SUBYEK PENDIDIKAN MAJAZI
"NABI RAHMATAN LIL ALAMIN"
QS.AL-ANBIYAA’21:107
FESTI ALFON FANINDA
NIM. (2117259)
Kelas D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nabi Muhammad saw adalah pembawa
kedamaian ,kesejahteraan, dan pembawa berita gembira sekaligus untuk kemauan
mayarakat. Islam agama yang sangat mengajurkan agar hidup penuh dengan
kedamaian, oleh karena itu islam memberi ketentuan yang jelas sekiranya terjadi
pertentangan antara individu, msyarakat atau dunia secara keseluruhan.
Rahmatan lil alamin itu rasa
kasih sayang Allah SWT karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya
diseluruh alam semesta. Islam mewujudkan sebuah kenikmatan yang berupa rasa
kedamaian dan ketentraman bagi manusia dan juga meliputi dimensi kehidupan
manusia.
Nabi Muhammad saw sebagai
rahmatan lil alamin artinya beliau diutus sebagai rahmatan lil alamin artinya
beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan rahmat-Nya dengan cara
memperbaiki akhlak. Pada saat itu masyarakat rusak moralnya hingga norma-norma
kesusilaannya bahkan jauh menyimpang dari ajaran Allah. Semuanya diberantas dan
di perbaiki, kemudian di ganti dengan akhlakul karimah yang sesuai dengan wahyu
Allah SWT.
B. RumusanMasalah
1.
Bagaimana pengertian hakikat rahmat
2.
Jelaskan dalil Nabi Muhammad SAW sebagai
Rahmatan lilAlamin
3.
Apa saja ayat al quran yang menjelaskan tentang
pendidikan penuh kasih sayang
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui tentang pengertian hakikat rahmat
2. Untuk
mengetahui tentang dalil Nabi
Muhammad SAW sebagai Rahmatan lilAlamin.
3. Untuk
mengetahui ayat al
quran yang menjelaskan tentang pendidikan penuh kasih sayang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat rahmat
Menurut arti bahasa, bahwa rahmat
itu berasal dan kata rahima yang berarti kasih sayang. Adapun yang dimaksud
dengan istilah syar’iyyah ialah: kasih sayang (karunia) Allah yang
dilimpahkan-Nya kepada semua makhluk-Nya.[1] Rahmat adalah sistem ajaran yang membawa kebahagiaan
bagi manusia dan juga mendapatkan rahmat yang lebih penting yaitu adanya
kemerdekaan untuk berpikir yang bisa menjadikan akal yang di milikinya tidak
takut untuk maju dalam menentukan suatu maju dalam menentukan kebenaran menjadikan suatu
keseimbangan di antara kesuburan jasmani dan rohani. Dan juga nabi Muhammad membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan baik di
dunia maupun diakhirat.
Kepribadian nabi Muhammad saw.sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan,
bahkan seluruh seluruh totalitas beliau adalah rahmat, bertujuan mempersamakan
totalitas beliau dengan ajaran yang beliau sampaikan, karena ajaran beliau
adalah rahmat menyeluruh dan menyatu ajaran dan penyampai ajaran, menyatu
risalah dan rasul, dan karena itu pula
rasul saw.
Rahmatan lil alamin adalah
bahwa sementara pakar memahami kata alam dalam arti kumpulan sejenis makhluk allah yang hidup,
baik hidup sempurna maupun terbatas. Rahmat itu terpenuhilah hajat batin
manusia untuk meraih ketenangan, ketenteraman, serta pengakuan atas wujud,
bakat, dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan
besar,menyangkut perlindungan, bimbingan dan pengawasan serta saling pengertian
dan penghormatan.
B. Dalil Rahmatan lil alamin
ؤماار سلنك الارحمةللعلمين(107)
Artinya:’’Dan kami tidak mengutusmu (wahai rasul),melainkan untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam.(QS.AL-ANBIYYA
21:107)
Dalam Kami Tidaklahmengutusmu, wahaiRasul, kecuali sebagai rahmat bagi
seluruh manusia.Maka barang siapa beriman kepadamu, niscaya dia akan berbahagia
dan selamat, dan barang siapa tidak beriman, maka dia akan gagal dan merugi.
Tafsiran
1. Tafsir Al
Maraghi
Tidaklah kami mengutusmu dengan membawa pelajaran ini
dan yang serupa dengannya berupa syari’at dan hukum yang merupakan sumber
kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali agar kamu menjadi rahmat dan petunjuk
bagi manusia dalam urusan dunia dan akhirat.Hal ini dapat di jelaskan, bahwa
Rasulullah SAW diutus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslatan di dunia dan akhirat.
Hanya saja, orang kafir tidak mau memanfaatkannya dan berpaling darinya akibat
kesiapan dan tabiatnya yang telah rusak, tidak menerima rahmat ini, sehingga
dia tidak merasakan kebahagiaan dalam urusan agama maupun urusan dunia. [2]
2. Tafsir Al Mishbah
Ayat yang lalu menegaskan bahwa al qur’an merupakan peringatan, atau bekal
menuju kebahagiaan abadi serta kecukupan bagi siapa yang siap untuk menjadi
pengabdi yang tulus kepada Allah swt. Al qur’an turun kepada Nabi Muhammad SAW.
Untuk beliau sampaikan kepada umat manusia.Dapat juga dikatakan karena tema
utama surah ini tentang kenabian, dan namanya pun adalah al anibiyya yang
menguraikan kisah dan keistmewaan enam belas orang diantara mereka, diakhiri
dengan keistimewaan Nabi Isa as.Dan beliau, maka sangat wajar pula bila
keistimewaan Nabi Muhammad SAW.Keistimewaan tersebut adalah kepribadian beliau
merupakan rahmat disamping ajaran-ajaran yang beliau sampaikan dan
diterapkan.Ayat ini menyebut empat hal pokok :
a)
Rasul /utusan Allah dalam ini
Muhammad SAW
b)
yang mengutuskan beliau dalam
hal ini Allah.
c)
yang diutus kepada mereka
(al-alamin).
d)
risalah, yang kesemuanya
mengisyaratnya,yakni rahmat yang sifatnya sangat besar sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah/indifinitif.
Sebagaimana
sabda beliau:”aku didik oleh tuhanku maka sungguh baik hasil
pendidikannya”kepribadian beliau dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang
allah limpahkan kepada beliau melalui ayat-ayat al qur’an,tetapi kelabu beliau
di sinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam
dengan beliau merupakan rahmtun muhdab sebagaimana pengakuan beliau yang
diriwayatkan oleh Muhammad ibn thahir al-maqdasi melalui abu hurairah yakni
beliau adalah rahmat yang dihaiakan oleh allah kepada seluruh alam.[3]
3.
Tafsir ibnu katsir
Firman Allah
Ta’ala “Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta
alam. “Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan nabi Muhammad SAW.
Barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat in, maka
berbahagialah dia di dunia dan diakhirat.
Rahmat macam apakah yang
dapat diperoleh yang kafir kepadanya jawabnya iaalah keterangan yang
diriwayatkan oleh abu ja’far bin jarir ibnu abbas , sehubungan dengan firman
allah,”dan tidaklah kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta
alam”,yaitu barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka
ditetapkanlah baginya rahmat di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya maka dia di hindarkan dari musibah yang menimpa umat terdahulu berupa
penenggelaman dalam bumi dan hujan batu.[4]
C. Pendidikan Penuh Kasih Sayang
Dalam hal
pendidikan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam membawa anak menuju
tujuannya yaitu kedewasaan. Orang tua sudah seharusnya menumpahkan kasih sayang
terhadap anaknya selama mereka membimbingnya sampai mencapai dewasa. Begitu
juga guru sebagai pendidik, harus menyadari bahwa kasih sayang merupakan syarat
mutlak dalam melakukan interaksi dengan anak didiknya. Tanpa kasih sayang,
pendidikan tidak akan bermakna apa-apa. Rasulullah
sendiri merupakan pendidik yang penuh kasih sayang. Beliau merupakan seorang
yang halus perasaanya dan penyayang. Seorang pendidik harus mempermudah
peerta didik dan tidak mempersulit peserta didik, karena Islam sendiri
merupakan agama kasih sayang, mudah, dan damai.
D. Aspek Tarbawi
1. Sebagai
seorang pendidik senantiasa menjadi pendidik yang penuh kasih sayang, tidak
mudah marah, dan selalu memudahkan peserta didik.
2. Sebagai
seorang siswa senantiasa belajar dengan baik dan rajin.
3. Senantiasa
menyayangi alam dan tidak merusaknya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Nabi
Muhammad saw merupakan pembawa rahmatan lil alamin yaitu pembawa rahmat bagi
seluruh makhluk yang ada di alam semesta, yaitu bagi seluruh muslimin dan untuk
manusia yang menaati beliau, tak terkecuali bagi tumbuhan dan hewan.
Kedatangannya membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umatnya. Dengan
perilaku beliau yang baik kepada seluruh orang muslimin maupun non muslim mampu
mewujudkan suasana kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Dalam hal mendidik
nabi Muhammad merupakan pendidik yang penuh kasih sayang, terlihat beliau tidak
pernah mempersulit dan selalu mempermudah, serta perkataan beliau yang lembut
dan tenang sehingga dapat dipahami dengan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
Nasib, Muhammad. 1999. Ar –Rifa’I,Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta
:Gema insani press.
Shihab, M.Quraish. 2002. tafsir al-mishbah. Jakarta: Lentera hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar