"NABI SEBAGAI SURI TAULADAN"
Qs. Al-Ahzab ayat 21
Asti Zaeni
NIM. (2117289)
Kelas E
JURUSAN PAI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Suatu pendidikan tidak akan sukses melainkan harus disertai dengan
pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Dalam pendidikan, sebuah keteladanan sangat berpengaruh besar
dalam penanaman pendidikan karakter peserta didik yang berjangka panjang.
Cara yang demikian telah dilakukan oleh Rasulullah saw.
Rasulullah SAW adalah orang yang
pertama kali menerapkan Islam secara total. Ia mendapat bimbingan dan
pengarahan langsung dari Allah melalui wahyu-Nya. Makà, tidak ada seorang pun
yang lebih mengetahui dan memahami Islam selain Rasulullah Muhammad SAW. Karena
itulah tidak ada suri tauladan yang baik dan menjamin seseorang mendapat rahmat
Allah SWT baik didunia maupun di akhirat, kecuali suri tauladan yang datang
dari Rasulallah Muhammad Saw.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa hakikat Nabi sebagai suri tauladan?
2.
Apa dalil Nabi Muhammad SAW sebagai suri Tauladan?
3.
Apa pendidik merupakan Suri Tauladan dan idola bagi peserta didik?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui Nabi sebagai suri tauladan
2.
Untuk mengetahui dalil Nabi sebagai suri tauladan
3.
Untuk mengetahui pendidik merupakan suri tauladan dan idola bagi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
A.
NABI SEBAGAI SURI TAULADAN
Nabi Muhammad Saw. merupakan teladan yang baik bagi umat Muslim di
sepanjang sejarah, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat, sebagai
pelita yang menerangi, bagai purnama yang memberikan petunjuk. Allah juga
meletakkan dalam personalitas Rasulullah gambaran sempurna untuk metode Islami,
agar menjadi gambaran yang hidup dan abadi bagi generasi-generasi umat
selanjutnya dalam kesempurnaan akhlak dan universalitas keagungannya. Segala
yang dilakukan Rasulullah merupakan uswah hasanah bagi kehidupan manusia karena
beliau dinyatakan sebagai manusia yang berakhlak mulia. Allah menegaskan dalam
firman-Nya: Artinya: “Sesungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 21). Serta Q.S. Al-Qalam: 4. Artinya: “Dan
sesungguhnya kamu (rasul) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Dengan demikian, seluruh perilakunya selalu
menjadi pelajaran bagi umatnya dulu, kini dan yang akan datang, baik dalam
bidang agama, politik, ekonomi dan sosial budaya. Berikut ini akan dijelaskan
lebih lanjut mengenai profil Rasulullah yang mulia dari berbagai riwayat yang
pernah dikatakan oleh para sahabat.
1. Teguh Pendirian Allah, Berani dan Tabah
2.
Adil dan Jujur
3.
Bijak dan Cerdas
4.
Sabar, Mampu Menahan Amarah dan Pengampun
5.
Kasih Sayang Rasulullah kepada Makhluk
6.
Zuhudnya Rasulullah
7.
Taat Beribadah[1]
B. Dalil dan Arti QS Al-Ahzab ayat
21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ
اللّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةُ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللّهَ وَالْيَوْمَ الْأَخِرَ
وَذَكَرَاللّهَ كَثِيْرًا
Artinya: “
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat
dan dia banyak menyebut Allah.”
Tafsir Al-Misbah
Surat Al-Ahzab ayat 21 satu ini
mengarah kepada orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi
saw. Ayat diatas menyatakan: Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah
yakni Nabi Muhammad saw. suri tauladan yang baik bagi kamu yakni bagi
orang yang senantiasa mengaharap rahmat kasih sayang Allah dan
kebahagiaan hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang
berzikir mengingat kepada Allah dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan
banyak baik dalam suasana susah maupun senang.
Bisa juga ayat ini masih merupakan
kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi
tidak mencerminkan ajaran Islam. Kecaman itu dikesankan oleh kata laqad.
Seakan-akan ayat itu menyatakan: “Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal
sesungguhnya ditengah kamu semua ada Nabi Muhammad yang mestinya kamu
teladani”.
Kata ((أسوة uswah atau iswah berarti
teladan. Pakar tafsir az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat diatas,
mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri
Rasulullah. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya
adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau
hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan
pilihan banyak ulama’.
‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad dalam
bukunya ‘Abqariyat Muhammad menjelaskan: Ada empat tipe manusia, yaitu
Pemikir, Pekerja, Seniman, dan yang jiwanya larut dalam ibadah. Jarang
ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi
dua dari keempat tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri
sesorang. Namun yang mempelajari pribadi Rasul akan menemukan bahwa keempatnya
bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau.
Berkumpulnya keempat tipe dalam kepribadian Rasul ini, dimaksudkan agar
seluruh manusia dapat meneladani sifat-sifat terpuji Rasul.[2]
tafsir Al
Azhar
Dalam Perang Ahzab (Khandaq), kondisinya mencekam.
Banyak kaum muslim yang merasa gentar karena besarnya kekuatan musuh. Ummu
Salmah (moga-moga ridha Allah terhadapnya), isteri Rasulullah saw. yang telah
banyak pengalamannya sebagai isteri dari Rasulullah saw., yang turut
menyaksikan beberapa peperangan yang dihadapi Rasulullah pernah mengatakan
tentang hebatnya keadaan Kaum Muslimin ketika peperangan Khandaq itu.
Beliau berkata: "Aku telah menyaksikan di samping
Rasulullah saw. beberapa peperangan yang hebat dan ngeri, peperangan di
Almuraisiya', Khaibar dan kami pun telah menyaksikan pertemuan dengan musuh di
Hudaibiyah, dan saya pun turut ketika menaklukkan Mekkah dan peperangan di
Hunain. Tidak ada pada semua peperangan yang saya turut menyaksikan itu yang lebih
membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami-kami jadi takut, melebihi peperangan
Khandaq.
Karena kaum Muslimin benar-benar terdesak dan
terkepung pada waktu itu, sedang Bani Quraizhah (Yahudi) tidak lagi dipercaya
karena sudah belot, sampai Madinah dikawal sejak siang sampai waktu Subuh,
sampai kami dengar takbir kaum Muslimin untuk melawan rasa takut mereka. Yang
melepaskan kami dari bahaya ialah karena musuh-musuh itu telah diusir sendiri
oleh Allah dari tempatnya mengepung itu dengan rasa sangat kesal dan sakit
hati, karena maksud mereka tidak tercapai". Demikian riwayat Ummu Salmah.
Namun, di
dalam saat-saat yang sangat mendebarkan hati itu, contoh teladan yang patut
ditiru, tidak ada lain, melainkan Rasulullah Saw sendiri: "Sesungguhnya
adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik". Memang ada
orang yang bergoncang fikirannya[3]
Tafsir Al-Maraghi
Sesudah Allah menrinci keadaan
orang-orang munafik dan membeberkan kerendahan sifat pengecut mereka yang besar
itu, lalu Dia mencela mereka dengan sangat. Celaan itu diungkapkan oleh Allah
dengan cara memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa telah ada di dalam diri
Rasulullah pelajaran yang baik, senadainya mereka mau mengambil pelajaran, dan
teladan yang baik seandainya mereka mau mencontohnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab
ayat 21 ini menunjukkan bahwa sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan
yang baik itu telah dihadapan kalian, seandainya kalian menghendakinya. Yaitu
hendaknya kalian mencontoh Rasulullah saw. Didalam amal perbuatannya, dan
hendaknya kalian berjalan sesuai dengan petunjuknya, sendainya kalian benar-benar
menghendaki pahala dari Allah serta takut akan azab-Nya di hari semua orang
memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali
amal shaleh yang telah dilakukan seseorang (pada hari kiamat). Dan adalah
kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak,
maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat
kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.[4]
C. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Jadikan
Nabi Muhammad sebagai idola yang pertama.
2. Ingat
keteladanan akhlak Rasul dalam setiap bertindak.
3. Berakhlak
baik secara perkataan maupun perbuatan.
4. Tarapkan
akhlak mahmudah dan tinggalkan akhlak madhmumah.
D. Aspek Tarbawi
1.
Jadikan Nabi Muhammad sebagi sentral suri tauladan dalam segala hal terutama
dalam soal agama dan berakhlak.
2.
Seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya dan bagi
masyarakat sekitarnya.
3.
Seorang guru harus memiliki karakter pemikir, pekerja, multitelent, dan
taat beribadah.
4.
Orang yang mengaharap rahmat dan kebaikan di hari kiamat sudah sepatutnya
mengikuti suri tauladan Rasulullah dan banyak berdzikir kepada Allah.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Nabi
Muhammad Saw. merupakan teladan yang baik bagi umat Muslim di sepanjang
sejarah, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat, sebagai pelita yang
menerangi, bagai purnama yang memberikan petunjuk. Allah juga meletakkan dalam
personalitas Rasulullah gambaran sempurna untuk metode Islami, agar menjadi
gambaran yang hidup dan abadi bagi generasi-generasi umat selanjutnya dalam
kesempurnaan akhlak dan universalitas keagungannya.
1. Teguh
Pendirian Allah, Berani dan Tabah
2.
Adil dan Jujur
3.
Bijak dan Cerdas
4.
Sabar, Mampu Menahan Amarah dan Pengampun
5.
Kasih Sayang Rasulullah kepada Makhluk
6.
Zuhudnya Rasululla
7.
Taat beribadah
Dari tiga tafsir (Al-Misbah, Al-Azhar,dan Al-Maraghi) berintikan mengenai
perintah untuk menjadikan Nabi saw sebagai pusat rujukan utama dalam
ke-suri-tauladan-an. Baik itu dari segi agama, akhlak, cara hidup, semangat,
maupun kearifan Beliau. Selain itu juga agar kita banyak berdzikir kepada Allah
SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1992. Terjemah Tafsir
Al-Maraghi 21. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Dosen FITK UIN-SU Medan, “POTRET RASULULLAH SEBAGAI
PENDIDIK”. J u r n a l A N S I R U. Vol 1. No 1. Medan 2017
Hamka, Tafsir Al-Azhar 1982 . Surabaya:
Yayasan Latimojong.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an). Jakarta: Lentera Hati
[1]
Dosen FITK UIN-SU Medan, “POTRET RASULULLAH SEBAGAI PENDIDIK”. J u r n a l A
N S I R U. Vol 1. No 1. Medan 2017
[2][2]
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an),
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 242-244
[3]
Hamka, Tafsir Al-Azhar. (Surabaya: Yayasan Latimojong.1982). hlm
203.
[4] Ahmad
Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi 21, (Semarang: PT.
Karya Toha Putra Semarang, 1992), hlm 227
Tidak ada komentar:
Posting Komentar