OBYEK PENDIDIKAN DIRECT
(Istri
Keturunan Penyejuk Hati)
QS. Al-Furqan, 25: 74
Siti
Rubaedah Indriani
NIM. (2117276)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Al-qur’an
adalah firman Allah yang sangat rapih dan sopan. Al-qur’an menata semua hal
didunia maupun di akhirat bahkan dalam masalah percintaan Al-qur’an mengatur
dengan baik. Di dalam pernikahan Al-qur’an mengaturnya dan memerintahkan setiap
muslim yang bertaqwa untuk mengikuti apa yang telah diperintahkan. Pola pikir
yang berbeda antara istri dan suami dapat menyebabkan konflik yang
lama-kelamaan dapat memicu perceraian. Lemahnya iman juga menjadi pemicu dalam
berumah tangga. Kemudian masalah-maslah rumah tangga yang sering bermunculan
karena kurangnya ilmu agama dan budi pekerti yang buruk tersebut sudah dijawab
dalam surat Al-Furqan tentang do’a supaya
diberi istri dan keturunan yang shalih-shalihah, agar menjadikan mereka para
suami yang menjadi teladan bagi kaum yang bertaqwa.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
hakikat istri dan keturunan?
2. Bagaimana
dalil istri dan keturunan sebagai penyejuk hati?
3. Apa yang
dimaksud dengan rumah tangga laksana taman surga?
4. Bagaimana
pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari?
5. Aspek
Tarbawi?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui hakikat istri dan keturunan
2. Untuk
mengetahui dalil istri dan keturunan sebagai penyejuk hati
3. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud rumah tangga laksana taman surga
4. Untuk
mengetahui cara pengaplikasian Qs. Al-furqon ayat 25:74 dalam kehidupan
sehari-hari
5. Untuk
mengetahui aspek tarbawi dalam penjelasan berikut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Istri dan Keturunan
Istri
berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah wanita atau perempuan. Yaitu
seorang perempuan yang sudah menikah atau yang dinikahi.
Keturunan artinya anak, cucu atau generasi. Keturunan
yang dimaksud disini yaitu anak.
Penyejuk
hati berarti obat penawar atau obat rasa obat rasa gundah dan segala
ganjalan-ganjalan masalah jiwa dan raga atau jasmani dan rohani. Penyejuk hati
juga bisa disebut dengan sumber kebahagiaan. [1]
B. Dalil dan Tafsir
Q.S Al- Furqon, 25 : 74
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ
لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya : “ Dan orang-orang berkata,’ Ya Tuhan kami
anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertaqwa.” [2]
1. Tafsir Al-maraghi
Orang orang
yang memohon kepada Allah supaya diberikan keturunan yang taat dan beribadah
semata mata kapada-Nya dan tidak menyekutkan dengan yang lain. Sebenarnya bagi
orang yang beriman, apabila melihat keluarganya seperti dirinya, maka tentunya
dia akan merasa senang dan gembira. Dia mengharapkan mereka agar dapat berguna
sepanjang hidupnya dan akan bertemu denganya diakhirat. Mereka memohon agar
Allah menjadikan mereka sebagai imam yang diteladani dalam menegakkan agama
dengan menganugerahkan ilmu yang luas serta memberinya taufik kepada mereka
untuk menjalankan amal saleh. Yang sudah tercantum dalam QS Al-Furqon ayat 74
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَب
لَنَا مِن اَزوَا جِنَا وَذُرِيَتِنَا قُرَةَ اَءيُنٍ وَاجحَتِنا لِلمُتَقِينَ
اِمَامًا
Artinya: “Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Tuhan
kami, anugerahkan-lah kepada kami istri istri kami dan keturunan kami penyejuk
hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang orang yang bertaqwa.
2. Tafsir
Al-Azhar
Bahwa salah
satu sifat ‘Ibadur Rahman itu senantiasa bermohon kepada Tuhanya supaya agar
isteri- isteri mereka dan anak anak mereka dijadikan buah hati permainan mata,
obat jerih pelerai demam, menghilangkan segala luka dalam jiwa, penawar segala
kekecewaan hati dalam hidup. Betapapun condong hati seorang suami mendirikan
kebajikan, kalau tidak ada sambutan dari isteri, hati suami pun akan luka juga.
Tujuan hidup muslim adalah jamaah bukan hidup yang nafsi nafsi.Dalam hadits
Rasulullah Saw dikatakan: ‘’Dunia ini adalah perhiasan hidup, dan sebaik
baiknya perhiasan itu adalah isteri yang shalihah.
Apalagi
seorang anak. Semua kita yang beranak berketurunan merasakan sendiri. Bahwa
inti kekayaan adalah putra putri yang berbakti, berhasil dalam hidupnya. Dia
berilmu, dia beriman dan beragama dan dapat menempuh hidup dalam segala
kesulitanya. Dan setelah dia besar tumbuh dewasa dia tegak sendiridala rumah
tangganya. Inilah anak yang akan menyambung keturunan bahagia yang tidak ada
habis habisnya. [3]
C. Rumah
Tangga Laksana Taman Surga
Rumah tangga
dalam islam adalah ‘tempat berteduh’, tempat terwujudnya suasana sakinah
(tenteram) yang disempurnakan dalam mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang).
Suasana yang
sakinah, mawaddah, rahmah inilah yang dibutuhkan oleh setiap bayi yang lahir
sebagai buah dari pernikahan. Anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang
tentram, diliputi rasa kasih sayang, pasti akan menjadi anak yang tumbuh
normal, dewasa, dan matang kepribadiannya. Sebaliknya apabila bayi lahir dari
kegelisahan, kebencian, dan kekejaman dalam rumah tangga kelak akan menjadi
ank-anak yang membalas dendam kepada masyarakat dimana dia hidup. [4]
Pada intinya
jadikanlah rumah sebagai fondasi, tempat awal lahirnya sosok-sosok pribadi
terbaik umat islam yang menjalankan ajaran islam sepenuhnya, sehingga dari
sanalah keberkahan dan ridho akan tercurah. Rumah akan terasa aman, nyaman dan
damai.[5]
D. Aplikasi
Dalam Kehidupan
Setiap
isteri harus ikhlas terhadap pemberian suaminya, setiap apa yang suami
nafkahkan kepada isterinya, tidak meminta
lebih ataupun kurang, asalkan nafkah yang diberi tersebut halal. Isteri juga
wajib ikhlas dengan pekerjaan yang ditanggungnya dalam kehidupan berumah
tangga. Setiap isteri wajib taat kepada suami, setiap apa yang diperintahkan
suai asal tidak maksiat aka isteri wajib untuk mentaatinya dan hendaklah
seorang isteri rajin dalam urusan rumah tangga. Setiap suami harus membimbing
isteri dan anaknya serta selalu mendoakan kebaikan untuknya. Setiap anak harus
melaksanakan segala perintah orang tua dan mengasihinya serta mengerti keadaan
kondisi keluargaanya.
E. Aspek Tarbawi
1.
Pendidikan awal yang dialami seorang anak adalah pendidikan keluarga.
2. Suami
isteri harus mempersiapkan kondisi yang dapat membuat mereka gembira.
3. Anak yang
saleh dan shalehah adalah penenang, seorang ayah dan ibu serta menjadi
kebanggaan ereka.
4. Seorang
isteri harus ikhlas dengan tanggung jawab pekerjaanya dalam berumah tangga
menerima dengan ikhlas nafkah dari suami. [6]
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz XIX, 1982 (JAKARTA:
PUSTAKA PANJIMAS.)
Al-maragi,Ahmad Musthafa
TafsirAl-maraghi,JuzXXI,1993(Semarang: PT.Karya Toha Putra,)
Nashir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman. 2016. Tafsir
Al-Qur’an. Jakarta : Dar Ibn al-Jauzi, KSA,
Hidayatullah. 2016. Jadikan Rumah tangga Kita sebagai
“Baiti Jannati”. vol.16. No.20
Zaidan, Ibnu. 2015. Jadikan Rumah Laksana Surga
sebelum Surga Sesungguhnya. vol.25. No.2
[1] Hamka, Tafsir Azhar Juzu XIX (Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1982) hlm:49
[2] Syaikh Abdurrahman bin
Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur,an,
(Jakarta: Dar Ibn al-Jauzi, KSA, 2016),hlm:207
[3] Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi Juz XXI,( Semarang: PT
Toha Putra, 1993) hlm.77-78
[4] Hidayatullah, Jadikan Rumah Tangga Kita Sebagai “Baiti
Jannati”, vol.16, No.20, Februari 2016, hlm.24-25
[5] Ibnu Zaidan, Jadikan Rumah Laksana Surga sebalum Surga
Susungguhnya, Vol.25, No.2, Desember 2015, hlm.9
[6] Hamka, Tafsir Al-Azar Juzu XIX, (Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1982)nlm.200
Tidak ada komentar:
Posting Komentar