OBYEK PENDIDIKAN INDIRECT
"KAUM MUSLIMIN UMAT TERBAIK"
QS. AL-IMRAN, 3 : 110-112
Imaduddin Fatchullah
NIM. (2117345)
Kelas L
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar berpegang teguh
kepada tali Allah, dan mengingatkan meraka akan nikmat-nikmat yang telah
dilimpahkan kepada mereka untuk melunakkan hati mereka pada ukhuwah islamiyah,
lalu Allah memperingatkan mereka jangan sampai seperti orang-oran ahlul kitab
yang selau menantang dan berbuat maksiat. Sekaligus, Allah mengancam mereka
bila berbuat begitu dengan siksaan yang pedih.
Mengingat keadaan umat islam yang diciptakan sebagai sebaik-baik umat sudah
seharusnya hal-hal yang menguatkan panggilan mereka ini jangan terlepas dari
diri mereka, karena hal ini adalah keistimewaan dari umat islam, hal ini tidak
akan bisa dicapai melainkan dengan jalan memelihara (mengikuti)
perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-laranganya.
Allah telah memberikan keistimewaan pada umat islam bila umat islam
melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dan Allah juga memuji umat islam bahwa
umat islam adalah umat yang terbaik yang dilahirkan didunia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Hakikat tentang Ummat ?
2. Apa Dalil Kaum Muslimin Ummat
Terbaik ?
3. Bagaimana Ummat Islam membangun Peradaban ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Hakikat Ummat terbaik.
2. Untuk mengetahui dalil tentang Kaum
Muslimin Ummat Terbaik.
3. Untuk mengetahui Ummat Islam membangun Peradaban.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat
Ummat
Manusia adalah salah satu makhluk
ciptaan Allah SWt yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi.
Manusia juga dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya
dibandingkan makhluk Allah SWT bahkan Allah menyuruh para malaikat untuk
bersujud kepada Adam Alaihi salam. Masyarakat barat memiliki pandangan bahwa
manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga serta dibekali dengan akal
dan pikiran. Lalu bagaimanakah hakikat manusia dalam pandangan islam? Berikut
penjelasannya.
Dalam agama
islam, ada enam peranan yang merupakan hakikat diciptakannnya manusia. Berikut
ini adalah dimensi hakikat manusia berdasarkan pandangan agama islam
1. Sebagai
Hamba Allah
Hakikat
manusia yang utama adalah sebagai hamba atau abdi Allah SWT. Sebagai seorang
hamba maka manusia wajib mengabdi kepada Allah SWT dengan cara menjalani segala
perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sebagai seorang hamba, seorang
manusia juga wajib menjalankan ibadah seperti shalat wajib, puasa ramadhan
(baca puasa ramadhan dan fadhilahnya),
zakat (baca syarat penerima zakat
dan penerima zakat),
haji (syarat wajib haji)
dan melakukan ibadah lainnya dengan penuh keikhlasan dan segenap hati
sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus …,”
(QS:98:5).
2. Sebagai
al- Nas
Dalam al-
Qur’an manusia juga disebut dengan al- nas. Kata al nas dalam Alquran cenderung
mengacu pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lain atau dalam
masyarakat. Manusia sebagaimana disebutkan dalam ilmu pengetahuan, adalah
makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut
“Hai
sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada
keduanya Alah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta
satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu.” (QS: An Nisa:1).
“Hai manusia
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah
adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal.” (QS: Al Hujurat :13).
3. Sebagai
khalifah Allah
Telah
disebutkan dalam tujuan penciptaan manusia bahwa pada hakikatnya, manusia
diciptakan oleh Allah SWt sebagai khlaifah atau pemimpin di muka bumi. “Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”(QS Shad:26).
Sebagai
seorang khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai pertanggung
jawabannya kelak di hari akhir.
4. Sebagai
Bani Adam
Manusia
disebut sebagai bani Adam atau keturunan Adam agar tidak terjadi kesalahpahaman
bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang disebutkan oleh
Charles Darwin. Islam memandang manusia sebagai bani Adam untuk menghormati
nilai-nilai pengetahuan dan hubungannya dalam masyarakat. Dalam Alqur’an Allah
SWT berfirman.[1]
“Hai anak
Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.
Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga
mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu ditipu oleh syaitan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga.” (QS : Al
araf 26-27).
5. Sebagai
al- Insan
Tidak hanya
disebut sebagai al nas, dalam Alqur’an manusia juga disebut sebagai Al insan
merujuk pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan pengetahuan serta
kemampuannya untuk berbicara dan melakukan hal lainnya. Sebagaimana disebutkan
dalam surat Al hud berikut ini
“Dan jika
Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari
padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS: Al
Hud:9).
6. Sebagai
Makhluk Biologis (al- Basyar)
Manusia juga
disebut sebagai makhluk biologis atau al basyar karena manusia memiliki raga
atau fisik yang dapat melakukan aktifitas fisik, tumbuh, memerlukan makanan,
berkembang biak dan lain sebagainya sebagaimana ciri-ciri makhluk hidup pada
umumnya. Sama seperti makhluk lainnya di bumi seperti hewan dan tumbuhan,
hakikat manusia sebagai makhluk biologis dapat berakhir dan mengalami kematian,
bedanya manusia memiliki akal dan pikiran serta perbuatannya harus dapat
dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Segala
hakikat manusia adalah fitrah yang diberikan Allah SWT agar manusia dapat
menjalankan peran dan fungsinya dalam kehidupan. Manusia sendiri harus dapat
memenuhi tugas dan perannya sehingga tidak menghilangkan hakikat utama
penciptaannya.
B. Dalil
Tentang Kaum Muslimin Adalah Umat Terbaik
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ
الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ (110) لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلاَّ أَذىً
وَإِنْ يُقاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ (111)
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ
وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَباؤُ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ
الْمَسْكَنَةُ ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كانُوا يَكْفُرُونَ بِآياتِ اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِياءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذلِكَ بِما عَصَوْا وَكانُوا
يَعْتَدُونَ (112)
Artinya : ”Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang telah
dikeluarkan antara manusia, (karena) kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan
mencegah perbuatan yang mungkar serta percaya kepada Allah. Dan kalau sekiranya
berimanlah ahlul kitab sesungguhnya itulah yang baik bagi mereka, (tetapi)
antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik (110). Tidaklah mereka akan membahayakan kamu, kecuali menggangu (sedikit),
dan jika mereka memerangi kamu, mereka akan berbalik punggung kepada kamu
(kalah), sesudah itu mereka tidaklah akan dimenangkan (111). Mereka itu ditimpa
kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali (jika mereka berpegang) pada tali
Allah dan tali manusia. Sepantasnya mereka kena murka Allah dan ditimpa
kehinaan (kemiskinan). Yang demikian itu ialah karena sesungguhnya mereka telah
kufur kepada ayat-ayat Allahdan mereka bunuh Nabi-nabi dengan tiada kebenaran.
Demmikianlah, karena mereka telah durhaka dan melanggar peraturan (112).[2]
Pada ayat yang
telah tertulis diatas telah diperintahkan dengan nyata dan tegas supaya
dikalangan jamaah Islamiyah itu diadakan umat yang khusus menyuruhkan kabaikan,
yaitu iman, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan melarang perbuatan yang mungkar.
Ayat ini menegaskan sekali lagi hasil usaha itu yang nyata, yang konkrit. Yaitu
kamu menjadi sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan anatara manusia di dunia ini.
Dijelaskan sekali lagi, bahwa kamu mencapai derjat yang demikian tinggi, sebaik-baiknya
umat, karena kamu memenuhi ketiga syarat yaitu Amar Ma’ruf Nahi Munkar, iman
kepada Allah. Kalau yang ketiga tidak ada, niscaya kamu bukanlah umat yang
sebaik-baiknya umat, bahkan mungkin menjadi seburuk-buruknya umat.Karena itu
apabila kita membaca ayat ini, janganlah hanya memegang pangkalnya saja, lalu
membangga, sebagaimana membangganya orang Yahudi mengatakan, bahwa mereka
adalah “Kaum Pilihan Tuhan”.
Ketiga dasar yang membawa mutu kebaikan isi pada
hakikatnya adalah satu. Beriman kepada Allah adalah dasarnya yang sejati.
Apabila telah mengakui dan merasakan beriman kepada Allah, timbullah kebebasan
jiwa. Keimanan kepada Allah menghilangkan ketakutan dan dukacita menimbulkan
daya hidup. Tegasnya juga menimbulkan dinamika hidup. Itulah jiwa bebas ! Maka
dengan sendirinya kemerdekaan jiwa karena tauhid itu menimbulkan pula
kemerdekaan yang kedua, yaitu kemerdekaan kemauan, (iradat,will). Lalu beerani menyatakan pikiran-pikiran yang baik untuk
kemaslahatan umat dan kemajuan, sebab hidup lebih maju adalah tabiat
kemanusiaan. Disinilah terletak Amar Ma’ruf.
Suatu
masyarakat yang mencapai martabat setinggi-tingginya dalam dunia ini, ialah
bilamana dia mempunyai kebebasan. Dan intisari kebebasan itu ada tiga perkara :
1)
Kebebasan
kemauan (iradat). Disebut dalam bahasa Indonesia lama yaitu Karsa.
2)
Kebebasan
menyatakan pikiran. Disebut dalam bahasa Indonesia yaitu Priksa.
3)
Kebebasan jiwa dari keraguan, dan hanya satu jadi
tujuan. Disebut dalam bahasa Indonesia yaitu Rasa.
Apabila seseorang mempunyai kebebasan iradat, kemauan atau karsa, niscaya dia
berani menjadi penyuruh dan pelaksana perbuatan yang ma’ruf. Kebebasan itulah
pokok pertama bagi seorang pemimpin yang mempunyai cita hendak membawa kaumnya
kepada keadaan yang lebih baik. Sehingga masyarakat tidak membeku (statis),
bahkan berputar terus, mempunyai dinamika untuk mencapai yang lebih sempurna.
Sebab cita menimbulkan cipta.[3]
Semua orang
memikul tanggung jawab, seorang ayah terhadap anaknya, suami terhadap istrinya,
bahkan istripun terhadap suaminya, guru terhadap muridnya, imam terhadap
makmumnya, penguasa terhadap rakyatnya dan puncaknya ialah Nabi terhadap umatnya.
Kemudian
datanglah kebebasan berpikir dan kebebasan menyatakan pikiran itu, menimbulkan
keberanian menentang yang mungkar, yang salah. Mungkar artinya yang ditolak
yang tidak diterima oleh peri-kemanusiaan yang sehat.
Rantai dan
belenggu yang mengikat jiwa ialah benda. Dan benda itu pecah berderai, sebab
zarrah asalnya. Jiwa harus dibebaskan dari benda itu
dan ditunjukan kepada satu saja, yaitu pencipta
benda. Orang yang diikat dengan
benda pasti menjadi musyrik. Sebab benda itu pecah. Dan tujuan akal yang sehat
bukanlah kepada pecah, tetapi kepada Esa !
Percaya
kepada Allah itulah menumbuh-suburkan rasa tanggung jawab. Tak ada alam, baik
langit atau bumi sekalipun tempat takut, Apalagi manusia. Orang yang beriman
kepada Allah adalah berani, karena takutnya. Alangkah ganjilnya. Dia berani
menghadapi segala macam bahaya didalam hidup, karena dia takut kepada siksa
Allah sesudah mati. Dia berani mati badan karena takut nama.
Menilik ayat
ini, tidaklah terhalang bagi ahlul-kitab akan mencapai derajat sebaik-baiknya umat dikeluarkan antara
manusia, jika mereka menyuruh berbuat ma’ruf, melarang perbuatan munkar,
dan percaya kepada Allah. Walaupun mereka bukan Islam.
Kebebasan
tanpa ikatan Undang-undang dan disiplin adalah chaos, dan chaos adalah musuh kemerdekaan nomor satu. Kebebasan
diri sendiri terhenti apabila telah bertemu dengan kebebasan orang lain. Akhlak
adalah penghubung yang mutlak antara saya dengan engkau. Apabila kacau hubungan
antara saya dengan engkau, apabila kepentingan diriku lebih aku tonjolkan
daripada kepentingan engkau, dan
engkaupun menonjolkan kepentinganmu pula, maka yang naik akhirnya ialah
siapa yang kuat, bukan siapa yng benar.[4]
C. Ummat Islam
membangun Peradaban.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda dalam sebuah hadis: “Aku diutus adalah
dalam rangka memperbaiki akhlak.” Itu berarti ketika sebelum Muhammad diangkat
sebagai Rasul, masyarakat kurang berakhlak. Kalau kita rujuk kepada definisi,
peradaban adalah sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sopan santun,
budi bahasa dan kebudayaan sesuatu bangsa. Semua itu adalah bagian dari ajaran
akhlak.
Nabi Muhammad berusaha memperbaiki akhlak masyarakat jahiliyah,
sehingga menjadi masyarakat yang berperadaban. Dalam mukadimah pidato
ulama selalu menyampaikan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang telah
membawa umat ini dari alam yang gelap, jahiliyah atau zulumat, ke alam yang
berperadaban yang mencerahkan yang sering disebut ila an-nur.
Bagaimana ciri masyarakat jahiliyah? Seperti digambarkan sejarah mereka
suka bertengkar sesamanya, baik karena suku, dengan membanggakan sukunya dan
merendahkan suku lain, maupun karena merebut sumber-sumber ekonomi yang
sekarang sering disebut proyek. Pertengkaran tidak hanya adu mulut dengan
bahasa kasar, tetapi juga sampai menganiaya lawannya bahkan membunuh.
Jadi ketika itu orang-orang kaya harus ada bodyguard yang kuat, kalau tidak
akan diperas atau dirampok. Demikian juga dalam dagangnya sering tidak jujur
baik timbangannya maupun soal kualitas barang. Sisi lain mereka suka makan riba
dengan meminta bayaran lebih pada yang berutang, sehingga mengakibatkan yang
berutang semakin menderita.
Mereka suka meminum khamar, yang efeknya begitu buruk,
mulai dari kacaunya ingatan sampai pada lebih bersemangat berbuat maksiat.
Perlakuan mereka pada perempuan dengan semena-mena. Sebagian memang mereka
kawin, bahkan kawin banyak, tetapi tidak diimbangi dengan tanggungjawab untuk
keturunannya sehingga begitu banyak anak-anak mereka terlantar. Keterlantaran
anak-anak mereka termasuk dalam bidang pendidikan. Karena mereka tidak mendapat
pendidikan yang baik sehingga mereka tidak memiliki skill dalam kehidupannya,
maka mereka sering jadi buruh kasar saja bahkan menjadi budak.
1.
Kesamaan
Akidah
Kehadiran ajaran Islam adalah untuk memperbaiki itu semua. Sejak awal Nabi
mempersaudarakan semua manusia. Persatuan bukan lagi berdasarkan suku, tetapi
atas kesamaan akidah. Siapa saja yang sudah mengucap kalimat tauhid: “Aku
bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusanNya”, maka mereka semua
adalah saudara, suku apapun atau dari manapun dia datang.
Islam menganjurkan agar umat bersikap jujur dan selalu
amanah jika dipercaya. Sudah sangat populer hadis Nabi yang menyatakan bahwa
ada tiga hal yang dapat digolongkan sebagai orang munafik yaitu apa bila
berbicara ia berdusta, bila dia berjanji dia ingkar, dan apa bila dipercaya dia
berkhianat.
Islam mengajarkan umat menghargai sesama manusia, bahkan dianjurkan saling
kasih sayang. Karena itu, memeras, merampas, merampok adalah tindakan yang
sangat dicela. Karena masyarakat yang ada sekeliling Nabi ketika itu masih
jahiliyah, maka perintah pertama Allah kepada Nabi Muhammad adalah iqra’.
Kalimat iqra’ pada wahyu pertama yang diartikan membaca, maksudnya adalah
mulai dari membaca, menelaah, menganalisis, mengodifikasi dan menulis kembali.
Dari sumber wahyu inilah yang banyak memberi inspirasi para ulama dulu
mengembangkan peradaban Islam.
Dengan sifat-sifat yang dianjurkan Islam ditambah dengan anjuran belajar,
umat Islam pada peride awal telah memiliki peradaban yang unggul. Dalam sejarah
diceritakan sekian ratus tahun umat Islam menjadi umat yang dapat dibanggakan,
baik dari sisi budi pekertinya maupun dari sisi karya nyatanya yang dapat
menyejahterakan masyarakat dunia.
Katika itu sering sebuah negara yang kadang-kadang penduduknya mayoritas
non muslim, tapi pemegang tampuk pimpinannya adalah ulama Islam. Seperti juga
Nabi Muhammad di awal membangun Negara Madinah, kebanyakan warganya adalah non
muslim, tetapi mereka memberi kepercayaan kepada Muhammad sebagai pemimpin
negaranya.
Apa yang dipraktikkan Nabi sebagai seorang kepala negara ketika itu,
mengagumkan semua bangsa. Mulai dari karakter kepemimpinannya yang cinta rakyat
tanpa pilih bulu, sampai sistem pengelolaan negara yang adil dan beradab dan
penuh dengan semangat pengabdian. Tidak ada ilmuwan yang jujur yang tidak
mengaku kesuksesan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban manusia yang
mengagumkan itu, bahkan ilmuwan non muslim sekalipun.
Sejarah juga mencatat ada masa-masa kemunduran Islam. Ini dikarenakan
umatnya yang sudah meninggalkan inti ajaran Islam yaitu bersungguh-sungguh
dalam belajar untuk menguasai ilmu sesuai perkembangan zaman. Inilah yang
dikumandangkan oleh ulama-ulama kita selama ini, hendaknya umat Islam sekarang
berjihad untuk menguasai kembali ilmu pengetahuan dan berijtihad untuk
inovasi-inovasi baru.[5]
Tetapi kita jangan lupa seperti anjuran Alquran, iqra’ bismi Rabbikalladzi
khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Maksudnya mencari
ilmu atas nama Allah. Semua ilmu yang kita miliki harus karena Allah, yaitu
didasarkan pada iman. Karena ilmu tanpa didasari oleh iman akan berbahaya.
Mengutip pendapat Quraish Shihab: “Iman tanpa ilmu bagai pelita di tangan bayi,
tetapi ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.”
Daftar
Pustaka
Hamka.1983.,Tafsir Al Azhar Juz IV.Jakarta: Pustaka
Panjimas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar