersumpah, “Ya, Tuhan karena Engkau telah menghukum saya sebagai yang tersesat, maka saya akan menghalang-halangi Adam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus. Saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang dari kiri dan dari kanan!”
Itulah sumpah Iblis. Ia bertekad akan menyesatkan Adam dan keturunannya agar mereka menjauhi perintah Tuhan berbuat kekacauan di muka bumi, sating bermusuhan dan berbunuhan satu sama lain.
B.
TEORI Q.S AL-BAQARAH,2: 31
Salah satu yang membedakan manusia
dari hewan adalah kepandaiannya dalam berbicara karena Allah swt. Yang telah
menganugerahi kepandaian tersebut sehingga manusia mampu mengenal, mengingat,
dan mengucapkannya. Manusia juga menciptakan kata-kata yang memiliki makna,
tidak seperti makhluk lain. Hal ini di jelaskan dalam firmanNya : “Yang Maha
Pemurah yang telah mengajarkan Al-qur’an, Dia menciptakan manusia dan
mengajarkannya pandai bicara” (QS. Ar Rahman : 1-4).[1]
Dalil allah mengajar nabi adam:
وَعَلَّمَ
آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam
nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!" (Qs,AL-Baqarah,2:31)
C.
Kandungan Q.S AL-BAQARAH,2:31
ayat ini Allah swt. Menunjukkan suatu keistimewaan yang telah di
karuniakan-Nya kepada Adam as. Yang tidak pernah dikaruniakan kepada makhluk
lain, yaitu ilmu dan pengetahuan dan kekuatan akal atau daya pikir yang
memungkinkannya untuk mempelajari sesuatu dengan sedalam-dalamnya, sehingga
Adam as. Beserta keturunannya lebih patut untuk dijadikan “Khalifah” dibanding
makhluk lainnya. Allah swt. Mengajarkan pada Nabi Adam as. Berupa nama-nama dan
sifat-sifat dari semua benda yang Malaikat pun tidak bisa menjawab pertanyaan
yang Allah swt. Berikan, hal ini untuk memperlihatkan keterbatasan ilmu
pengetahuan para malaikat itu dan agar mereka mengetahui bahwa Allah swt. Maha
mengetahui dari apa yang mereka (malaikat) tidak tahu.[2]
D . TAFSIR AYAT BERDASARKAN KITAB TAFSIR
1. Tafsir Al-Misbah
Dia yakni Allah swt. Mengajar Adam nama-nama benda seluruhnya, yakni
memberinya potensi pengetahuan tentang nama-nama atau kata-kata yang digunakan
menunjuk benda-benda, atau mengajarkannya mengenal fungsi benda-benda. Ayat ini
menginformasikan bahwa manusia di anugrahi oleh Allah potensi untuk mengetahui
nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi
angin, dsb. Dia juga di anugrahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran
bahasa kepada manusia (anak kecil) bukandimulai dengan kata kerja, tetapi
mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa ini Mama, itu pena itu buku,
dsb. Itulah makna yang dipahami oleh para ulama dari firmanNya : “Dia mengajar
Adam nama-nama (benda) seluruhnya”.
Setelah pengajaran Allah dicerna
oleh Adam as, sebagaimana dipahami dari kata kemudian, Allah mengemukakannya
benda-benda itu kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu, jika kamu benar , dalam dugaan kamu bahwa kalian lebih
wajar menjadi khalifah. Sebenarnya perintah ini bukan bertujuan penugasan
menjawab, tetapi bertujuan membuktikan kekeliruan mereka. Para Malaikat pun
menjawab sambil menyebut menyucikan Allah swt. “Maha suci Engkau, Engkaulah
yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Maksud mereka (Malaikat) apa yang
Engkau tanyakan itu tidak pernah diajarkan kepada kami. Engkau tidak ajarkan
kepada kami itu bukan karena Engkau tidak tahu, tetapi karena ada hikmah
dibalik itu. Itulah yang menjadikan manusia istimewa karena kemampuannya yang
diberi Allah kepadanya berupa kemampuan mengekspresikan apa yang terlintas
dibenaknya, serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga ini mengantarnya
kepada “Pengetahuan”. Di sisi lain, kemampuan manusia merumuskan ide dan
memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia
berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.[3]
2. Tafsir Al-azhar
Sebelum kita bahas mengenai makna pada ayat 31 ini sebelumnya telah turun
ayat berturut-turut yaitu 28 dan 29 yang Allah terangkan pada Firman-Nya adalah
yang makna intinya sebagai berikut : “Bagaimana kamu kufur terhadap nikmat
Allah”?, padahal seluruh isi bumi telah disediakan untukmu, lalu turunlah ayat
khalifah : “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan yang engkau berkata kepada Malaikat :
Sesungguhnya Aku hendak menjadikan dibumu seorang khalifah” (pangkal ayat 30).
Lalu “Mereka berkata : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang
merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji
Engkau dan memuliakan Engkau? Dia Berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui !” (ujung ayat 30). Disitu para malaikat meminta
penjelasan dan Allah menyatakan maksud-Nya bahwa Allah swt. Tidak membantah
pendapat dari Malaikat-Nya, namun Allah menjelaskan bahwasannya pendapat dan
ilmu mereka tidaklah seluas dan sejauh pengetahuan Allah.
Bukanlah Tuhan memungkiri bahwa kerusakanpun akan timbul dan darahpun akan
tertumpah tetapi ada maksud lain yang lebih jauh dari itu, sehingga kerusakan
hanyalah sebagai pelengkap saja dan pembangunan dan pertumpahan darah hanyalah
satu tingkat perjalanan hidup saja di dalam menuju kesempurnaan. Demikian
sedikit penjelasan mengenai pertanyaan Malaikat. Kemudian di turunkan lanjutan
ayat yaitu Allah menciptakan khalifah dan khalifah itu ialah Adam. “Dan telah
diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya” (pangkal ayat 31). Artinya
diberilah oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu. “kemudian Dia kemukakan
semuanya kepada Malaikat. Lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama
itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.” (ujung ayat 31).
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Tuhan nama-nama yang
dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan pancraindra maupun dengan akal
semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya. Kemudian Tuhan panggillah
Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan
adakah mereka tahu nama-nama itu ? Jika benar pendapat mereka selama ini bahwa
jika khalifah itu penyebab terjadinya kerusakan dan pertumpahan darah, sekarang
cobalah jawab pertanyaan Tuhan : Dapatkah mereka menunjukan nama-nama itu ?
maka turunlah ayat 32 “Mereka menjawab : Maha Suci Engkau! Tidak ada
pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena
sesungguhnya Engkaulah yang Maha Tahu, lagi Maha Bijaksana.” (ayat 32).[4]
Pelajaran
yang dapat dipetik dari surat al-baqarah ayat
31 :
1. Allah swt. Adalah Pencipta manusia yang
ditugasi-Nya menjadi khalifah, yakni mengelola bumi sesuai dengan tuntunan-Nya.
Pengelolaan dimaksud, antara lain adalah memelihara dan mengembangkannya sesuai
dengan penciptaan masing-masing.
2. Manusia
adalah makhluk yang mempunyai kelebihan karena ilmu yang dianugerahkan Allah
swt. Kepadanya tanpa mengembangkan potensi pengetahuan, maka seseorang tidak
wajar memperoleh kedudukan terhormat sebagai manusia.
3. Yang bertugas memiliki tanggung jawab harus
memahami tugas yang diembannya serta mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan
tugas itu. Allah swt. Menyampaikan rencana-Nya kepada malaikat agar malaikat
yang bertugas menangani manusia dan penciptaan alam mengetahui tentang objek
tugasnya, baik dalam hal pemeliharaan, pencatatan amal, kematian, dll. Demikian
juga halnya dengan manusia yang diberikan potensi ilmu menyangkut segala
sesuatu serta pengalaman manis berada di syurga dan pahit di gelincirkan setan
agar menjadi bekal dalam melaksanakan tugas kekhalifahan dan mengelola bumi
guna menciptakan bayang-bayangsyurga di pentas bumi serta menyadari dampak
buruk mengikuti setan.
4. Allah swt. Senang dan menghendaki agar
hamba-hambaNya yang berdosa segera bertaubat.
5. Manusia sangat memerlukan petunjuk Ilahi guna
menghilangkan keresahan dan meraih kebahagiaan, sebagaimana dipahami dari
penyesalan Nabi Adam as. Dan kegelisahannya yang tersingkap dengan adanya
bantuan Ilahi.
6. Islam tidak mengenal dosa waris, bukan saja
karena Allah swt. Telah mengampuni Nabi Adam as. Atas kesalahannya, tetapi
karena juga seseorang tidak boleh/dapat menanggung dosa yang dilakukan orang
lain. Mengukuhkan dosa kepada orang lain adalah penganiayaan bagi yang tidak
berdosa.[5]
B. APLIKASI DALAM KEHIDUPAN
Pertama,
membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah swt.
Sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia ibarat setitik air laut secara
keseluruhan. Oleh karena itu manusia tidak ada alasan untuk sombong dan
menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran kedurhakaan kepada yang Maha
Mengetahui segalanya. Seharusnya manusi menjadikan ilmu untuk alat ber-taqarub kepadaNya
sebagaimana perilaku para ulil albab.
Kedua,
dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt. Sangat luas, tidak ada satupun - betapa
pun kecil dan halusnya – yang luput dari ilmuNya maka manusia akan dapat
mengontrol tingkah laku, ucapan amalan bathinnya sehingga selalu sesuai dengan
yang diridlai Allah swt.
Ketiga,
keyakinan terhadap ilmu Allah swt. Akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala
penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah
dengan mengaplikasikan sifat Allah swt. Tersebut dalam kehidupan nyata
sehari-hari, berusaha melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya karena
Allah Maha Melihat, Mendengar, memperhatikan segala apa yang kita lakukan
dimana saja.
D.
ASPEK TARBAWI
1. Allah SWT
mengajari kita kekuatan, dengan cara memberi kita kesulitan-kesulitan untuk
membuat kita tegar.
2. Allah SWT
mengajari kita kebijakan, dengan cara memberi kita berbagai persoalan hidup
untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
3. Allah SWT
memberi kita kemakmuran, dengan cara memberi kita otak dan tenaga untuk
dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
4. Allah SWT
mengajari kita keteguhan hati, dengan cara memberi bencana dan bahaya untuk
diatasi.
5. Allah SWT
mengajarkan kita cinta, dengan cara memberi kita orang-orang bermasalah untuk
diselamatkan dan dicintai.
6. Allah SWT
mengajari kita kemurahan dan kebaikan hati, dengan cara memberi kita
kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
7. Dan Allah
SWT mengajari kita terhadap apa yang tidak kita ketahui. Akhirnya kita tahu,
ternyata Allah menyelipkan ilmu dalam setiap benda ciptaan-Nya. Dan kita
sebagai manusia sekaligus sebagai “peserta didik”-Nya diwajibkan untuk
mengikuti kurikulum rancangan-Nya. Karna alam ini adalah universitas tanpa
batas, universitas tanpa pagar sebagai grand-design yang amat sempurna.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Demikianlah Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna,
seimbang, beraturan, sistemik. Maka Allah lah yang paling tahu hakikat dan
tujuan penciptaan-Nya, dan telah dikabarkan-Nya ciptaan Allah SWT. Itu kepada
manusia. Manusia telah diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya,
sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya,
serta mengagungkan-Nya. Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya
apa-apa yang telah diciptakan dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan
menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan
yang menyebar ke setiap penjuru dunia. Dengan ilmunya manusia diharapkan
menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.
B. SARAN
Apa yang ada
dalam makalah ini bukan semata pemikiran penulis, akan tetapi diambil dari
berbagai referensi yang berkaitan dengan judul yang ditugaskan kepada kami,
untuk itu marilah kita ambil hikmah dan manfaatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Qayim Al-Jauzi, 2001 Tafsir Ayat Al-qur”an Tafsir Tarbawi JakartaPT.RajaGrafindo Persada
M. Quraish Shihab, 2000 Tafsir
Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-qur’an Ciputat Tangerang: Penerbit
Lentera hati
Dr. Hamka, 1982 Tafsir Al-Azhar Juz
Jakarta: Pustaka Panjimas
M. Quraish Shihab, Al-Lubab 2012
Makna,Tujuan, dan Pelajaran dari Surat-surat
Al-qur’an Ciputat Tangerang: Lentera Hati
Al-maraghi,A.M, 1985 tafsir al-maraghi jilid 1,semarang:toha putra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar